Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 191


Putri tiba-tiba mendorong tubuhku saat aku masih asik dengan bulatan kenyal di dadanya.


"Kakak, aku baru inget, kok dikeluarin di dalam sih!" ocehnya setelah mendorong tubuhku sampai Jupiter yang setengah sadar itu terlepas dari kandangnya.


Putri sibuk berjongkok, mengeluarkan cairan putih yang yang akan menjadi benih-benih cinta kami. Ia meraih tisu, lalu membersihkan area bawahnya itu dengan tisu tersebut.


"Aku kan nggak mau hamil dulu, Kak. Kakak jahat banget sih sama aku," ocehnya yang terdengar seperti ingin menangis.


Aku merasa kasihan dan tidak tega dengan suara serak Putri yang terdengar pilu. Masih sama-sama telan*jang, aku memeluk tubuhnya yang masih basah dengan keringat.


"Maaf ya, Honey, aku juga lupa tadi," ucapku dengan rasa bersalah.


"Kalau aku hamil gimana dong, Kak." Putri semakin tersedu sambil terus membersihkan sisa-sisa percintaan kami.


"Kalau hamil kan ada bapaknya, kenapa kamu takut, lagian kita udah nikah, Put." Aku membantunya mengambilkan tisu.


"Emangnya Kakak nggak kasihan, aku kan masih kecil, dua puluh tahun aja belum ada. Kuliah juga belum lulus, masa iya udah jadi emak-emak, aku nggak mau, Kak." Tangisan Putri malah semakin menjadi-jadi.


"Nggak usah nangis, kalau nanti ibu pulang terus denger kamu nangis, dikiranya aku ngapa-ngapain kamu."


"Kan emang Kakak habis ngapa-ngapain aku," sahutnya sambil mendongak, menatapku.


Wajahnya telah basah dengan air mata, membuatku tidak tega dan akhirnya mengusap air mata itu.


"Maksudnya, nanti ibu mikirnya aku nyakitin kamu. Sekarang aku tanya, aku bikin kamu sakit apa enak?"


Putri nampak berpikir, mengusap ingusnya dengan tisu, lalu menundukkan kepala dan menjawab, "Iya sih, kali ini enak, tapi tetep aja aku nggak mau hamil."


"Iya iya, ya udah kita cek di google aja deh, kira-kira kamu hamil apa enggak," balasku, lalu aku meraih ponselku di tas dan menyerahkannya pada Putri.


"Kata sandinya apa?" tanyanya dengan raut kesal.


"Tanggal lahir kamu, sengaja aku pakek kode biar aku nggak lupa sama ulang tahun kamu," jawabku sambil mengecup keningnya.


Putri lalu berselancar di internet dengan ponselku, sedangkan aku memilih merebahkan tubuh sambil mengelus Jupiter yang baru saja membuat masalah. Kenapa sampai keluar di dalam sih? Kan jadi repot urusannya.


Lama menunggu Putri yang masih sibuk dengan rasa ingin tahunya. Akhirnya, ia memeluk dan mencium pipiku.


"Kakak, ternyata kemungkinannya kecil, aku kan baru selesai menstruasi, jadi masih aman. Masih beberapa hari lagi masa suburnya," kata Putri yang kini berbaring di sampingku, sambil menunjukkan layar hasil pencariannya.


"Terus, kalau aman, bisa dong kita ulangi lagi," godaku sambil memiringkan tubuh, sehingga kini wajah kami saling berhadapan.


"Kalau nggak sakit sih nggak apa-apa, tapi jangan keluarin di dalam," balasnya dengan manyun.


"Katanya aman, kan kalau keluar di dalam enak, bikin hangat, 'kan?"


"Nggak mau, nanti hamil."


"Ya udah, kalau gitu aku nggak keluarin di dalam deh, tapi kamu mau, 'kan?"


"Mau sih, tapi kayak tadi ya, nggak mau sakit."


"Iya, kamu tau nggak kenapa pas pertama itu sakit."


"Kenapa?"


"Karena waktu itu kamu masih perawan, kalau sekarang kan udah nggak."


"Em, masa sih, Kak."


"Iya, kita coba lagi ya, pasti nggak sakit." Aku mendaratkan ciuman di bibirnya, untuk melanjutkan lagi percintaan kami yang berikutnya.


❤❤❤