
DERA
"Ini antrian yang mau beli roti?" tanya Kak Zayn setelah memarkir mobilnya.
Stand baru dibuka tapi antrean sudah mengular hampir mencapai jalan raya. Roti yang bentuknya panjang dengan bahan utama roti, telur dadar, daging cincang, keju, mayonis, saus, serta rempah-rempah tertentu itu memang cukup terkenal dan jadi makanan hits beberapa waktu yang lalu. Antrean kali ini tidak separah awal-awal dibukanya.
"Iya, buruan antri, Kak. Nanti keburu makin rame malah nggak kebagian loh." Aku tetap menunggu di mobil, sedangkan Kak Zayn memasang wajah malasnya. "Kalau nggak mau ya udah, aku aja yang ngantri," ancamku sambil membuka pintu mobil.
"Eh, jangan! Jangan! Biar aku aja, kamu tunggu di sini, Queen!" Kak Zayn keluar dari mobil dan menuju antrean.
Aku tersenyum sambil mengamatinya yang mulai mengantre.
Menurut prediksiku, Kak Zayn akan membutuhkan waktu setidaknya satu jam untuk mengantre.
Akan tetapi, hal yang cukup mengejutkan tiba-tiba terjadi. Kak Zayn yang seharusnya mengantre, tiba-tiba menyerobot antrean semakin ke depan. Anehnya, orang-orang itu tidak marah dan malah tersenyum-senyum. Bahkan, sekarang posisinya sudah berhadapan langsung dengan pedagangnya.
Kak Zayn mengeluarkan ponsel dan sepertinya akan menelepon seseorang. Setelah itu, ponselku tiba-tiba berdering.
HUBBY
"Halo, Kak."
"Queen, kamu mau roti yang mana?"
"Em ada apa aja emangnya, Kak?
"Aduh banyak, bentar aku kirim gambar menunya."
Tak lama, gambar menu yang dikirimkan Kak Zayn masuk ke ponselku, dan seketika itu juga aku jadi semakin terbayang-bayang bagaimana enaknya makanan yang antriannya sangat panjang itu.
"Aku mau super john dengan ekstra smoked beef dan mozarella," balasku setelah yakin dengan menu yang aku pilih.
"Oke, kamu tunggu bentar ya, mereka langsung buatkan," kata Kak Zayn yang kemudian mengakhiri panggilannya.
Tak berapa lama, dia kembali ke mobil tanpa membawa pesananku.
"Akhirnya, tinggal tunggu aja nanti diantar," kata Kak Zayn dengan entengnya.
"Kok Kakak nggak ngantri?" tanyaku penasaran.
"Nggak perlu, mereka semua aku bayarin pesenannya, jadi kita tinggal tunggu aja." Kak Zayn merebahkan tubuhnya di sandaran jok mobil, dengan kedua tangan yang dijadikan bantal.
"Ya nggak curanglah Queen, kan sama-sama diuntungkan," balasnya.
"Ih, nyebelin. Pasti rasanya nggak enak," gumamku yang kesal karena Kak Zayn tidak mau bersusah payah.
"Enak nggak enak kan kamu sendiri yang mau." Kak Zayn menurunkan tangannya dan menoleh padaku.
"Aku kan maunya Kakak yang ngantri, bukan malah nunggu di sini, gimana sih."
"Tadi kan kamu bilangnya mau roti, bukan mau ngantri. Udahlah Queen, yang penting anak kita nggak ileran." Kak Zayn membungkuk dan mencium perutku yang masih datar.
"Tau ah, kesel."
Aku menatap keluar karena sebal dengan sikap Kak Zayn. Hormon kehamilan memang benar-benar mempengaruhi suasana hatiku.
Tidak menunggu terlalu lama, seseorang mengantarkan pesanan Kak Zayn yang sudah pasti isinya roti pesananku. Kak Zayn menurunkan kaca mobil, lalu berterima kasih pada orang itu.
"Queen, ini pesenan kamu." Kak Zayn menyerahkan bungkusan roti itu padaku.
Walaupun masih kesal dengannya, aku tetap menerima makanan itu. Dengan sangat antusias, aku mulai memakannya. Ternyata, rasanya memang benar-benar enak, rotinya lentur, isiannya juga sesuai dengan ekspektasiku. Mungkin, kalau ditambah perjuangan dari Kak Zayn, nikmatnya pasti lebih lebih.
"Enak?" tanya Kak Zayn setelah aku mencicipinya.
"Mau?"
"Tapi suapin ya, Queen."
Aku pun menyuapkan sepotong roti ke mulut Kak Zayn.
"Gimana?"
"Em, enak. Pantesan aja sih rame," jawabnya sambil mengunyah.
Ada sedikit mayones yang menempel di bibir Kak Zayn, karena gemas, aku pun mengusapnya dengan tisu. Tatapan mata kami saling bertemu, saling mengunci dan kami sama-sama diam. Detik berikutnya, bibir kami sudah saling menempel, dan ciuman nikmat kembali terjadi.
♥️♥️♥️
Jangan lupa ritualnya 🤗🤗...