
DERA
Dua minggu koma di rumah sakit, akhirnya Kak Arsen sadar. Kemarin dia sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan usai sadar dari koma, dan aku berencana menjenguk Kak Arsen hari ini.
"Kak, nanti sebelum ke kantor kita mampir sebentar di rumah Kak Arsen ya, kita belum tengokin dia," ucapku pada Kak Zayn yang sedang memakai dasi.
Ia tidak menjawab tapi malah berjalan mendekat ke arahku.
"Hubungan Arsen sama Dion baik-baik aja 'kan?" tanya Kak Zayn setelah berdiri di sampingku yang tengah mengeringkan rambut.
Aku mendongak untuk menatap wajah Kak Zayn. Suamiku itu hanya tersenyum tipis sambil memakai jasnya.
"Setahu aku sih mereka baik-baik saja, mungkin hanya selisih paham soal Kimmora, tapi sekarang kan Kak Dion juga sudah punya keluarga. Emangnya kenapa sih Kak?"
"Nggak apa-apa. Sebenarnya tadi malam Papa hubungi aku minta tolong kasus Arsen itu diselidiki lebih detail, termasuk siapa saja yang terakhir berhubungan dengan pelaku utama itu. Nah, pagi tadi Kai kirim informasi, yang hasilnya aneh," jelas Kak Zayn yang membuatku mengernyit heran.
"Aneh gimana maksudnya, Kak?"
"Coba kamu lihat ini!" Kak Zayn menunjukkan email yang dikirimkan Asisten Kaisar.
Isi email itu tentang data panggilan serta isi chat dan juga surat perjanjian. Ada nama Doni Mahendra yang tertera jelas dalam surat perjanjian itu.
"Ini ...."
Kak Zayn mengangguk, lalu ia berkata, "Makanya aku tanya, apa hubungan mereka baik-baik saja?"
"Papa udah tahu soal ini?" tanyaku sambil berdiri, saling berhadapan dengannya.
"Aku sudah mengirimkan itu ke Papa, tapi Papa belum baca kayaknya," jawab Kak Zayn sambil memegang pundakku. "Sepertinya ini semacam menyingkirkan musuh demi kekuasaan?"
"Tapi Kak Arsen 'kan nggak menginginkan perusahaan."
"Arsen yang memajukan perusahaan, itu kenyataan yang nggak bisa dipungkiri, apalagi Arsen dan Dion punya porsi yang sama soal pembagian keuntungan perusahaan."
"Jadi, Om Doni sengaja melakukan ini supaya Kak Dion tidak tersaingi?"
"Ini bisnis, Queen. Apapun bisa terjadi dan bisa dilakukan demi keuntungan."
***
Kami telah sampai di rumah Kak Arsen dan Kimmora. Entah apakah aku harus memberi tahu mereka soal Om Doni atau tidak. Saat ini, aku harus memastikan dulu keadaan Kak Arsen baik-baik saja.
Memasuki halaman rumahnya, aku merasa sedikit berdebar-debar. Masalahnya, aku sudah tahu fakta bahwa Om Doni telah bekerja sama dengan pelaku yang menyebabkan Kak Arsen mengalami kecelakaan dan akhirnya koma.
Saat kami sampai di dalam rumah, rupanya keluarga Kimmora juga ada di rumah mereka. Kami disambut hangat oleh mereka. Kak Arsen duduk di kursi roda, sedang memangku Xavier yang tengah disuapi Kimmora.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Kak Zayn saat kami baru saja duduk di ruang keluarga rumah Kak Arsen.
"Masih sedikit pusing, tapi lumayan udah bisa mangku Xavier. Kamu bentar lagi juga gini jagain anak sebelum berangkat kerja," canda Kak Arsen sambil memegangi Xavier yang tenang di pangkuan daddynya.
"Xavier, sini sama Onty," ajakku pada bayi tujuh bulan yang rambutnya berdiri itu, kata Kak Zayn rambut Xavier mirip landak.
Bayi yang sebentar lagi akan menjadi kakak itu menggeleng dengan tegas, menolak permintaanku yang ingin memangkunya.
Aku, Kimmora dan kakak iparnya dibuat tertawa karena penolakan Xavier itu. Sedangkan Kak Arsen dan Kak Zayn masih membahas hubungan bisnis perusahaan Mahendra dengan pelaku yang kini sudah ditahan.
"Queen, apa kita perlu ...."
Aku menggeleng lemah, karena menurutku ini masalah yang cukup sensitif, kalau Kak Arsen tiba-tiba syok bisa bahaya, apalagi dia baru sadar dari koma.
"Dera, Zayn. Kalian sudah di sini?"
Aku menoleh pada Papa yang tiba-tiba sudah berada di rumah ini. Apa Papa akan memberitahu Kak Arsen? Apa yang akan dilakukan Papa setelah tahu masalah ini? Bagaimana kalau Kak Arsen syok?
♥️♥️♥️
...Arsen udah tahu kok Ra, tinggal reaksi Papa Raffi aja yang belum tahu gimana. Semoga Dion nggak ikut andil ya 🤭🤭...
Aku udah kembali kan? Kembang sama kopinya dong dibanyakin. Setelah ini mau ngurusin kakak bujang Zayyan.
Aku nggak bikin novel baru Zayyan karena emang ceritanya udah nyambung di sini ya. So, di sini aja jangan ke mana-mana 🤭🤭🤭