Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 54


DERA


Setelah berbelanja, Kak Zayn memang benar-benar bekerja serius dengan laptopnya. Ia memimpin rapat dengan beberapa karyawannya. Dari situ aku bisa tahu Kak Zayn sangat tegas dan berwibawa.


Sore ini, kami berdua menikmati sunset di pantai yang lumayan jauh dari resort. Kami berjalan berdua menikmati suasana pantai yang romantis.


"Ra, kamu tahu, baru kali ini aku bisa berjalan tenang sama perempuan tanpa ada rasa cemas sedikit pun," kata Kak Zayn saat kami bergandengan tangan menyusuri bibir pantai.


"Oh ya, kok bisa? Terus sama Clara dulu gimana?" tanyaku heran.


Bukankah Kak Zayn pernah pacaran dengan Clara selama dua tahun?


Kak Zayn mengajakku untuk berhenti dan duduk menghadap ke pantai. Ia menarik napas berat, lalu ia sedikit tersenyum menatapku, sebelum akhirnya kembali menatap matahari yang mulai bergerak turun di ufuk barat.


"Aku sama dia jarang bertemu, Ra. Apalagi hubunganku sama dia kan secara diam-diam," kata Kak Zayn.


Dulu aku memang tidak sengaja melihat mereka di sebuah restoran, yang membuatku tahu bahwa mereka berkencan. Hubungan mereka memang terkesan ditutup-tutupi, bahkan media tidak ada yang memberitakan tentang pertunangan mereka.


“Kenapa?” Pertanyaan itu yang sedari dulu ingin aku tanyakan tapi selalu terlupakan.


“Dia ada kontrak yang tidak mengizinkan untuk berpacaran, apalagi karir dia kan sedang bagus-bagusnya waktu itu,” jelas Kak Zayn.


Mereka jarang bertemu, tapi Kak Zayn sangat mencintai Clara. Apa seharusnya aku menjauhi Kak Zayn dulu supaya dia bisa mencintaiku?


“Oh iya, kamu tahu aku pacaran sama Clara dari mana?” tanya Kak Zayn yang kembali memandangku.


“Nggak tau, lupa." Aku sengaja berbohong supaya Kak Zayn tidak tahu segila apa aku dulu saat menyukainya.


"Ra, aku merasa nyaman saat bersamamu, perasaan itu yang nggak aku rasain waktu sama Clara." Kak Zayn meraih tanganku, lalu ia menyentuh cincin yang pernah ia pasangkan. "Aku pengen peluk kamu, Ra."


Tatapan mata Kak Zayn yang tiba-tiba sendu membuatku luluh, akhirnya, aku memeluknya di senja yang begitu indah ini.


"Kak Zayn jangan ge-er ya, aku peluk Kak Zayn bukan berarti Kak Zayn bisa bebas sentuh-sentuh aku."


"Iya-iya, Ra. Aku tahu kok, kamu belum percaya kalau aku udah mulai cinta sama kamu." Kak Zayn mengecup kepalaku, yang membuatku mendongak untuk melihatnya. Baru kubilang jangan menyentuh sembarangan, malah dia mencium kepalaku.


"Zayn."


Suara wanita tiba-tiba memanggil Kak Zayn. Aku melihat wanita itu, ternyata dia adalah Clara.


Panjang umur sekali dia!


"Zayn, kamu di sini," kata wanita itu.


Kak Zayn melepaskan pelukannya lalu berdiri mensejajari mantan kekasihnya itu.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Kak Zayn.


Aku masih duduk di tempatku, menunduk tanpa ingin melihat apa yang mereka lakukan.


"Aku ada kerjaan di sini, kamu sendiri? Tidak mungkin kan kalian berbulan madu?" Suara Clara terdengar bergetar. Entah apa yang sebenarnya wanita itu inginkan?


"Ya, jelaslah, kamu nggak lihat, aku di sini sama istriku?" Kak Zayn setengah berteriak. "Ra, ayo kita pulang!" ajak Kak Zayn dengan nada lembut.


"Zayn, nggak mungkin kamu bisa langsung mencintai wanita lain, kalian hanya nikah kontrak kan? Berapa lama Zayn? Aku akan menunggumu." Clara mengatakan hal yang membuatku terluka.


Memang benar, aku dan Kak Zayn menikah bukan karena cinta, dan aku tidak tahu sampai kapan aku akan menjadi istrinya.


"Ra, ayo kita pulang!" Kak Zayn mengabaikan kata-kata wanita itu, dan aku semakin ketakutan dengan perasaanku sendiri. Apa benar suatu saat nanti Kak Zayn akan meninggalkanku?


Aku berdiri dengan air bening yang terbendung di dalam mataku.


"Kak Zayn selesaikan dulu masalah kalian, aku tunggu di mobil." Aku melepas tangan Kak Zayn dan berniat untuk meninggalkan mereka berdua.


"Zayn, kalau kamu sudah bosan dengannya, kamu bisa kembali sama aku." Clara masih terus berusaha membuatku sakit hati.


Aku sendiri bingung dengan perasaan Kak Zayn, bisa saja apa yang dikatakan Clara itu benar, dan Kak Zayn akan kembali pada cintanya suatu hati nanti.


"Sampai mati pun, aku tidak akan pernah melepaskan istriku. Nikah kontrak katamu? Aku sendiri yang bersumpah di hadapan Tuhan untuk menjaga dan mencintainya seumur hidupku, Clara. Dia istriku yang sah, yang pertama, yang terakhir, dan satu-satunya."


"Zayn, aku kan …."


"Stop Clara, aku sama kamu udah berakhir. Kita, hanya ada di masa lalu, dan sekarang aku sudah hidup di masa yang lain, masa kini dan masa depanku hanya bersama istriku. Jadi, berhenti mempermalukan dirimu. Atau kamu mau, besok akan ada artikel yang mengatakan kamu adalah pelakor!" Kak Zayn sangat menggebu-gebu. Otot di lehernya terlihat jelas, wajahnya sangat menyeramkan. Ia benar-benar marah kali ini.


"Zayn, apa harus begini?"


"Semua karena kesalahanmu sendiri Clara, dan sekarang aku sudah bahagia bersama istriku." Kak Zayn menarikku ke dalam pelukannya.


Lalu, air mata yang sedari tadi ku tahan, akhirnya jatuh juga. Dalam dekapan Kak Zayn, aku menumpahkan semua air mataku.


"Jangan menangis, Ra. Maafkan aku." Kak Zayn menciumi kepalaku


Entah wanita itu masih ada di sekitar kami atau tidak, aku tidak lagi mendengar suaranya. Yang aku rasakan, Kak Zayn semakin erat memelukku.


"Aku cinta kamu, Ra. Nggak akan ada wanita lain yang bisa merebut posisi kamu sebagai istriku."


*


*


*


Setelah pertemuan dengan Clara tadi, aku dan Kak Zayn tidak keluar dari kamar, bahkan makan malam pun kami makan di kamar.


Aku masih memikirkan apakah Kak Zayn benar-benar mencintaiku atau hanya pura-pura saja, entahlah, rasanya masih sangat membingungkan.


"Ra, kamu belum tidur?" Kak Zayn naik ke ranjang dan masuk ke selimut yang kupakai.


Aku menggelengkan kepala. Lalu Kak Zayn mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Ra, mungkin kamu belum percaya sama aku, tapi aku yakin cintamu bisa merasakan ketulusanku, Ra." Kak Zayn membelai wajahku. Tangan besar itu menempel di pipiku, lalu ibu jarinya mengusap wajahku pelan.


"Kak, apa alasan yang buat Kak Zayn yakin kalau Kak Zayn cinta sama aku?" Aku menghadap Kak Zayn yang juga menghadapku dengan posisi miring.


Kak Zayn mendekatkan wajahnya, embusan napasnya yang hangat menerpa kulit wajahku. "Ra, aku selalu ingin dekat denganmu, semua yang kamu lakukan aku menyukainya. Caramu marah, caramu tertawa, semua aku suka, tapi aku merasakan sakit saat melihatmu menangis, Ra."


"Apapun yang kamu suka, aku ingin mewujudkannya, seperti saat ini. Walaupun sebenarnya aku tidak bisa libur, tapi aku mengusahakan semuanya supaya kita bisa ke sini, supaya kamu juga bahagia."


Wajah kami semakin dekat, bahkan bisa dibilang tanpa jarak, karena hingung kami saling bersentuhan.


"I love you, Dera," bisiknya yang kemudian mendaratkan bibirnya di bibirku.


♥️♥️♥️


...Ups tegang deh. I Love you too Kak Zayn 😘😘...


Selamat malam, nungguin nggak?


Maaf ya hari selasa kemarin up 1 bab, ini gantinya aku kasih lebih panjang.


Kasih kembang atau kopi ya biar mereka bisa secepatnya cetak gol, kasihan Kak Zayn suami perjakaku 🤭🤭


Jangan lupa ritualnya,


Sampai ketemu lagi 😘😘😘