
ZAYYAN
Tidak mudah menjalin hubungan dengan perbedaan jarak dan waktu yang menjadi benteng penghalang. Saat aku akan mengakhiri hari, di Jakarta baru saja memulai hari baru.
Menyesuaikan waktu adalah hal paling sulit, apalagi kegiatanku di negara ini memang cukup padat. Tentu saja semua itu berpengaruh pada hubungan pernikahanku dan Putri. Setiap hari kami saling bertukar kabar lewat pesan teks online, sangat jaan kami melakukan panggilan video seperti yang ada dala bayanganku sebelum berangkat. Tidak semudah itu ternyata. Perbedaan waktu tujuh jam sangat berpengaruh.
[Kak Za, aku barusan belajar masak loh sama Mama.]
Pesan yang dikirimkan Putri itu menyambut pagiku di kota London. Di Jakarta sekarang pasti sudah siang. Aku menelepon Putri karena penasaran apa yang Putri masak bersama Mama.
"Ya, Kak." Suara Putri yang mungkin seminggu sekali kudengar, nyatanya bisa menciptakan rasa rindu di hatiku.
"Kamu lagi apa?" tanyaku basa basi.
"Lagi mau tidur siang, Kakak baru bangun?"
"Iya."
Setelah aku mengatakan iya, semuanya menjadi hening. Aku bisa mendengar jelas embusan napas Putri.
Sedang apa sih dia?
"Em, Putri."
"Iya."
"Video call yuk,"
"Em, sebentar Kak. Tunggu!"
"Kenapa?"
"Pokoknya tunggu bentar." Suara Putri kedengarannya cukup dari ponsel.
Karena semakin penasaran, takut kalau Putri macam-macam, aku mengalihkan panggilan telepon kami menjadi panggilan video.
Selang beberapa saat, dia pun menjawab panggilannya. Ia cemberut sambil memegang sisir di tangannya. Oh, sepertinya ia baru saja merapikan rambut.
"Hai, kenapa lama?"
"Nggak apa-apa."
"Kamu makin cantik," pujiku.
Rona merah di pipi menambah nilai tambah pada kecantikannya yang alami.
"Kakak bisa aja." Putri merubah posisi, ia bersandar di kepala ranjang yang ada di kamarku.
"Em, katanya tadi kamu masak, masak apa?" Aku merasa sangat kaku saat menatap matanya itu, padahal saat berbicara langsung aku tidak merasakan hal seperti ini.
"Aku masak semur daging. Kata Mama, Kakak suka banget sama semur," jawabnya.
"Iya, kamu udah hafal resepnya?" tanyaku.
"Udah, Kakak mau aku buatin?"
Kalau aku bilang mau, memangnya kamu akan ke sini? Aku kan tidak mungkin pulang sekarang, Putri.
"Ya, nanti kalau aku udah pulang ya," jawabku.
"Kalau aku yang nyusul gimana?"
Aku hanya tertawa, tidak menanggapi serius apa yang Putri bicarakan. Setelahnya, kami mulai ngobrol basa-basi seperti biasa.
...****************...
Beberapa hari setelah video call terakhir kami, aku dan Putri belum melakukan komunikasi selain chatingan, alasannya karena aku dan dia sama-sama sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Seperti hari ini, aku baru sampai di apartemen saat waktu menunjukkan pukul 21.00 malam. Putri pasti belum bangun saat ini, karena di Jakarta sudah pukul 04.00 pagi.
Baru saja aku membuka kunci apartemen, tiba-tiba ada yang mengejutkanku.
"Kakak." Sosok Putri muncul di belakang tubuhku.
Apa ini halusinasi? Tidak mungkin Putri ada di sini. Ah, sepertinya aku bermimpi.
Aku berbalik badan, lalu masuk ke unit apartemen milik keluargaku. Setelah memiliki beberapa teman di asrama, sekarang aku tinggal di apartemen supaya tidak terganggu dengan aktifitas mahasiswa yang lain.
"Kakak, ih nggak mau menyambut aku?" Sosok Putri yang masih kuyakini hanya ilusi semata itu, ikut masuk bersamaku.
"Aku kurang aqua sepertinya," gumamku.
"Idih, Kakak sama istrinya sendiri malah dicuekin."
Mulai bingung dengan keadaan, aku akhirnya menyerah dan berkata, "Kalau kamu emang Putri, aku akan menciummu."
"Idih me*sum," ocehnya menertawakanku.
❤❤❤
Kira-kira beneran ilusi atau nyata ya??
Jangan lupa jempolnya 😍😍