
ZAYYAN
Usai menghadiri acara syukuran Mas Kai, aku mengajak Putri untuk pulang saat hari mulai larut. Kak Zayn dan anak istrinya sudah pulang beberapa saat lalu, sehingga rumah Mas Kai pun sepi.
"Hati-hati di jalan, Za, Put." Mas Kaisar mengantar kami sampai halaman depan rumahnya saat aku dan Putri akan pulang.
Aku dan Putri mengangguk, setelah itu aku melajukan motor meninggalkan rumah iparku itu. Ada yang aneh dengan sikap Putri saat membonceng di belakangku. Biasanya dia akan memeluk dan menyandarkan kepalanya di punggungku. Akan tetapi, kali ini sangat berbeda, ia sepertinya sedang sengaja menjaga jarak dariku.
Aku mencoba meraih tangannya di belakang, tapi Putri sama sekali tidak merespon. Kenapa sih dia?
Cuaca yang dingin ternyata tidak membuatnya mau merapatkan tubuh denganku. Bahkan saat sampai di rumah pun, ia melengos masuk tanpa menungguku yang masih memarkir motor sebentar. Apa dia marah?
Sampai di kamar, Putri sudah masuk ke kamar mandi. Sementara aku menunggunya sembari mengecek laporan penjualan sparepart bengkel.
Setelah beberapa lama, Putri keluar dari kamar mandi tanpa menyapaku. Sial! Sepertinya dia benar-benar marah.
"Honney, kamu marah ya?" Aku mendekat padanya yang bersiap untuk tidur. Pdahal biasanya dia akan menyiapkan pakaianku dan juga menunggu sampai aku selesai mandi.
"Marah kenapa? Biasa aja tuh," jawabnya dengan ketus. Mulutnya memang mengatakn tidak marah, tapi ekspresi wajah dan suara ketusnya itu sangat terlihat sekali kalau dia marah.
"Oh, aku pikir kamu marah. Ya udah, aku mandi dulu, ya." Aku mengusap rambutnya dengan sayang sebelum berlalu ke kamar mandi.
*
*
*
Kini, aku telah selesai mandi. Sekilas kulihat Putri sebenarnya belum tidur, tapi saat ia melihatku, Putri langsung pura-pura tidur.
"Capek banget sih hari ini, jadi pengen dipijitin," keluhku yang sengaja memancing reaksi Putri.
Tidak ada sahutan, bahkan gerakan tangan pun tidak ada. Putri masih pura-pura tidur. Aku akhirnya merebahkan tubuh di sampingnya.
"Put, pijitin dong. Capek banget nih aku. Biasanya kan kamu selalu pijitin, kangen nih sama tangan kamu." Aku berbisik di telinga Putri yang aku yakin sekali belum mengantuk.
Dia masih diam saja untuk meyakinkan aktingnya pura-pura tidur.
Setiap sentuhan membuat tubuh Putri bereaksi. Ia mulai menggeliat dan pura-pura bangun tidur.
"Kakak, ngapain sih?" ketusnya dengan bibir mengerucut.
Tanpa banyak bicara lagi, aku mencium bibir itu. Rasanya sangat menyenangkan, apalagi Putri tidak menolak meski ia terlihat marah. Lama-lama, ia membalas ciumanku juga.
"Kamu pengen punya anak, 'kan?" tanyaku yang membuat mata Putri berbinar.
Tuh kan, dia hanya pura-pura tidur tadi.
"Beneran, Kak?" tanya Putri penuh harap.
"Iya, kamu mau?"
Putri mengangguk sebagai jawaban persetujuannya.
"Kalau mau, kan kita harus usaha dulu, sekarang kita usaha ya," rayuku sembari mencium kedua pipinya dengan sayang.
"Tapi jangan pakai pengaman, dan jangan dikeluarin di luar," pintanya yang membuatku mengangguk.
"Iya, Honney. Kamu udah siap punya anak ya? Kita coba sekarang ya, cebongnya Jupiter pasti bisa bikin perut kamu buncit!" ajakku yang mulai meraba setiap lekuk tubuhnya.
Putri tersenyum sangat bahagia. Sebagai suami, tentu saja aku lebih suka melihatnya bahagia daripada dia marah.
Hampir satu jam kami bercinta, sampai akhirnya Jupiter benar-benar menyirami rahim Putri dengan benih-benih istimewa.
Yang dilakukan Putri sungguh di luar dugaanku. Ia mengganjal pinggulnya dengan bantal, dan tidak mengizinkan benih itu keluar dari tubuhnya.
❤❤❤
Eh cie yang usaha bikin dedek 😍😍 Jangan lupa disiram Bang dikasih pupuk benihnya 😜😜
Ritual jejaknya jangan lupa, bagi vote juga boleh 😍😍