
ZAYYAN
Menikah itu menjauhkan diri dari fitnah dan sesuatu yang dilarang norma dan agama, tapi aku akan menikah karena kesalahpahaman. Aneh memang kalau dari sudut pandang orang lain, tapi dari sudut pandang keluargaku terutama Papa, ini tidak aneh.
Papa dan Mama menikah karena saling suka, apa yang mereka lewati bukanlah sesuatu yang mudah. Bagi Papa, tidak ada istilah pacaran, karena papaku memang kuno.
Pagi ini, aku menjemput Putri yang sebentar lagi akan menjadi istriku.
Tepat saat Putri keluar dari gedung apartemen, mobil Erlan berhenti di samping motorku. Cowok itu keluar dari mobilnya, lalu menghampiri Putri yang tiba-tiba berhenti melangkah.
"Mau apa kamu ke sini?" hardik Putri. Ia berkacak pinggang sambil mendongak menatap Erlan yang lebih tinggi darinya.
"Kamu dengerin penjelasan aku dulu, kamu itu salah paham." Erlan berusaha menarik tangan Putri yang langsung ditepis oleh gadis itu.
"Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri, waktu kamu pelukan sama cewek itu. Cewek yang bilang 'happy annyversary' ke kamu sambil bawa kue. Aku lihat semua itu." Putri menunjuk Erlan dengan telunjuknya, terlihat sekali ia marah. Matanya merah, dan berkaca-kaca.
"Aku sama dia udah putus, aku tinggalin dia demi kamu, Put." Erlan mencoba meraih lagi tangan Putri, tapi lagi-lagi Putri menepisnya.
Aku tidak bisa lagi berdiam diri, sedari tadi aku sudah menahan untuk tidak ikut campur urusan mereka.
"Apapun hubungan kalian, kalian udah putus kan? Sekarang, aku adalah calon suaminya." Aku menengahi keduanya, berdiri di antara Putri dan Erlan, menyembunyikan tangisan Putri yang mulai pecah karena menangisi laki-laki di hadapanku ini.
Erlan berdecih. Laki-laki dengan tinggi yang sama denganku itu menarik senyuman di ujung bibir yang justru terlihat sedang mengejekku.
"Sejak kapan kamu jadi calon suaminya, Putri aja belum genap sembilan belas tahun, kamu udah sok-sok an jadi calon suaminya," ejeknya.
"Sejak kemarin, aku dan Putri akan menikah bulan depan. Kamu bisa tanya Putri atau kakaknya."
"Dasar cowok aneh, bercanda lo nggak lucu. Put, kita akan bicarakan lagi nanti di kampus." Erlan berjalan meninggalkan kami, masuk ke mobil dan menghilang dalam kepadatan lalu lintas.
Aku berbalik dan melihat Putri. "Kamu nggak apa-apa?"
Putri menghapus wajahnya yang basah karena air mata.
"Jadi, kamu nangisin make up apa nangisin dia?"
"Tau ah, ayo buruan ke kampus, aku harus dandan lagi, untung aku bawa peralatan make up." Putri menarik tanganku untuk segera naik ke motor.
Sepanjang perjalanan ke kampus, Putri hanya diam. Kepalanya bersandar di punggungku.
Sebenarnya kasihan sekali Putri, dia pasti sangat terluka, sama sepertiku saat melihat Dera dan Kak Zayn bermesrahan. Akan tetapi, memang tidak semua yang kita impikan itu bisa menjadi kenyataan. Mereka yang kita cintai belum tentu bisa kita miliki.
Tanpa terasa, kami sudah sampai di kampus. Aku turun dari motor setelah Putri turun terlebih dahulu.
"Kakak aku jelek ya?" tanya Putri.
"Jelek, jelek banget. Apalagi pas nangis," jawabku.
"Kakak jahat ih, bukannya hibur aku." Putri mengerucutkan bibirnya, membuat pipinya jadi menggelembung, dan matanya menyipit.
Saking gemasnya dengan ekspresi Putri, aku mencubit kedua pipinya bersamaan.
"Kayak anak kecil kamu tuh," ejekku sambil menertawakannya.
"Putri, aku ingin bicara sama kamu, berdua." Suara Erlan melenyapkan tawaku.
❤❤❤
Mas Erlan, mon maap. Putri jodohnya sama Kak Zayyan. Jangan diganggu.
Kasih adegan berantem dikit lah ya, nanti 🤣🤣🤣ketawa jahat si Othor.
Mau ujan gaes, Kata Bunda-Bunda geng Lolipop juna nggak boleh main hp, aku ketik lagi nanti ya. Yang penting hari ini gak bolos update 😅😅😅
Jangan lupa jempolnya 🥰🥰🥰