
Putri sepertinya sudah puas memainkan Jupiter dengan mulutnya, saat ini ia mulai mengarahkan benda pusaka paling berharga milikku itu ke dalam sarang yang belum pernah Jupiter masuki. Meskipun Putri sudah basah, tapi sepertinya ia kesulitan memasukkan kepala Jupiter.
"Kakak aku nggak bisa." Sepertinya ia menyerah, dan akhirnya terbaring di sampingku.
Aku tidak mau gagal, dan mengambil alih semuanya. Kuciumi leher dan sekitar dadanya, sambil menggesekkan kepala Jupiter ke dalam celah sempit yang sudah sangat basah itu. Bibirku mulai menempel di bibir Putri saat aku mengarahkan Jupiter untuk memasuki sarangnya. Baru kepalanya saja sudah sangat kesulitan, tapi aku tidak mau menyerah, dan terus mencoba. Sekali lagi aku mengarahkan kepala Jupiter untuk menembus lubang kecil itu, dan perlahan usahaku membuahkan hasil.
Kepala Jupiter sudah berhasil masuk, tapi Putri seperti menahan gerakan pinggulku yang ingin masuk lebih dalam.
"Kakak, berhenti sakit banget," ucapnya setelah ciuman kami terlepas.
"Tanggung, Honney, udah masuk dikit, rileks ya jangan dijepit, makin susah masuknya," jawabku yang merasakan otot-otot Putri menjepit kuat Jupiter dan menahan gerakannya.
"Sakit, Kak." Putri terus merengek, dan aku hanya bisa menciumi leher dan wajahnya.
"Teriak aja nggak apa-apa, tapi izinkan aku masuk ya," bujukku sambil mengusap keringat di keningnya.
Putri mengangguk, perlahan cengkraman otot ke*wanitaannya mulai mengendur, dan aku kembali bergerak mendorong Jupiter semakin dalam sampai bersentuhan dengan sesuatu yang terasa menghalangi aksi Jupiter. Aku sangat yakin, itu adalah selaput mahkota yang Putri berikan untukku.
"Tahan sebentar ya, aku akan mengambil sesuatu yang selama ini kamu jaga untukku," bisikku sebelum kembali melu*mat bibirnya.
Tangan Putri mencengkram punggungku. Kuku-kukunya yang panjang menancap kuat saat aku semakin mendorong Jupiter menembus mahkota kebanggaan itu. Akhirnya, Jupiter berhasil tertanam dengan sempurna di dalam tubuh Putri. Aku sudah tidak perjaka lagi.
"Kakak sakit banget." Putri melepaskan pagu*tan kami, air matanya meleleh dengan mata yang terpejam.
"Maaf ya, maaf banget, istriku." Aku menghapus air mata Putri. Sementara tubuh bawah kami masih menyatu tanpa pergerakan.
Aku terus mencium dan mengusap peluhnya, sambil terus meminta maaf tanpa melepaskan penyatuan kami.
"Masih sakit?" tanyaku setelah ia tenang.
Dia menggeleng lemah, lalu aku tersenyum dan melahap benda kenyal miliknya. Kudengar Putri kembali mende*sah, dan membuatku semakin semangat menggerakkan Jupiter di dalam sarang sempit yang terasa sangat menjepit.
Gerakan pinggulku semakin lama semakin cepat karena rasa nikmat yang luar biasa. Kulihat Putri tidak lagi mengekspresikan rasa sakit, ia memejamkan mata dengan mulut yang terus meracau sesekali meneriakkan namaku.
Putri mulai bergetar, mengeluarkan segala hasratnya yang semakin membasahi penyatuan kami. Sampai akhirnya, aku pun merasakan ingin meledak juga. Kupercepat gerakanku saat Putri kembali mengerang, aku ingin segera menyusulnya, dan rasa itu semakin tidak tertahan. Akhirnya, aku menyerah dengan menenggelamkan wajah di leher Putri, sambil mere*mas benda kenyal itu, lalu aku menumpahkan semuanya di dalam diri Putri. Tidak memikirkan lagi apa dia akan hamil karena perbuatan kami kali ini, yang jelas aku sangat puas.
"Thank you, and i love you," bisikku di telinganya, satu tanganku menopang tubuhku, dan satu tangan yang lain mengusap keringat Putri yang bercucuran.
"Love you too. Kakak puas?" tanyanya yang ikut membalas dengan mengusap wajahku.
"Sangat puas, aku baru merasakannya, dan ternyata seenak ini," jawabku. "Kamu sendiri?" Aku balik bertanya pada Putri.
"Sakit, nggak mau lagi," jawabnya yang membuatku mengerutkan alis.
"Bukannya tadi kamu mende*sah terus ya? Itu artinya kamu juga keenakan," protesku.
"Tapi beneran sakit, Kak."
"Namanya juga permulaan Honey, mungkin kita harus melakukannya setiap hari supaya tidak sakit lagi," usulku yang langsung mendapat pukulan keras darinya.
"Itu maunya Kakak. Kan aku yang ngerasain sakit dan perihnya, Kak."
"Aku juga sakit dan perih nih, punggungku bekas cakaran macan."
❤❤❤