
Putri
Saat tahu datang bulan, aku merasa sangat kecewa. Harapanku memiliki anak bersama suamiku harus kembali tertunda. Apa mungkin kami harus kembali berjuang untuk mendapatkan dua garis merah di testpeck.
"Dua minggu lagi kuliah udah mulai libur, 'kan?" tanya Kak Zayyan yang kembali sibuk memeriksa laporan keuangan bengkelnya.
Suamiku memang sangat kaya. Dia putra kedua yang akan mewarisi perusahaan multi nasional bersama kakaknya, Kak Zayn. akan tetapi, suamiku tidak pernah mau menerima tanggung jawab sebesar itu. Ia lebih memilih bekerja di bengkel yang juga cukup besar milik papanya yang kini menjadi milik Kak Zayyan.
"Iya, aku mau mulai nyusun skripsi sih."
Aku berjalan mendekat ke meja Kak Za yang memajang foto pernikahan kami, ada foto berukuran lebih kecil yang ditempatkan dalam satu bingkai. Foto lamaran kami.
"Kamu terharu ya aku pasang foto kita di kantor?" tanya Kak Za. Kulihat mata dan tangannya masih sibuk memegang pulpen dan kertas laporan.
"Ih, siapa juga yang terharu. Aku tuh cuma heran, kok yang dipasang ini sih, kan ini pose jelek," protesku. Lalu, kukembalikan foto itu pada tempatnya.
"Mau pose apa pun, istri aku itu tetep cantik kok."
"Alah bohong."
*
*
*
Liburan kali ini, Kak Za mengajakku ke Puncak. Dari cerita yang aku dengar darinya, Kak Za sangat menyukai pegunungan. Beberapa kali ia pernah mendaki bersama teman-temannya. Akan tetapi, karena aku tidak suka mendaki, Kak Za mengurungkan niatnya untuk mengajakku mendaki.
Kami menginap di sebuah penginapan yang menurutku cukup unik. Selain karena mirip rumah bambu, hotel ini juga menyuguhkan pemandangan yang sangat bagus. Kami seolah berada di puncak tebing dan bisa melihat pemandangan yang menghadap langsung ke area persawahan.
"Keren banget ya tempatnya, Kak."
"Punya kak Zayn, baru beberapa tahun selesai dibangun," jawab Kak Za.
Aku terperangah. Sebenarnya sekaya apa sih keluarga Wiguna?
"Kita ke sini mau honeymoon, bukan mau piknik, Put. Lagian Kak Zayn itu sibuk banget, mana ada waktu buat liburan orang kayak Kak Zayn itu. Yang dia tahu cuma cari uang aja." Kak Za merangkulku, lalu membawaku masuk ke kamar kami.
"Iya sih. Untungnya Kak Za nggak kerja di perusahaan. Kalau iya, pasti kita nggak ada waktu libur, kayak Mas Kai."
"Nah itu kamu tahu. Makanya aku lebih suka nerusin bengkel Papa aja daripada nerusin perusahaan keluarga. Masa mudanya Kak Zayn itu dihabiskan sama dokumen, perusahaan dan karyawan. Kak Zayn itu jarang banget ada waktu buat main."
"Tapi Kak Dera bisa hamil dan punya anak ya, Kak. Berarti waktu luangnya Kak Zayn untuk cuma pas malam aja."
Kami sama-sama berbaring di kasur. Perjalanan yang cukup melelahkan membuat ppunggung dan kaki terasa lega saat rebahan begini.
"Ya itu pastilah Put. Tapi, ada yang pernah bilang kalau Kak Zayn sering menyuruh Dera ke kantor dan mereka main di sana."
"Kakak stalking ya?" tanyaku dengan senyum mengejek. Sebagai mantan orang yang dicintainya, aku yakin Kak Za masih suka penasaran dengan hubungan Kak Dera dan Kak Zayn.
"Ngaco! Aku tuh nggak sengaja denger, kan langganan bengkel kita banyak juga yang kerja sama Kak Zayn."
"Tapi, serius Kak. Mereka ngelakuin itu di kantor?"
"Iya lah, Put. Masa bohong sih. Kenapa? Kamu mau?"
"Kapan-kapan kita harus coba, Kak. Pasti sensasinya beda."
"Di bengkel?"
Aku mengangguk cepat. Tidak ada yang salah kan dengan keinginanku?
β€β€β€
Kak Za sama Rafka itu mirip nggak sih gaess?π€π€π€
Itu ceritanya udah dua minggu loh ya, aku cepetin emang. Ntar kalau pas datang bulannya dibahas juga, ntar protes π€£π€£π€£
Ritualnya jangan lupa. Angkat semua jempolnya, terus jempol di bawahnya ini di pencetπππ π π