Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 159


DERA


Sehabis dari spa hamil, aku mengikuti Kak Zayn yang masih harus bekerja setelah libur dua hari. Hari ini mereka berdua —Kak Zayn dan asistennya, mulai beraktifitas seperti biasa,


"Kai, ini sertifikat rumahmu," kata Kak Zayn saat mengulurkan sebuah map berwarna kuning pada Asisten Kaisar.


Asisten Kaisar menerima hadiah dari Kak Zayn yang ia janjikan saat aku ngidam bakso beberapa saat lalu.


"Alhamdulillah, makasih Bos sering-sering aja begini," kata asisten yang kini menjadi saudara Kak Zayn setelah pernikahan Putri dan Zayyan kemarin. "Nona Bos nggak ngidam apa lagi gitu?" tanya Asisten Kai padaku.


Kak Zayn melepaskan kacamatanya dan menatap tidak suka pada Asiten Kaisar.


"Saya permisi Bos, mau selesaikan pekerjaan saya." Asisten Kaisar langsung pergi dengan membawa map berisi sertifikat miliknya.


"Aku jadi kepikiran sama omongan Asisten Kaisar deh Kak," ucapku, berjalan mendekati Kak Zayn yang duduk di kursi kebesarannya. Aku memijat pundaknya yang ungkin terasa pegal walau baru beberapa jam ia bekerja.


"Kamu mau apa Queen, jangan yang aneh-aneh ya." Kak Zayn meraih tanganku dan menciumnya.


Orang bilang, hamil itu waktu yang tepat untuk mengapresiasikan diri sebagai wanita. Jadi, aku harus bisa memanfaatkan momen ini sebaik mungkin 'kan?


"Masih aku pikirin, tapi aku sekarang aku pengen makan siang di kantin kantor ya." Aku sedikit membungkuk dan mengecup sekilas pipi Kak Zayn.


"Hah? Makan di kantin? Gimana kalau makan di sini, nanti Vivi yang ke kantin bawain ke sini ya," kata Kak Zayn yang sepertinya keberatan jika aku makan di kantin kantor.


"Nggak mau, kita ke kantin. Sebentar lagi jam makan siang, yuk nanti keburu ramai!" Aku menarik tangan Kak Zayn yang dengan pasrah mengikutiku.


Di kantin perusahaan ini, semua karyawan bebas mau mengambil menu makanan apa saja yang sudah dimasak, dan semuanya diberikan secara gratis.


"Tuan Bos," sapa laki-laki yang menjadi kepala dapur, sebutan untuk orang yang bertanggung jawab dengan urusan perdapuran di kantor ini.


"Ada menu apa hari ini?" tanya Kak Zayn.


"Hari ini ada sayur sop, sayur lodeh, soto ayam, dan rawon daging, Tuan." Laki-laki itu menunjukkan papan nama makanan yang ada di depan stan makanan. Masing-masing stan dijaga oleh satu orang karyawan.


"Kamu mau makan apa, Queen?" tanya Kak Zayn.


"Sayur sop sama tempe goreng, tahu goreng, sambal kecap," jawabku.


Makanan sederhana itu biasa Mama masak untukku, karena aku tidak terlalu suka dengan daging ayam broiler.


"Akan kami siapkan Tuan. Tuan mau makan apa?"


"Samain aja," kata Kak Zayn.


"Permisi Tuan."


"Kakak belum pernah ya makan di kantin kayak kantor kayak gini?" tanyaku.


"Ya pernahlah, sekali apa dua kali gitu lupa," jawabnya.


Beberapa saat setelah kami duduk, makanan kami siap. Kepala Dapur sendiri yang menyajikannya. Bersamaan dengan itu, beberapa karyawan mulai berdatangan. Mereka sangat berisik mengantre makanan, dan sepertinya mereka belum menyadari kehadiran Kak Zayn di sini.


Setelah selesai menyajikan makanan, Kepala Dapur meninggalkan kami, sedangkan suasana kantin semakin ramai.


"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Kak Zayn yang akan menyuap makanan ke mulutnya.


"Nggak. Aku cuma seneng aja lihat mereka berisik gitu."


KakZayn menyuapkan makanan ke mulutku.


"Sebentar lagi rumah kita juga akan ramai. Bayangin aja empat bayi nangis bersama, apa nggak ramai rumah kita." Kak Zayn ikut tertawa.


Suara tawanya yang berat membuat sebagian karyawan menatap ke arah kami. Sepertinya mereka mulai sadar bahwa atasan mereka ada di kantin.


"Ehem." Kak Zayn berdehem dan merapikan dasi, ia memang melepaskan jasnya sebelum ke kantin tadi.


karyawan-karyawan yang mulai menyadari kehadiran bosnya, tidak lagi berisik dan bersikap tenang.


"Kakak tuh kayaknya serem banget ya di mata mereka," ejekku, lalu aku menyuapkan makananku sendiri.


***


Setelah makan di kantin, kami kembali ke ruangan Kak Zayn. Saat akan masuk ke ruangan, aku melihat sebuah kardus bungkus makanan yang ada di tempat sampah. Kardus bertuliskan lapis kukus yang khas dari kota Surabaya. Sepertinya itu milik asisten Kak Zayn.


Setelah pintu terbuka, aku masuk diikuti Kak Zayn yang menutup pintu.


"Kamu istirahat di kamar ya, aku mau selesaiin kerjaanku," kata Kak Zayn, lalu duduk di kursinya.


"Kakak, aku mau lapis kukus Surabaya," ucapku pada Kak Zayn.


Ia menyipitkan mata dan urung memakai kacamatanya.


"Jangan aneh-aneh deh Queen, aku telfon Mama aja ya biar dibuatin Mama, yang kayak bolus gitu 'kan?"


"Ih bukan, ini tuh lapis kukus Kak. Aku maunya lapis kukus Surabaya, bukan yang buatan Mama."


"Ya terus siapa yang mau ke Surabaya buat beli lapis kukus?"


❤❤❤