
Setelah diskusi singkat yang lebih banyak adegan romantisnya itu, kami kembali ke kamar masing-masing. Aku menggandeng tangan Putri sampai ke kamar dan mengunci pintunya.
"Kenapa dikunci?" tanya Putri setelah melepaskan tanganku.
"Memang kenapa kalau aku kunci?" Aku bertanya balik padanya.
Putri terlihat gugup dan masuk ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku paham, dia pasti gugup karena berpikir aku akan meminta hakku sebagai suami. Namun, aku sendiri bahkan belum memikirkannya. Apa aku bisa mencum*bunya yang belum menerimaku sepenuh hati, dan aku juga belum sepenuhnya lepas dari Dera.
Aku harap setelah kembali dari Inggris aku benar-benar melupakan Dera dan mencintai Putri sepenuhnya.
Selama satu jam lebih Putri di kamar mandi, dan dia masih belum keluar juga. Aku khawatir kalau dia tertidur di kamar mandi.
"Put, Putri." Aku mengetuk pintu kamar mandi sambil terus memanggil namanya, tapi tidak sekali pun dia menyahut.
"Putri, kamu di ngapain di dalam?" tanyaku yang mulai khawatir.
Beberapa menit masih tidak ada respon.
"Aku dobrak ya," teriakku.
Lagi-lagi Putri masih diam. Aku mengambil ancang-ancang untuk mundur, lalu berlari kencang untuk menabrak pintu itu. Hampir saja tubuhku menyentuh daun pintu saat tiba-tiba Putri membukanya dan akhirnya, malah Putri yang aku tabrak.
Tubuh kami terjatuh ke lantai dengan posisi aku berada tepat di atasnya, lenganku secara refleks melindungi kepalanya yang hampir membentur lantai. Beberapa saat kami terdiam dengan posisi yang tidak bergerak sedikit pun. Wajah kami sangat dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan embusan napas Putri yang menerpa kulitku.
Dia manis sekali, matanya, bibirnya, hidungnya, semuanya terlihat indah. Ingin sekali merasakan bibir tipis yang sedikit terbuka itu, tapi apa dia tidak akan marah saat aku menciumnya?
"Kak Za, mau sampai kapan kayak gini, Kakak berat banget," ucapnya dengan suara yang tertahan.
Aku langsung sadar dan beranjak dari tubuhnya, membaringkan tubuh di samping Putri sambil mengatur napasku yang mulai tersengal, karena detak jantungku yang bekerja secara berlebihan.
"Baru hari pertama nikah udah nggak sabaran aja," oceh Putri yang bangun dari posisinya.
Detak jantungku masih belum normal sepenuhnya, tapi aku berusaha bangun mengikuti gerakan Putri.
"Kamu di dalam tidur apa ngapain sih? Ditanya diem aja, nggak ada jawaban. Emangnya kamu pikir aku nggak khawatir?" Aku menghujani pertanyaan untuk Putri yang sedang membersihkan bajunya yang sedikit basah.
"Tau ah, orang mandi ya mana bisa kedengeran, lagian Kakak bawel banget, kan Kakak udah mandi, mau ngapain lagi ke kamar mandi, main sabun?" Putri berdiri dan meninggalkanku yang masih terduduk di lantai kamar mandi.
Saat aku keluar kamar mandi, Putri mengambil pakaiannya yang masih berada di koper, ia kembali masuk ke kamar mandi dengan sewot, pasti untuk mengganti bajunya.
Apa dia marah ya?
Pakaianku juga basah, sepertinya aku juga harus mengganti baju. Aku mengambil satu kaus di lemari, tanpa mengganti celana karena aku pikir lebih baik memakai bokser saja yang saat ini kupakai dan masih terbalut celana panjang.
Karena menunggu Putri terlalu lama, aku memutuskan untuk berganti baju di kamar ganti tepat di depan lemari kaca yang cukup besar. Perlahan aku membuka celana panjang menyisakan bokser di atas lutut, lalu membuka kaus lengan panjang aku pakai. Kausku belum juga lolos dari tubuhku, tiba-tiba Putri berteriak, sepertinya ia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kakak ih nggak punya malu," marahnya sambil menutup mata dengan kedua tangan.
Aku berjalan mendekat untuk menggodanya, saat ini aku belum memakai kaus ganti dan hanya mengenakan bokser saja.
"Memangnya kenapa? Kamu lupa kalau kita udah jadi suami istri?" tanyaku sambil berusaha melepaskan tangannya yang menutupi wajah Putri.
"Ya tapi nggak harus ...."
"Nggak harus apa? Semua boleh kok dilakukan suami istri," balasku saat Putri tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Kakak ih."
"Padahal aku baru aja mau kenalin kamu sama Jupiter," godaku dengan berbisik di telinganya.
"Jupiter siapa?" tanya Putri.
"Buka matamu dulu," pintaku.
Putri membuka sebelah matanya. Lalu aku berkata "Tuh, masih sembunyi di balik bokser!"
"Ih Kakak, aneh-aneh banget." Putri berlari meninggalkan aku yang tertawa karena berhasil menggodanya.
❤❤❤
Omo Omo, Jupiter kan planet paling gede. Jadi penisirin sama Jupiter, segede apa ya 🤣🤣🤣
Jangan tanya, masih rahasia tunggu tahun depan pokoknya 🤣🤣🤣🤣 (Ketawa kayak jin)