
KAISAR
Hari ini, aku berhasil menjemput ibu. Dengan naik pesawat, aku membawa serta Pak De— Kakak dari almarhum ayah— untuk melamar Dara.
Kami sampai di ibu kota saat waktu masih sore, karena aku memang sengaja memesan tiket pulang waktu sore. Putri masih belum pulang, dan aku langsung keluar menemui Dara. Aku ingin mengajaknya membeli barang-barang yang dipakai untuk seserahan besok.
Tante Marisa yang merupakan ibu dari Bos Zayn menyumbangkan kue dan sejenisnya yang dibawa lamaran. Jadi, aku hanya perlu membeli cincin, seserahan dan pakaian untuk lamaran yang rencananya akan berlangsung sederhana.
Aku menunggu Dara yang belum katanya sudah bersiap keluar dari kantor, dan benar saja, tak lama gadis yang akan kunikahi itu keluar dengan polesan make up tipis yang menghiasi wajahnya.
Aku keluar dadi mobil untuk menyambutnya, dan Dara tersenyum padaku.
"Mas," panggilnya seraya berjalan ke arahku.
"Hai, yuk langsung aja keburu malam," ajakku, lalu membukakan pintu mobil untuknya.
"Iya, Mas." Dara masuk dan aku berputar arah untuk duduk di kursi pengemudi.
"Kamu nggak capek, Mas?" tanya Dara setelah selesai memasang sabuk pengamannya.
"Capek sih, tapi setelah ketemu kamu, capeknya hilang," jawabku setelah memasang sabuk pengaman.
"Idih gombal banget." Seketika rona merah alami menghiasi pipi calon istriku itu.
Mobil melaju cepat menuju pusat perbelanjaan yang merupakan milik Bos Zayn. Setelah memarkirkan mobil, kami menuju toko perhiasan yang menjadi langganan Dara.
"Mas, kamu suka yang mana?" tanya Dara sambil menunjukkan beberapa model cincin yang aku sendiri tidak paham bentuk dan modelnya.
"Terserah kamu aja, mas suka apapun yang kamu suka," jawabku sambil melirik kanan kiri, mencari tempat duduk yang pas.
"Ih, Mas kok gitu sih, jadi lamaran nggak sih?" tanya Dara yang mulai kesal.
"Kenapa sih, Sayang?" Aku mengambil cincin yang digeletakkan begitu saja di atas kaca basar.
"Mas Kai tuh, aku kan maunya Mas yang milihin cincinnya buat aku. Kenapa malah bilang terserah?" Dara memajukan bibirnya, kesal.
Aku sudah biasa menghadapi Putri yang bertingkah seperti Dara saat ini. Di mana-mana, cewek itu tidak pernah salah, kalau aku menyalahkannya, bisa semakin panjang urusannya.
"Iya deh, kayaknya bagus pakai yang ini," ucapku sambil menyerahkan satu cincin yang terlihat lebih simpel.
"Gitu dong, aku juga dari tadi sukanya yang ini." Dara senyum-senyum sambil memandangi cincin pilihanku.
Kalau suka dari tadi kenapa nggak langsung ambil aja. Pakai acara ngambek segala. Nggak tau apa kalau aku lelah. Untung akunya sayang.
"Berapa semuanya?"
***
Setelah dari toko perhiasan, Dara memilih batik sarimbit yang akan kami pakai besok malam. Drama memilih baju pun tetap berlangsung. Aku memaklumi sikap Dara, karena dia anak tunggal, dan sebenarnya aku memang menyukai gadis manja dan pintar seperti dia.
"Mas, bagusnya warna abu-abu apa warna pink?" tanya Dara sambil membawa dua setel batik dengan motif yang sama, hanya beda warna.
"Yang pink bagus."
"Tapi yang abu-abu lebih cocok dengan Mas Kai, pink-nya terlalu cewek banget," balasnya seraya berlenggak-lenggok di depan cermin.
"Ya udah ambil yang abu-abu."
"Nah gitu dong, Mas. Kita 'kan harus sehati."
Ingin sekali meneriakinya, tapi rasanya tenagaku akan terbuang sia-sia jika bertengkar dengannya.
♥️♥️♥️