
DERA
Kenapa ada duka yang datang bersamaan dengan bahagia. Kenapa ada rasa sakit kehilangan saat rasa senang karena kehadiran belum sepenuhnya kugenggam. Apa ini yang dinamakan adil? Suka dan duka, sakit dan senang, keduanya datang bersamaan.
"Apa sakit sekali?" tanya Kak Zayn. Ia menghapus air mata yang keluar membasahi pipiku.
"Kita akan lewati sama-sama, Sayang. Kakau kamu mau menangis, menangislah! Tapi ingat, ada tiga bayi kita yang butuh kamu." Kak Zayn mendekapku. Entah ke berapa kalinya aku menangis dalam pelukannya.
"Sayang, mama dulu juga pernah kehilangan. Mama sangat tahu perasaan kamu, tapi kamu harus kuat, Dera Sayang." Mama Marisa mengusap kepalaku.
"Hatiku mencoba ikhlas, tapi sangat sulit Kak, aku bahkan belum melihat bagaimana wajah anakku. Apa dia tahu aku ibunya? Apa nanti di keabadian dia bisa mengenali aku sebagai ibunya?"
"Dia tahu, dia tahu Sayang. Kamu ibunya yang terbaik, ibu yang sangat dia cintai. Dia pasti tahu, Sayang. Sekarang dia sudah tidak sakit lagi. Semua ini memang takdir kita, sekarang fokuslah untuk pulih." Mata kami saling bertatapan, aku juga melihat kesedihan di mata Kak Zayn. "Kamu mau gendong mereka kan?"
Memang semua sudah takdir. Aku tidak mungkin bisa melawannya, yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan berserah. Semua sudah digariskan Tuhan, dan aku hanya perlu menjalaninya.
Selamat jalan Putraku, Oase Zayn Wiguna. Suamiku memberikannya nama Oase yang artinya dicintai Tuhan, karena dia telah diambil lebih dulu, sebelum aku bisa memeluk dan menciumnya. Bahkan dia pergi sebelum melihat ibunya, sebelum dia tahu aku mencintanya. Namun, Tuhan lebih menyayanginya.
Aku masih harus berjuang untuk bisa bertemu anakku. Setelah sadar, aku harus belajar bergerak, tidur miring, tidak boleh makan minum sebelum buang angin. Rasanya sangat-sangat tersiksa.
Ya Tuhan, kapan aku bisa memeluk anak-anakku. Jangan Engkau ambil mereka dariku lagi. Sudah cukup satu putraku saja Tuhan.
Aku mengangguk sebagai jawabannya. Kedua sudut bibir Kak Zayn terangkat, lalu ia mengusap lagi wajahku yang basah.
"Kamu tahu, saat mereka menangis, mereka sangat mirip denganmu," kata Kak Zayn.
"Iya, mereka cantik sekali seperti ibunya," kata Mama Marisa.
"Kapan aku bisa gendong mereka, Ma?"
"Setelah kamu pulih sepenuhnya dari efek bi*us. Makanya, sekarang belajar gerak dulu," kata Mama.
Malam ini, Mama dan Papa mertua menemaniku di rumah sakit bersama Kak Zayn, sedangkan Mama Papaku akan datang lagi besok.
"Nyeri banget, Ma. Sakit."
"Mama kan lahiran normal Zayn, jadi mama nggak tahu gimana sakitnya lahiran caesar, pasti lebih sakit."
***
Setelah berusaha keras menahan sakit, akhirnya aku bisa tidur dengan posisi miring. Aku terus berusaha karena tidak bisa tidur. Hingga pagi ini, aku sudah bisa duduk, dan akhirnya dokter mengizinkan aku untuk menjenguk bayi-bayiku.
Sangat membahagiakan sekali, saat akhirnya aku bisa melihat langsung ketiga bayiku.
Kami masuk bersama bidan, ke ruangan NICU yang dikhususkan untuk bayi-bayiku. Dari sini aku tahu, kekuatan uang memang sangat berpengaruh.
Bayi-bayiku sangat kecil, beratnya hanya sangat di bawah normal. Hatiku tertarik pada bayi laki-laki yang perawatannya berbeda dari dua bayi lainnya.
"Dia anak pertama kita," kata Kak Zayn.
Aku cukup bingung saat bayi laki-lakiku dipasang alat-alat di tubuhnya. "Dia kenapa?"
"Diaβ"
"Biar saya yang jelaskan," potong Kak Zayn. Ia duduk bersimpuh di depan kursi rodaku. Menggenggam tanganku dan memejamkan mata.
"Kenapa?"
"Sayang, anak kita kan lahir prematur, paru-parunya belum berkembang sempurna. Dia belum bisa digendong."
Seketika duniaku terasa hancur. Bayi laki-lakiku, tidak ada yang bisa kugendong. Kenapa? Kenapa harus bayi-bayiku yang merasakannya? Sebenarnya apa dosaku Tuhan?
β€β€β€
...Nggak salah kok Dera, mungkin itu doa pembaca yang pengen kamu nangis nangis π...
Selamat siang, cie cie yang habis nangis. Upss maaf. Ya kan nggak melulu bahagia, sedih-sedih kan manusiawi. Hehehehe.
Jangan lupa, jempol sama komentarnya. Aku pantengin dulu buat bab berikutnya πππ