
Hari demi hari, bulan demi bulan pun ikut berganti, bahkan tanpa terasa, setahun sudah terlewati. Aku dan Kak Zayn sudah merayakan tahun pertama pernikahan kami beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, sampai hari ini aku belum juga hamil. Tadi pagi, aku kembali mandapatkan tamu bulananku, walau tidak sederas biasanya.
Datang bulan kali ini sedikit berbeda, aku merasa sangat pusing dan juga demam. Aku tidak menghubungi Kak Zayn karena tidak ingin mengganggunya yang sedang bekerja. Lebih baik aku istirahat saja di kamar.
*
*
*
Suara pintu yang terbuka, membangunkan tidurku yang kurang nyenyak. Tanpa menoleh, aku langsung bersuara karena kupikir itu pasti Bi Sari yang lagi-lagi menawarkan makan. Tidak tahu apa kalau perutku tidak nyaman?
"Udah deh Bi, aku nggak mau makan, bawa turun aja!" titahku lalu menarik selimut sampai menutupi kepalaku.
"Kamu belum makan dari siang?" Suara Kak Zayn membuatku terpaksa membuka selimut.
Ia berdiri sambil melepaskan jas dan dasinya. Tumben sekali dia sudah pulang jam segini.
"Kenapa nggak makan? Kamu sakit?" Ia duduk di sebelahku, lalu menempelkan tangannya ke dahiku. "Kamu demam?"
Aku hanya mengangguk. Lalu Kak Zayn langsung berteriak memanggil Bi Sari dan Mang Ujang. Sesaat kemudian, Kak Zayn sudah menggendongku turun menuju mobil.
"Aku nggak apa-apa cuma demam biasa."
"Aku nggak mau tahu, biar dokter yang bilang itu demam biasa atau bukan," kata Kak Zayn. "Antar ke rumah sakit sekarang, Mang."
Mobil pun melaju meninggalkan rumah kami, dan mengantarkan kami sampai ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Kak Zayn berteriak dan beberapa perawat keluar membawa brangkar. Aku dibawa menuju unit gawat darurat yang tidak jauh dari tempat mobil berhenti.
Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter jaga di IGD bertanya padaku, "Apa Anda sedang hamil?"
Pertanyaan yang selalu membuatku terbawa perasaan, tapi karena aku sudah mulai kebal, aku hanya menggeleng pelan. "Tadi pagi baru saja kedatangan tamu," jawabku lemah.
"Kami harus memastikan, supaya kami tidak melakukan kesalahan karena efek obatnya," kata dokter itu lagi.
"Tes saja, Dok biar yakin dan lebih tenang nantinya," kata Kak Zayn.
"Apanya sih yang mau dites, aku tu udah muak sama tes tes itu," tolakku. Beberapa kali melakukan tes dan hasilnya selalu negatif membuatku enggan lagi berhubungan dengan alat itu. Apalagi tamu bulananku memang tidak teratur datangnya.
"Kamu pipis aja, biar aku yang tes," kata Kak Zayn yang membuatku mengerutkan alis.
"Terserahlah."
Seorang perawat memberikan alat tes dan juga cawan untuk menampung air seni. Kak Zayn langsung menerimanya dan segera menuntunku menuju kamar mandi.
Tunggu! Kenapa dia menarik ujung bibirnya? Ia senyum-senyum begitu, kenapa?
"Kalau garis dua berarti positif, 'kan?" tanyanya sambil menyodorkan benda pipih itu padaku. Dua garis merah terlihat sangat jelas di sana.
"Aku hamil?"
Kak Zayn langsung memelukku. "Pasti iya, aku udah yakin soalnya."
"Yakin gimana? Tadi pagi aja ada darahnya kok, ya emang nggak sebanyak biasanya, menstruasi aku itu bermasalah, Kak." Aku tidak mau terlalu berharap, setahun menikah dan selalu gagal saat melakukan tes, membuatku tidak percaya diri lagi.
"Jadi, aku kan mimpi dapat tiga burung, dan tiga-tiganya itu jinak banget, aku pegang-pegang semuanya mereka nurut. Kata Mang Ujang, itu bisa jadi tanda kalau kita akan punya anak," kata Kak Zayn yang membuatku ternganga. "Ayo kita periksakan ke dokternya." Kak Zayn kembali menggendongku keluar dari kamar mandi.
Kepalaku masih pusing dan sekarang semakin terasa sakit memikirkan hubungan antara burung dengan kehamilan.
"Dokter, hasilnya ini. Cepat lakukan sesuatu, apa istriku benar-benar hamil!" titahnya setelah membaringkanku ke ranjang.
"Biar Dokter Nayla yang periksa. Suster tolong antarkan Nyonya Dera ke ruangan Dokter Nayla!"
Kemudian, aku dibawa ke ruangan dokter kandungan yang ada di rumah sakit ini. Kak Zayn sendiri yang mendorong kursi rodaku.
Setelah sampai di ruangannya, dokter cantik itu menyambut kedatangan kami. "Selamat sore, Pak, Bu."
"Sore, Dok. Tolong periksa apakah istri saya beneran hamil!"
Setelah berbincang secukupnya, dokter yang bernama Nayla itu mulai melakukan pemeriksaan padaku. Ia mengoleskan sesuatu ke perutku lalu menggerakkan alat yang terhubung langsung ke monitor kecil seperti komputer, sementara hasilnya dipantulkan dengan proyektor sehingga aku dan Kak Zayn bisa melihat hasilnya dengan jelas.
"Selamat, memang benar Ibu Dera sedang hamil, usianya baru lima minggu."
Mendengar kata 'hamil', aku masih merasa syok. Sementara itu, Kak Zayn menciumi tanganku sambil memperhatikan penjelasan Dokter Nayla.
"Tapi, tadi pagi saya ada flek, Dok."
"Oh, itu wajar, flek itu bisa menjadi tanda awal kehamilan. Yang penting jaga pola makan, istrahat yang cukup dan jangan stres."
"Tu kan, nggak sia-sia aku makan toge setiap hari."
❤❤❤
Jangan lupa ritualnya