Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 172


ZAYYAN


Pergerakan halus yang menyentuh wajahku, secara alami melemparkanku dari alam bawah sadar, memaksa otakku bangun dan menginteruksi mata, 'Jangan terbuka, Putri sedang menyentuhmu.'


Begitulah kira-kira yang sedang terjadi pada anggota tubuhku, saat gerakan itu semakin lincah dan membuat tubuhku terasa panas. Putri sedang 'mengge*rayangi' wajahku.


"Jangan bangun dulu ya, suamiku," ucapnya dengan nada berbisik.


Jelas sekali aku bisa mendengarkan apa yang Putri ucapkan. Perasaanku dibawa terbang ke angkasa saat ia mengucapkan kata 'suamiku'. Benarkah dia sudah menerimaku sebagai suaminya?


"Kak Za itu ganteng banget sebenarnya, bahkan lebih ganteng dan imut dari Big Boss, tapi Kak Za suka seenaknya sendiri," gumamnya. Jemari lentik itu terus saja membelai wajahku, membuat rasa penasaranku memuncak dan sangat ingin membuka mata. Tidak! Aku harus bersabar menunggunya mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Kakak, ternyata tinggal di rumah mewah itu nggak enak, di mana-mana sepi. Iya sih ada pembantu banyak, tapi aku tetep ngerasa sepi banget nggak ada Kakak," curhatnya.


Sekuat hati aku mencoba menahan senyum, tidak mau Putri tahu aku sedang menguping. Akan tetapi, suara perutku yang meronta tiba-tiba menggagalkan rencanaku. Sial! Kenapa harus lapar di saat seperti ini sih?


"Kakak," pekiknya yang membuat pertahananku goyah.


Sambil cengar-cengir aku membuka mata dan melihat langsung wajah Putri yang sedang menatapku dengan tajam.


"Selamat pagi, sarapan yuk! Laper banget nih!" ajakku. Lalu aku mengecup pipinya, bangun dan turun dari kasur.


"Kakak."


Aku meninggalkan Putri yang masih termangu.


Usai sarapan bersama, rencananya aku akan mengajak Putri jalan-jalan menikmati kota London di musim panas.


Putri terkagum-kagum saat aku mengajaknya ke Tower Bridge sebuah jembatan besar yang menjadi ikon kota London. Jembatan ini menyeberangi sungai Thames yang merupakan sungai terpanjang di London.


Kami menikmati perjalanan dengan kapal, menyusuri keindahan sungai yang menjadi daya tarik wisatawan.


Masih di


Seharian berkeliling, kami kembali ke apartemen karena kami akan makan malam bersama Om Alvaro, dan aku ingin Putri beristirahat dulu.


"Istirahatlah, kamu pasti kecapean."


"Kak Za." Putri menarik tanganku yang ingin meninggalkannya dari ranjang.


"Iya, kenapa?"


"Em."


"Kakak, aku penasaran sama ini." Ia mengusap jakunku. Dengan susah payah aku menelan saliva.


Sentuhan tangan Putri di area itu menimbulkan gelenyar aneh yang membuatku merinding.


"Apa semua laki-laki ininya keras begini?"


Pertanyaan yang sangat aneh, memangnya ada jakun yang lembut seperti jeli?


"Putri, kalau kamu terus menyentuhnya, bisa-bisa aku ...."


"Aku kenapa? Apa geli? Seperti ini geli?" Putri semakin liar memainkan tonjolan khas laki-laki di leherku.


"Putri, aku ini normal, kalau kamu menggodaku terus, aku bisa meminta hakku."


Deru napasku kian memburu seiring dengan sentuhan Putri yang tak juga mau berhenti.


"Kakak menginginkanku?" Pertanyaan itu terdengar lirih, tapi Putri masih terus menatapku.


"Tentu saja, kamu istriku, kamu sah dan halal untukku."


"Apa Kak Za benar-benar mencintaiku? Maksudku tidak hanya suka, tapi rasa cinta. Apa aku sudah menggantikan wanita itu di hatimu?"


"Putri. Dera sudah memiliki keluarga, dan aku sudah memilik kamu. Kamu istri yang harus aku cintai, dan saat ini aku terus belajar mencintaimu. Baru sedikit, tapi aku terus berusa—"


Secara tiba-tiba Putri mendaratkan bibirnya. Ya, dia tiba-tiba menciumku untuk pertama kalinya.


"Walaupun sedikit, kita akan berusaha bersama untuk menjadikannya besar. Aku istrimu, sentuh aku, dan ambillah hakmu."


"Apa?"


Putri menyandarkan kepalanya di dadaku. Lalu ia mengelus dadaku dan berkata, "Kata Nafa, bercinta itu bisa membuat rasa cinta kita semakin kuat, dan sepertinya aku sudah siap untuk mencobanya."


Bagai ditimpa hujan deras saat musim panas, kalimat yang Putri ucapkan benar-benar menghilangkan dahaga. Sepertinya sahabat istriku itu sedang memprovokasi Putri untuk menyerahkan segalanya padaku.


"Kamu yakin?" tanyaku sambil menatap matanya.


"Yakin, kata Nafa, aku sangat berdosa jika kita tidak melakukannya. Ayolah Kak, jangan banyak bicara, aku malu."


❤❤❤❤


Jangan lupa jempolnya 😘😘😘