
Setelah kejadian tadi siang, aku masih merasa sangat kesal dengan Kak Zayn. Ia tiba-tiba mencium dan menyentuh tubuhku seolah ingin meminta haknya sebagai suami. Bukankah dia bilang tidak akan melakukannya tanpa cinta? Lalu tadi itu apa?
Saat ini, Kak Zayn masih sibuk dengan laptopnya, sepertinya menjadi bos besar sepertinya memang sangat-sangat sibuk. Lihat saja! Tangan kanan itu terus saja bergerak lincah memainkan mouse, sedangkan tangan kirinya sibuk mencocokkan kertas dengan layar laptopnya. Dia sedang apa sih?
Satu jam berlalu, Kak Zayn masih saja tidak merubah posisinya. Sebenarnya aku ingin bertanya, dia akan tidur di mana, tapi karena dia hanya diam dan aku masih kesal dengannya, aku mengurungkan niatku. Masa bodoh lah dia mau tidur di mana, lebih baik aku siapkan saj selimutnya.
Aku sengaja menaruh selimut tebal di atas bantal miliknya. Jadi, kalau Kak Zayn mengambil bantal nanti, dia bisa sekalian mengambil selimutnya, terserah dia mau tidur di mana, itu bukan urusanku lagi.
Aku segera menarik selimut milikku sendiri dan tidur membelakangi Kak Zayn. Malam kedua menjadi suami istri, kami seperti musuh yang terpaksa tinggal satu atap. Aku yakin di apartemen nanti kita akan tidur terpisah.
*
*
*
Aku terbangun saat merasakan pegal di leher dan tangan kananku, tapi rasa kantuk dan juga perasaan nyaman membuatku malas membuka mata. Embusan napas yang teratur menerpa rambutku, dan tangan kekar mendekap tubuhku sehingga membuatku merasa hangat di kamar berpendingin udara ini. Rasanya aku seperti dipeluk suamiku saat tertidur. Apa ini mimpi?
Tangan kanan itu bersentuhan langsung dengan kulit punggungku. Apa ini tangan Kak Zayn? Mataku seketika langsung terbuka saat menyadarinya.
Benar! Saat mataku terbuka, aku melihat sosok laki-laki menyebalkan itu tengah lelap dalam tidurnya, tangannya mendekap erat tubuhku. Pantas saja aku merasa pegal.
Aku menyentuh pipinya yang mulus itu dengan telunjukku. Namun, ia malah menggeliat pelan dan tangan kanannya mengusap punggungku di balik piyama.
Oh my God! Aku lupa kalau aku tidak memakai bra. Dari dulu aku memang tidak suka tidur memakai bra, dan sialnya aku lupa kalau sekarang ada Kak Zayn juga yang tidur di kamarku.
"Kamu udah bangun?" Suara itu membuatku sangat terkejut.
Kulihat pelakunya masih memejamkan mata. Tangannya juga tidak ada tanda-tanda akan lepas dari tubuhku.
"Kak Zayn juga udah bangun?" Aku balik bertanya.
"Hemmm." Matanya masih terpejam seolah ia tak ingin bangun dari tidurnya.
"Kenapa Kak Zayn peluk aku?
"Karena kamu menggigil tadi malam," jawab Kak Zayn yang akhirnya membuka mata. "Lagi pula aku itu suamimu."
Aku mencerna apa yang baru saja dikatakan Kak Zayn. Memang sih dia suamiku, tapi bukankah dia tidak menyukaiku? Kenapa dia memperlakukanku layaknya seorang istri?
"Sana bangun terus mandi, habis itu masak, aku mau sarapan masakan kamu!" kata Kak Zayn sambil mengusap punggungku sebentar, lalu mengeluarkan tangannya dari dalam piyamaku.
Dia bilang ingin masakanku? Apa sebenarnya dia ingin mengetesku? Baiklah, aku akan membuatkan sarapan untukmu, supaya kamu tahu aku bisa memasak!
"Kamu kalau tidur emang nggak suka pakai bra atau emang sengaja mau bangunin si Juna?" tanya Kak Zayn yang masih memperhatikanku mengikat rambut.
"Aku emang nggak suka pakai bra, lagian siapa Juna? Kenal juga nggak," jawabku sambil berbalik badan lalu meninggalkan Kak Zayn yang kulirik sedang senyum-senyum.
*
*
*
Selesai mandi, aku turun ke dapur untuk memasak, ternyata Mama sudah membuatkan sarapan nasi goreng seafood untuk semua orang. Awalnya aku tidak ingin masak karena sudah ada makanan, tapi aku ingat betapa menyebalkannya Kak Zayn. Akhirnya, aku membuatkannya omelet saja, sedangkan aku akan makan nasi goreng buatan Mama.
Semua orang sudah siap di meja makan, makanan juga sudah tersaji.
"Kenapa piring punyaku beda?" tanya Kak Zayn yang membuat semua mata melihat ke piringnya.
"Spesial pake telur, kan maunya masakan aku. Itu omeletnya buatan aku" jawabku apa adanya. Memang kenyataannya begitu, aku hanya membuatkan omelet untuk Kak Zayn saja.
"Iya, tadi waktu Dera turun, masakan mama sudah matang." Mama membela putri satu-satunya. Kak Zayn kamu kalah, kan?
Kak Zayn hanya diam, mungkin dia merasa tidak enak karena hanya dia mendapatkan makanan spesial.
"Dera, lain kali kamu bangun lebih pagi dan perhatikan sarapan suamimu!" kata Papa yang menasehatiku. Aku mengangguk sambil tersenyum pada Papa.
"Dera kan jarang banget kesiangan, Pa. Hari ini mungkin dia sangat lelah, maklumlah kan pengantin baru." Lagi-lagi Mama membelaku.
Papa dan Kakek menunduk, mungkin menahan tawa mereka. Pengantin baru apanya, tidur cuma pelukan aja.
♥️♥️♥️
...Sabar, nanti kalau udah kontrak aku kenalin sama Juna..nggak cuma tidur pelukan kok.. nanti ya sabar.. tunggu level naik 🤣🤣 (ketawa jahat)...
selamat pagi, selamat beraktifitas.
mau nginfo gaess, Bang Arsen agak telat ya nanti. mon maap. 🙏🙏🙏
Gimana Bang, sarapan masakan istri 🥰🥰
Sampai ketemu lagi gaess 😘😘😘