
KAISAR
Biasanya, yang namanya orang mau lamaran, pasti akan diizinkan untuk libur. Beda cerita kalau bekerja dengan bos besar yang menyebalkan dan pemaksa seperti Bos Zayn. Nanti malam aku akan melamar Dara, dan saat ini aku masih sibuk dengan urusan kantor, ditambah dengan pekerjaan dadakan yang baru tadi malam diperintahnya. Aku harus mencari tahu sebab kecelakaan yang menimpa Arsen, suami wanita yang pernah aku cintai, dam kini telah menjadi kakak ipar dari Bos Zayn.
Beruntungnya, aku memiliki agen rahasia yang bisa diandalkan. Saat ini mereka sedang memata-matai seseorang yang diduga menjadi dalang dari kecelakaan Arsen itu.
"Gimana sudah dapat laporan?" tanya Bos Zayn saat kami bersiap untuk pulang. Walau tidak dapat izin llibur, setidaknya aku masih diizinkan untuk pulang lebih awal. Apalagi orang tua Bos Zayn juga ikut melamar nanti.
"Sudah ada titik terang Bos, kemungkinan ini karena persaingan bisnis, dan target utama sebenarnya bukan Arsen, tapi Tuan Raffi," jawabku sambil menunjukkan gambar di ponselku yang didapatkan oleh orang suruhanku.
"Bisa jadi, karena papa bilang memang mobil itu mengarah padanya, tapi Arsen berhasil menyelamatkannya, tapi kamu simpan dulu buktinya, jangan sampai kita salah orang," jawab Bos Zayn. Aku mengangguk, lalu menyimpan kembali ponsel ke saku celanaku.
"Bos, nanti malam bisa datang, 'kan?" tanyaku untuk memastikan kedatangannya.
"Nggak, buat apa, yang mau lamaran kamu bukan aku," jawabnya dengan nada bicara yang sangat menyebalkan.
"Tante Marisa saja mau datang, Bos."
"Mama datang tu cuma mau pastiin, makanan yang dibuatkan Mama kamu kasihkan ke Dara bukan ke orang lain," balasnya sambil keluar dari ruangannya.
Aku mengikuti langkahnya keluar dari ruangan direktur dan masuk ke lift untuk turun ke lantai dasar.
"Nggak usah nganter pulang, kamu langsung pulang aja siap-siap. Jangan lupa kue kuenya diabsen, jangan sampai ada yang ketinggalan!" titah Bos Zayn sebelum masuk ke mobil mewahnya.
Memangnya kalau diabsen, dia mau mengeceknya satu per satu apa?
*
*
*
Dua mobil beriringan masuk ke halaman rumah milik Dara, yang sebentar lagi akan resmi aku ikat. Iya, ikat dengan hubungan yang lebih serius.
Aku keluar dari mobil bersama Ibu, Putri dan Pak De. Sedangkan mobil di belakangku milik Om Elvan yang datang bersama Tante Marisa dan Tuan Muda Zayyan. Sedangkan Bos Zayn, dia benar-benar tidak datang. Menyebalkan bukan?
"Kenapa kamu yang kebingungan sih? Mereka itu bosnya mas, suka-suka merekalah," jawabku dengan berbisik juga.
Kemudian, aku berjalan mendatangi keluarga Dara yang sudah menunggu kami di depan pintu rumah. Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya kami dipersilakan masuk.
Ada beberapa keluarga Dara yang ikut menyambut kedatangan kami, tetapi Dara belum juga muncul dari tadi.
Papa Dara terlihat berbeda dengan beberapa hari lalu saat menginterogasiku. Kalau kemarin wajahnya terlihat garang dan menyeramkan, maka hari ini beliau terlihat hangat dan bersahabat.
Tidak lama, Dara keluar bersama Nana, sahabatnya. Ia terlihat anggun dan semakin cantik dengan batik yang kemarin ia pilih sediri. batik abu-abu yang katanya cocok dengan warna kulitku.
Aku tidak bisa berkata-kata saat Dara duduk di sampingku. Bahkan untuk menyapa saja lidahku terasa kelu.
"Mas," sapanya setelah di antara kami hanya ada kebisuan.
"I-iya," jawabku tanpa berani menatapnya lebih lama.
"Mas Kai, ganteng banget," bisiknya yang membuatku panas dingin.
Kenapa sih denganku ini? Tidak biasanya aku seperti ini. Padahal saat menyukai Kimmora dulu, aku begitu berani, sampai menyatakan cinta pada Kimmora di depan suaminya, sampai akhirnya aku berakhir babbak belur dihajar Arsen. Sekarang, kenapa menatap Dara saja aku tidak punya keberanian?
"Kita mulai saja tukar cincinnya," kata papa Dera tiba-tiba.
Putri membawakan nampan bersisi kotak cincin yang kubeli secara mendadak kemarin.
"Ayo, Mas pasangkan cincinnya ke jari manis calonmu," ucap Ibu yang membuatku merasa semakin gugup. Aku sampai mengembuskan napas berat untuk mengurangi debaran di jantungku.
Setelah cukup tenang, aku mengambil cincin dari kotaknya yang berbentuk hati. Saat aku ingin memasangkan cincin ke jari manis Dara, tiba-tiba ....
"Tunggu!"
♥️♥️♥️