Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 45


Aku dan Kak Zayn keluar dari kantornya bersama dengan beberapa karyawan. Mereka pasti melihat penampilan Kak Zayn yang aneh untuk dipakai di tempat kerja seperti ini.


"Eh, Kai. Kamu udah atur jadwal buat besok kan?" kata Kak Zayn kepada asistennya yang mengikuti sampai ke parkiran mobil.


"Sudah Bos, tapi meeting besok pagi tidak bisa diundur karena klien kita akan kembali ke Jepang besok malam," jawab sang asisten dengan patuh.


"Ya, nggak masalah, pesawatnya besok sore, 'kan?" tanya Kak Zayn yang sepertinya sedang memastikan sesuatu.


"Kalian mau ke mana?" sahutku. Dua orang yang tengah berbincang sampai melupakan keberadaanku itu akhirnya menoleh.


"Bukan kalian, tapi kita," jawab Kak Zayn.


Dia bilangnya kita, maksudnya aku dan dia kan?


"Kita? Jadi, kita beneran mau liburan?" tanyaku.


"Iya, Dera Wiguna." Kak Zayn menjawab sambil mencubit pipiku.


"Ishh. Beneran nggak sih, Asisten Kaisar?" Aku beralih pada laki-laki yang menjadi asisten suamiku itu. Aku yakin dia bisa lebih serius saat menjawab pertanyaanku.


"Jangan kamu panggil Kaisar, dia nggak cocok," sahut Kak Zayn.


"Tapi nama saya memang Kaisar, Bos Zayn." Asisten Kaisar tidak terima.


Lalu, dua orang itu kembali adu argumen.


"Kaisar itu raja, emang di sini kamu rajanya?"


"Saya, raja di hati kedua orang tua saya, Bos. Nona, panggil saya, Kakak saja, atau Aa' biar mesrah."


"Mesrah kepalamu, kamu mau jadi OB?"


"Bos mah ngancemnya gitu, mentang-mentang aku kasta rendahan."


"Dasar mellow."


"Stop! Jadi aku harus panggil apa?" teriakku di tengah keributan dua laki-laki itu.


"Bang aja, Bang Kai, lebih cocok tuh," jawab Kak Zayn.


"Si Bos mulutnya nggak pernah sekolah."


"Eh, Kai makin kurang ajar ya kamu."


"Habis Bos Zayn menyebalkan."


"Nah bener tuh Bang Kai," sahutku membenarkan ucapan Asisten Kaisar.


"Nona Dera jangan panggil Bang dong, Kakak aja, atau A'a."


"Mau kuhajar apa kupecat."


"Ah, terserahlah, kalian ribut terus bikin aku pusing," ocehku.


Akhirnya aku masuk ke mobil daripada mendengar pertengkaran antara bos dan asistennya itu. Aku jadi lupa bertanya kan, ke mana liburannya. Eh, tapi beneran liburan atau tidak sih?


Kak Zayn masuk ke mobil, sedangkan asistennya menuju ke mobilnya sendiri. Mereka berdua sama-sama seperti anak kecil.


*


*


*


Tak berapa lama, tepat saat masakanku matang, Kak Zayn keluar dari kamar dan menghampiriku di dapur.


"Kita mau liburan ke pantai, ke gunung atau ke mana sih Kak? Nggak mungkin kan ke luar negeri, karena paspor aku aja masih aku pegang, nggak ada yang nanyain," tanyaku sambil menghidangkan masakan di meja makan.


Masalahnya, kalau sampai salah kostum kan tidak lucu. Tidak mungkin kan, ke gunung pakai baju tipis.


"Ke pantai, Dera," jawab Kak Zayn.


Pantai? Apakah pantai Bali? Apa maksud Kak Zayn kami akan honeymoon? Ah, kalau aku tanyakan pasti dia akan sewot dan malah membatalkan liburan, lebih baik aku diam saja dan menikmati kejutan apa yang akan Kak Zayn berikan nanti.


"Kenapa senyum senyum? Jangan harap kamu bisa pakai bikini ya di sana!" ucapnya sambil melotot.


"Siapa juga yang mau pakai bikini, emang kita mau ke Bali?" sahutku tak kalah sewot.


*


*


*


Selesai makan malam, Kak Zayn masih disibukkan dengan pekerjaannya. Sedangkan aku mulai menyiapkan keperluan yang akan kami bawa liburan nanti, meskipun aku tidak tahu kami akan berlibur ke mana. Setelah itu, aku kembali ke ruang tidur dan Kak Zayn masih saja sibuk sendiri.


Karena bosan, aku pun memutuskan untuk tidur lebih dulu. Sebenarnya aku belum mengantuk, tapi aku hanya memejamkan mata, sambil membayangkan pantai seperti apa yang akan aku datangi besok bersama Kak Zayn.


Aku tidur memeluk guling yang menjadi pembatas tidur antara aku dan Kak Zayn. Kali ini aku sengaja membelakangi sisi Kak Zayn dengan membawa gulingku untuk kupeluk.


Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki yang sepertinya Kak Zayn itu mendekat dan naik ke ranjang. Aku masih pura-pura tidur karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan Kak Zayn kali ini. Apa dia marah karena aku mengambil guling pembatasnya.


"Ra, Dera." Kak Zayn menyentuh lenganku, dengan pelan menepuknya dan terus memanggil namaku. Mungkin dia ingin menyuruhku melakukan sesuatu makanya ia memanggilku, tapi aku sedang malas meladeni Kak Zayn saat ini.


"Kamu udah tidur ya." Kak Zayn mengusap rambutku pelan. Perlakuannya kali ini benar-benar lembut, tidak seperti biasanya.


"Kamu pasti seneng kan kita liburan, sebenarnya bukan liburan sih, Ra. Kita kan sudah menikah, jadi lebih tepat kalau disebut bulan madu." Kak Zayn terkekeh sambil terus mengusap kepalaku.


Dia ini sedang apa sih? Apa dia biasa seperti ini? Ah, sayang sekali aku baru tahu saat ini. Biasanya aku pasti tidur lebih dulu, tapi karena besok mau liburan, malam ini aku jadi susah tidur, dan aku malah mendengar sesuatu yang sangat berbeda dari Kak Zayn.


Kak Zayn menggeser tubuhnya, lalu merapatkan tubuhnya untuk memelukku.


Apa aku sedang bermimpi? Ini benar Kak Zayn bukan sih? Ingin rasanya membuka mata, tapi aku masih penasaran apa yang akan Kak Zayn lakukan setelah ini!


♥️♥️♥️


...Nah, Kak Zayn ketahuan kan diam-diam ngapain aja tiap malam....


Jangan lupa like, komen, hadiah, dan vote gaess 🥰🥰


Mohon maaf Gaess, aku libur up dulu. mungkin Jumat atau sabtu aku baru up lagi. Aku lagi down karena level malah turun 😭😭


Jangan tinggalin aku dulu ya gaess 😭😭


sampai ketemu lagi 🥰