
DERA
Telepon dari Mama mengabarkan kalau Kimmora sudah melahirkan anak pertamanya. Tentu saja kabar ini sangat membahagiakan, aku jadi tidak sabar ingin bertemu keponakanku itu.
Kak Zayn masih sibuk menelepon, kini lawan bicaranya di telepon adalah Asisten Kaisar. Padahal, dia berada di kamar sebelah, tapi hujan deras menghalangi kami untuk keluar.
"Kita jadi pulang?" tanyaku setelah Kak Zayn mengakhiri panggilannya.
"Iya, lusa. Kamu nggak apa-apa, 'kan?" Kak Zayn balik bertanya. Sekarang, ia berjalan mendekat, menghampiriku yang duduk di tepi ranjang.
"Sebenernya sih aku masih pengen di sini, tapi aku juga pengen tengokin ponakan aku," jawabku sambil tersenyum lebar. Bertemu bayi memang membuatku bahagia, mungkin karena aku tidak punya adik jadi aku merasa se-antusias itu dengan bayi.
"Ponakan? Anak siapa?" tanya Kak Zayn yang kini merangkulku, bermanja-manja di pundakku sambil mengendus-endus leherku. Mungkin sikap suami yang seperti ini yang membuat para istri suka sekali yang namanya honey moon.
"Anaknya Kak Arsen sama Kimmora, aku pengen nengokin makanya aku nggak marah," jawabku, lalu mengelus rambutnya yang mulai panjang. "Oh iya, Kak Zea mau nikah?"
Kak Zayn mendongak, sudut bibirnya yang terangkat sangat jelas menunjukkan dia tidak suka dengan kabar yang baru saja disampaikan papa mertua. Ia mengembuskan napas dengan kasar.
"Baru mau lamaran, makanya kita pulang, masa kembaran aku lamaran, akunya nggak datang." Kak Zayn menatapku, matanya berkedip-kedip dengan cepat membuatku merasa gemas, tapi aku tahan.
"Waktu kita lamaran, Zayyan juga nggak datang," gumamku yang sepertinya masih bisa didengar oleh Kak Zayn.
"Iya juga sih. Eh tapi, kalau dia datang, emangnya kamu masih mau terima lamaran aku?" Ia mendekatkan wajahnya tpat di depan wajahku, sampai-sampai rasanya tidak ada jarak di antara kami.
"Aku sukanya sama Kak Zayn bukan sama Zayyan, kenapa bisa berpikiran gitu?"
"Ya kali aja. Dulu kamu kan kayak terpaksa nikah sama aku," kata Kak Zayn.
"Sebenarnya, aku tu emang pengen nikah sama Kakak, tapi kan dengan cinta gitu, bukan karena salah paham." Rasanya sedih juga mengingat alasan kami menikah.
"Tapi sekarang kan pernikahan kita penuh dengan cinta, kau cinta aku, dan aku sangat cinta sama kamu." Kak Zayn menyeringai lalu tiba-tiba menciumku.
Serangan mendadak itu membuatku tidak siap dan malah jatuh ke belakang tepat di atas kasur empuk yang sudah bersih dari kelopak mawar.
Kak Zayn meraba pundak hingga dadaku, membuatku merasa ingin lebih dari sekedar ciuman. Aku menuntun tangannya untuk mere*mas bukit kenyalku. Membuat Kak Zayn melepaskan ciuman kami.
"Matiin ponsel dulu biar nggak ada yang ganggu," usulku yang langsung membuat Kak Zayn mengangguk setuju.
Aku menon-aktifkan ponselku, sementara Kak Zayn juga melakukan hal yang sama dengan ponselnya. Yang sebelumnya sudah gagal, kalau kali ini gagal kan bahaya.
Cuaca di luar masih hujan, walau tidak sederas tadi, tapi cukup pas lah untuk kami memadu kasih.
Setelah mematikan ponselnya, Kak Zayn kembali mendekatiku. Ia tersenyum dan melepaskan seluruh pakaiannya, hingga Juna yang belum sepenuhnya berdiri itu terpampang jelas di hadapanku.
"Juna belum beneran bangun deh, apa perlu aku bangunin dulu?" usulku sambil membelai Juna dengan lembut.
"Itu memang tugas kamu membangunkannya, Queen."
Panggilan aneh itu, entah kenapa aku sangat menyukainya. Membuatku merasa jadi wanita istimewa di hatinya.
Dengan senang hati aku menggenggam Juna yang ukurannya luar biasa. Tanganku memaju mundurkan Juna dengan lembut, sesekali memijatnya, membuat Juna berubah menjadi tegak, dan berdiri dengan angkuh.
Aku tertawa karena berhasil membangunkannya, tapi tiba-tiba Kak Zayn memegang daguku dan memaksaku untuk membuka mulut. Tiba-tiba ia memasukkan Juna ke dalam mulutku yang tentu saja membuatku kaget.
"Ah, enak banget rasanya. Kamu emang paling bisa bikin aku seneng, My Queen." Kak Zayn menggerakkan Juna maju-mundur di mulutku yang terasa penuh. Benar-benar penuh.
Setelah puas, Kak Zayn membuka seluruh pakaianku. Ia melakukan semua hal yang membuatkuterbang melayang, seperti mere*mas, menyesap dan menggesekkan Juna ke pintu surga milikku.
"Aku akan mulai mencangkul sawah, berdoalah semoga apa yang aku tanam bisa menghasilkan kebahagiaan untuk kita."
♥️♥️♥️
Dahlah, aku kan polos. Bayangin sendiri aja ya, hihihi.
Jangan lupa like, komen, hadiah sama vote nya.
Selamat hari senin gaes 🤭🤭🤭
Sampai ketemu lagi 😘😘😘