
Ditatap mesra begini rasanya jantungku benar-benar tidak aman. Jika diibaratkan, mungkin rasanya seperti popcorn yang meletup-letup saat dimasak. Mungkin ini juga yang dinamakan nikmat pernikahan!
“Sekarang?” tanyaku sambil cengar-cengir.
“Nggak, Ra. Lebaran monyet.” Kak Zayn melepaskan cengkramannya di lenganku.
Ia menoleh pada laptopnya yang masih menyala, lalu sibuk dengan pekerjaannya.
Aku yang bingung harus berbuat apa langsung berdiri meninggalkannya. Rencananya, aku akan menonton tv di ruang tv, karena kalau menonton di kamar pasti akan mengganggunya bekerja.
Baru saja membuka pintu untuk keluar kamar, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki orang yang berlari di belakangku, dan kemudian menangkap tubuhku. Kak Zayn yang sudah berhasil mencegahku keluar kamar, langsung menggendongku seperti penculik yang ada di drama-drama.
“Lepasin, Kak!” Aku berontak karena perlakuan Kak Zayn yang sangat aneh ini.
“Mau kabur ke mana sih? Nggak tau apa aku udah nunggu dari tadi,” omelnya yang akhirnya merebahkan tubuhku di atas kasur.
Aku menatap Kak Zayn yang tengah berada di atasku. “Aku pikir Kak Zayn lagi sibuk sama kerjaan.”
“Aku hanya membereskannya,” jawabnya cepat.
"Em, aku cuma ...."
Secara mendadak Kak Zayn mencium bibirku, membuatku tidak berkutik karena perlakuannya. Selalu saja begini, kelembutan sentuhannya selalu membuatku tak berdaya, dan memasrahkan semuanya pada suami yang sangat kucintai ini.
Tanpa banyak berkata, Kak Zayn berhasil melepaskan seluruh kain yang melekat dalam tubuh kami.
Ia tidak langsung mengarahkan Juna ke rumahnya, tapi ia hanya diam menatapku, membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
"Kenapa?" tanya setelah sekian menit ia hanya diam.
"Aku sedang menghafalkan wajah cantikmu sebelum dan sesudah bertemu Juna."
Hatiku berdebar-debar mendengar kata-kata absurd yang keluar dari mulut laki-laki ini. Bayangkan saja, kami tengah bertelan*jang bulat dan Juna sudah berdiri kokoh tak tertandingi, tapi Kak Zayn hanya mematung sambil senyum-senyum.
Kudengar Kak Zayn terkekeh, detik kemudian aku merasa sesuatu menyentuh area bawah sana. Aku sangat yakin itu adalah Juna yang berusaha memasuki rumahnya.
Dengan sekali dorong, Juna berhasil masuk, dan Kak Zayn menarik selimut yang menutup wajahku.
"Kenapa kamu malu? Bukankah kita sudah sering melakukannya?" Kak Zayn bergerak perlahan membuat Juna keluar dengan bebas karena jalannya yang licin.
Aku memilih bungkam dan menikmati permainan Kak Zayn yang semakin lama semakin bergerak cepat.
Sampai akhirnya, Kak Zayn menyemprotkan cairan yang membasahi rahimku. Ia ambruk di atasku dengan napas tersengal-sengal.
Aku menahan berat tubuhnya yang juga membuat napasku megap-megap.
"Aku berharap kebahagiaan kita akan segera lengkap, Ra. Dengan keturunanku yang akan tumbuh dalam dirimu." Kak Zayn melepaskan Juna lalu tidur miring dan memelukku.
Aku dan Kak Zayn sudah hampir tiga bulan menikah, tapi aku masih belum ada tanda-tanda hamil juga.
"Aku juga berharap begitu, aku ingin seperti Kak Yumna dan kimmora yang sudah merasakan kehamilan." Aku memiringkan tubuh, lalu Kak Zayn meraih tubuhku ke dalam pelukannya.
Kami saling berhadapan dan menatap satu sama lain.
"Kita akan terus berusaha, Ra. Tidurlah, sudah malam." Kak Zayn mengusap rambutku dan mengecup keningku.
♥️♥️♥️
Jangan komplen kurang hot, di sini lagi mendung, makanya kurang hot. Oke. yang penting maksudnya paham kan 🤣🤣🤣
Aku up 1 bab lagi, tapi janji bab ini juga harus dilike. Kalau nggak, aku nggak mau doble up lagi besok-besok 😂😂
Jangan lupa ritualnya.
Sampai ketemu lagi 😘😘