Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 171


ZAYYAN


Ketika hatiku berperang dengan keyakinan, ada banyak hal yang menjadi pertimbanganku. Apakah ini nyata atau ilusi, aku bisa membuktikannya setelah ini.


Aku memulainya dengan menarik tangan sosok Putri itu dan mendorongnya ke tembok. Aku mengunci pergerakannya, sehingga aku bisa menatap jelas rupa ayu itu. Masa bodoh jika akhirnya nanti aku akan mencium tembok, andai nyatanya Putri yang di hadapanku ini hanya ilusi. Saat ini, aku sangat ingin mencium bibirnya, dia istriku 'kan? Karena rasanya aku sangat merindukannya.


Aku mendaratkan bibirku pada benda kenyal yang terlihat pasrah menerima sentuhan bibirku. Terasa kenyal, manis, dan sangat nikmat. Aku pernah merasakan hal yang sama saat pertama kali mencium bibirnya.


Nyatakah ini? Atau hanya perasaaku saja, karena terlalu merindukannya. Cekalan tanganku mulai mengendur. Bibirku secara bergantian menyesap kenikmatan bibir Putri, atas dan bawah secara bergantian. Ia tiba-tiba mendorong tubuhku, sampai aku terpental dan hampir terjatuh.


"Kakak mau aku mati kehabisan napas?" marahnya sambil mengusap bibirnya.


"Ini beneran kamu?" tanyaku yang mulai tersenyum kegirangan. Bukan mimpi ternyata.


"Aelah, Kakak dibilangin dari tadi nggak percaya," gerutunya.


Aku langsung menangkapnya dan memeluk erat tubuhnya.


"Aku pikir ini mimpi, ternyata emang kamu ada di sini?" Aku semakin mengeratkan pelukanku.


"Ih, Kakak beneran mau bunuh aku kayaknya, aku nggak bisa napas." Putri memukuli punggungku.


Rasa bahagia dan masih tidak menyangka melihat dia ada di sini, membuatku tidak kuasa menahan rindu.


"Maaf maaf, masa iya aku mau bunuh istriku," kataku masih dengan senyuman yang tidak bisa ku tahan.


"Ih, aku terbang enam belas jam, capek laper, eh malah disiksa sampek kehabisan nap—"


Mulutnya berhenti bicara karena aku langsung mendaratkan ciuman lagi ke bibirnya. Ternyata ciuman itu nikmat ya.


"Maaf, habisnya aku pikir tadi cuma halusinasi, saking kangennya sama kamu, eh ternyata kamu beneran di sini."


"Dibilangin nggak percaya si, eh Kakak kangen sama aku?"


"Emangnya kamu nggak kangen?" Aku menggodanya dengan memegang kedua pundaknya, lalu bergerak turun secara perlahan dan meraih jemarinya dalam genggamanku. Kulingkarkan tautan tangan kami dan kepalaku mendarat di pundaknya.


"Kamu ke sini pasti kangen kan sama suami kamu?" tanyaku, lalu aku menghirup dalam-dalam aroma stroberi dan vanila di tubuh Putri.


"Disuruh Papa. Om kamu, Om Alvaro kan lagi ada bisnis di sini, terus aku diantar ke sini, tapi pas sampai lobi tiba-tiba ada urusan, Om Alvaro cuma kasih tahu nomor unitnya Kakak. akhirnya aku tungguin Kakak pulang," jelasnya dengan cepat.


"Em, Papa pengen cucu dari kamu mungkin, kita disuruh honeymoon," godaku.


"Ih, kita masih dibawah 21, bahaya Kakak. Aku lapar, kasih aku makan dong."


"Dasar, berapa lama sih kamu nunggunya?"


Aku melepaskan pelukan dari tubuh Putri, lalu berjalan ke dapur untuk membuatkannya makanan.


Setelah makan bersama, tapi mandi sendiri-sendiri, akhirnya sekarang saatnya kami beristirahat.


"Asik, malam ini nggak sendirian," ucapku sambil masuk ke dalam selimut yang Putri pakai.


"Idih, aku cuma tiga hari di sini."


Aku memiringkan tubuh menatap Putri. Hanya menatapnya tanpa ada niatan lebih.


"Aku akan buat kamu menikmati liburan di sini. Tidurlah, besok kita akan bersenang-senang."


"Selamat malam, Kak Za."


"Selamat malam istriku." Kuberanikan diri untuk mengecup singkat kening Putri. "Sini aku kelonin," kataku. Lalu, aku merapatkan tubub pada Putri dan memeluknya.


❤❤❤


Selamat malam, cie cie yang nungguin unboxing. Em, gimana ya, besok aja kali ya 🤣🤣


Hari ini aku sangat lelah dan ngantuk, tapi sempatin up biar nggak kena omelan kalian yang digantung 🤣🤣🤣


Awas, jempolnya jangan lupa