Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 186


ZAYYAN


Baju, sepatu, dan beberapa mainan memenuhi belanjaan kami. Sulit membawa beberapa baran dengan menggunakan motor begini, sehingga aku tidak bisa merasakan pelukan Putri lagi.


Sesampainya di rumah Kak Zayn yang sangat mewah, aku dan Putri membawa masuk hadiah-hadiah untuk anak-anak Kak Zayn dan Dera.


"Wah, siapa yang ulang tahun?" tanya Putri yang langsung membaur dengan Mama dan Dera juga Kak Zayn.


Ada beberapa kue ulang tahun di meja, membuatku teringat jika ini hari ulang tahun Dera. Tidak! Lebih baik aku pura-pura lupa dengan ulang tahun kakak iparku itu, daripada nanti Putri salah paham.


"Iya, siapa yang ulang tahun?" tanyaku sambil ikut duduk di samping Putri. Sementara barang-barang hadiah aku serahkan pada Dera. "Maaf telat, tapi semoga mereka suka, Kak."


"Makasih Za," kata Dera.


"Kalian nggak ngucapin selamat ulang tahun buat kakak ipar kalian?" tanya Kak Zayn yang selalu berada di samping Dera.


"Oh, Kakak Ipar ulang tahun, wah selamat ulang tahun Kakak, semoga panjang umur, sehat selalu, makin disayang suami, bahagia terus sama triplet, makin banyak rejekinya biar bisa traktir aku," ucap Putri yang terus mengoceh tanpa jeda.


"Makasih Putri, Aamiin. Besok aku ajak shoping kita beli tas kembar, mau nggak?" balas Dera.


"Mau, mau, mau banget Kak. Ih Kakak baik banget deh, pantesan Kak Za suka sama Kak Dera," kata Putri yang mungkin tanpa ia sadari membuat suasana menjadi canggung.


Kak Zayn menundukkan kepala, sementara jemari tangan Dera meraih tangan Kak Zayn dan menggenggamnya.


"Selamat ulang tahun Kakak Ipar," ucapku memecah keheningan.


"Makasih Za." Dera hanya tersenyum sekilas.


"Aku salah bicara ya?" tanya Putri yang sepertinya mulai sadar dengan keadaan.


"Za, kamu nggak mau gendong keponakan kamu? Coba aja Za, biar nanti kalau udah punya anak nggak kaget," kata Mama.


"Iya Ma," jawabku.


Mama meletakkan bayi laki-laki Kak Zayn di pangkuanku. Lalu, Putri semakin merapat dan mulai mencium pipi bayi yang belum sepenuhnya kuat menopang kepalanya itu.


"Hati-hati Kak, kepalanya masih goyang-goyang," kata Putri.


"Gimana sih ini, nanti kalau jatuh gimana?" tanyaku yang sedikit kaku karena tidak pernah menggendong bayi.


"Ih Kakak, jangan kaku."


Bayi kecil itu tiba-tiba menangis, mungkin karena takut denganku atau mungkin kurang nyaman karena aku tidak pandai menggendong.


"Ya Allah, kalian ini gimana sih? Sini biar sama mama aja!" Mama mengambil alih lagi bayi bernama Leon itu dari pangkuanku. "Uh cup cup cup Sayang, cucu oma diapain sama Uncle Za?" Mama mencoba menenangkan bayi yang masih menangis dengan kencang itu.


"Sini Ma, biar sama aku!" Dera mencoba menggendong bayinya, lalu membawanya ke kamar.


"Kalian kayaknya belum cocok kalau punya anak," kata Mama yang kembali duduk di tempatnya semula.


"Baru sekali aja udah nggak mau lagi," jawabku dengan lirih.


"Serius?" Mama ikut-ikutan bertanya.


"Iya Ma, tanya aja sama Putri," jawabku.


"Hehe, soalnya masih sakit banget, Ma kalau pipis."


"Kalau suami minta, jangan ditolak ya Sayang, takutnya malah jadi dosa loh," nasehat Mama sambil menggenggam tangan Putri.


"Kamu juga mainnya pelan-pelan aja Za, istri kecil kamu kan kasihan," kata Kak Zayn.


Ini memalukan nggak sih? Dinasehati soal beginian sama Mama dan Kak Zayn. Putri ember banget sih mulutnya.


***


Aku dan Putri kembali ke rumah Mama, dan ini menjadi hari pertamaku setelah kemarin hanya numpang lewat sebentar. Kamar yang enam bulan ini aku tinggalkan, kini kembali aku tempati, tentunya bersama Putri.


"Kakak makan yuk!" Suara berisik Putri membuatku terpaksa membuka mata, walau sudah lebih dari lima menit lalu aku terbangun.


"Kakak ayo bangun." Putri mulai menarik lenganku, padahal rasanya aku masih mengumpulkan keping kesadaranku yang masih belum sepenuhnya kembali.


"Mau apa sih bangun jam segini, mending kita bobok aja sini." Aku ganti menarik tangan Putri yang akhirnya terjatuh dalam pelukanku. "Nah gini kan enak."


"Kakak ih, buruan bangun terus mandi, terus kita makan bareng."


"Aku pengen kelonin kamu aja."


"Aku lagi menstruasi, Kak. Udah deh buruan bangun."


"Apa? Beneran?"


"Iya, baru aja aku cek," jawabnya.


"Yaelah Putri, beneran puasa nih aku."


"Hihihi, maaf Kak. Nanti aku bantuin kayak waktu di London aja ya," kata Putri.


❀❀❀


Setidaknya aku nggak jahat-jahat banget sama kamu, Kak πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Udahlah, aku emang baik kok, makanya doble up πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Habis ini mau nengok Mas Rafka, semoga aja bisa up juga πŸ₯²πŸ₯²πŸ₯²


Ramein dong Mas Rafka aku. Perjaka aku pindah di sana semua, soalnya di sini udah habis🀣🀣🀣