
KAISAR
Malam-malam keliling ibu kota hanya demi bakso. Kalau bukan karena hadiah rumah, aku sih malas sekali mencarinya.
Setelah berhasil mendapatkan bakso pesanan Nona Bos, aku segera mengantarkannya ke rumah Bos.
Setelah Nona Dera menerima bakso yang kubelikan, aku pikir bisa pulang dengan selamat, tapi nyatanya wanita hamil itu malah menyuruhku makan bersamanya, mengabaikan suaminya sendiri.
"Tapi Nona, Bos Zayn bagaimana?" tanyaku saat Nona Dera menarik tanganku untuk duduk. Sedangkan suaminya sudah menekuk mukanya.
"Biarkan saja, aku mual kalau dekat-dekat sama dia," jawabnya yang membuatku makin tak enak hati.
"Bos?" Aku menaikkan alis, meminta persetujuan dari Bos Zayn untuk makan bakso dengan istrinya.
Bos Zayn mengangguk, ia pasti terpaksa menuruti permintaan istrinya.
"Kalau bukan karena hamil, aku nggak akan ngijinin," kata Bos Zayn yang memberiku uang ganti yang berkali-kali lipat dari yang kukeluarkan.
Rezeki memang tidak akan ke mana. Setelah pusing mencari bakso, akhirnya aku juga menikmati bakso ini.
Nona Dera sangat lahap menikmati makanannya. Tidak percuma aku kesusahan menuruti ngidamnya. Kalau Dara hamil, apa dia juga akan menyusahkan aku ya. Ah, aku jadi membayangkan yang tidak-tidak, padahal kami saja belum menikah.
"Bos, lusa saya mau izin, pulang ke kampung. Mau jemput Ibu buat lamar Dara," ucapku ragu-ragu. Walaupun akhir pekan, tapi Bos Zayn itu sedikit ribet kalau dimintai izin. Apalagi hari biasa, pasti semakin susah.
"Kamu mau ninggalin aku?"
"Saya kan mau melamar Bos, kalau tidak cepat, keburu kadaluarsa restu papanya Dara."
"Jangan menginap, langsung balik!"
"Kak, kamu kejam banget sih sama Asisten Kaisar," sahut Nona Bos yang terlihat tidak suka. Sepertinya istri bos itu belum terlalu paham bagaimana kejamnya Bos Zayn saat aku meminta cuti.
"Pokoknya jangan nginep, sini ke kampung kamu kan cuma butuh empat jam."
Kalau saja aku bukan anak buahnya, mungkin sudah kulempar dengan garpu muka menyebalkan itu.
*
*
*
"Pagi Bu. Mas kangen," ucapku setelah Ibu menjawab panggilannya.
"Pagi juga Le, tumben pagi-pagi udah nelpon ibu. Ibu masih jualan ini," balasnya sambil menunjukkan dagangan yang sedang beliau jajakan.
"Ibu masih jualan aja, emang uang dari mas nggak cukup ya buat Ibu?" tanyaku dengan rasa bersalah. Ibu memang masih cukup muda, tapi aku sebagai anak tidak ingin ibuku kelelahan karena bekerja.
"Ini kan pekerjaan ibu dari dulu, uang darimu selalu cukup bahkan kelebihan, tapi ibu bosan nggak ada kegiatan, apalagi sejak Putri kuliah," jelas Ibu.
Sebenarnya aku sudah sering mengajak Ibu tinggal bersamaku, tapi Ibu tidak pernah betah tinggal di ibu kota yang selalu ramai, berbeda dengan suasana kampung yang tenang dan asri.
"Besok, mas pulang, jemput Ibu buat lamar pacarnya mas, Ibu mau kan tinggal di sini sama mas sama adek?" pintaku.
"Memangnya calon mertuamu sudah setuju? Kamu jujur 'kan, Mas? Nggak ada yang kamu tutup-tutupi 'kan?" tanya Ibu.
"Nggak kok, Bu. Aku cerita semuanya dengan jujur, aku juga nggak mau memulai hubungan dengan kebohongan. Papanya Dara setuju, dan minta kita lamar Dara secepatnya, menurut Ibu bagaimana?"
Ibu terdiam sejenak, lalu sibuk melayani pembelinya, karena memang Ibu jualan di depan rumah. Jadi, tidak terlalu ramai seperti di pasar.
"Besok kita ajak Pak De mu, biar bagaimanapun tidak mungkin kan kita sendirian melamar anak gadis orang," kata Ibu yang langsung aku setujui.
Setelah berbincang dengan Ibu, aku keluar kamar untuk menemui Putri yang sepertinya sedang membuat sarapan.
"Besok Mas pulang, kamu di rumah baik-baik ya, jangan cari masalah!" pesanku sambil mencomot roti yang sudah dioleskan selai oleh Putri.
"Aku ikut dong, Mas." Putri duduk di hadapanku, menggigit rotinya sampai sisa setengah.
"Nggak usah, kamu di rumah aja. Oh ya, kamu baik-baik sama Tuan Muda. Jangan cari masalah!" pesanku sambil menyeruput kopi yang telah Putri buatkan.
"Nggak janji," sahutnya sambil berlalu.
♥️♥️♥️