
Zayyan
"Put, kamu ...."
Sulit mengatakannya. Kenapa harus sekarang? Saat Putri dengan senang hati menyerahkannya. Saat Jupiter sudah berdiri tegak. Sedikit lagi, kenapa harus sekarang sih?
"Kenapa Kak? Kakak nggak suka sama punya aku? Kan belum kita coba." Putri bangun dan memeriksa sendiri bagian intinya yang mengeluarkan darah kotor.
Aku menatap kasihan pada Jupiter yang belum diizinkan untuk menikmati surga. Kepalaku terasa pening dan aku hanya bisa mengacak rambut dengan kasar.
Ingin sekali aku ke kamar mandi untuk menuntaskannya, atau aku bermain solo di depan Putri.
"Ahhh, kenapa harus sekarang sih." Teriakan Putri membuyarkan pikiranku.
Aku menoleh dan menatapnya yang sudah menutup tubuh dengan selimut.
Tidak mungkin aku meninggalkannya dalam keadaan seperti ini untuk menyenangkan diriku sendiri.
"Nggak apa-apa, nanti kalau kamu udah selesai, kita bisa lakukan lagi." Aku memeluknya yang sudah menangis.
"Makin lama, makin banyak dosa aku Kak. Besok kan udah balik lagi aku."
Putri terus menangis, dan aku hanya bisa mengusap rambutnya.
"Kakak, gimana kalau kita lanjut aja, kan masih sedikit darahnya."
Tentu saja aku menolaknya. Bukankah itu menjijikkan?
"Putri, aku bisa nunggu kok sampai pulang ke Jakarta, dan kita bisa memulainya dengan perasaan yang lebih tenang. Kita akan melakukannya dengan penuh cinta, bukan cuma nap*su."
"Benarkah?" Putri menatapku. Wajahnya yang basah perlahan-lahan kuusap dengan lembut.
"Of course, honney. Kamu bawa pembalut nggak? Biar aku belikan!"
"Nggak bawa Kak, kan harusnya emang datangnya itu setelah aku pulang dari sini, ini malah lebih cepet dari prediksi aku."
"Ya udah, aku belikan dulu, kamu nggak usah nangis lagi." Aku bangun dari tempat tidur dan memakai satu per satu pakaianku yang berserakan.
...****************...
Setelah membeli pembalut yang dibutuhkan Putri, aku kembali ke apartemen. Putri sudah menungguku sambil bermain ponsel.
"Kakak, gimana dapat?" tanya Putri yang seketika meletakkan ponselnya di meja.
"Iya ini dapat, sekalian aku beliin coklat biar mood kamu bagus." Aku menyerahkan barang belanjaan pada Putri.
"Tunggu ya, Kakak jangan ke mana-mana!" kata Putri sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
Memangnya aku mau ke mana?
Ponsel Putri yang ada di meja kembali tiba-tiba bergetar. Karena penasaran, aku mengintip notifikasi yang muncul di layar bagian atasnya. Satu pesan dari Nafa yang berhasil membuat benda pipih itu bergetar. Dari tampilan pop-up yang ditampilkan, Nafa bilang Putri harus memainkannya dengan lembut.
Suara decitan pintu membuatku tersenyum saat Putri keluar dengan wajah yang mulai semringah, tanpa air mata lagi, dan itu membuatku lega.
"Kakak, makasih pembalut sama coklatnya," kata Putri saat ia duduk di sampingku.
"Iya honney, kamu dapat pesan tuh."
"Biarin aja, palingan juga dari Nafa." Putri merangkul tanganku, lalu ia mencoba mengalihkan perhatianku dari televisi yang masih menyala di hadapan kami. "Kakak, kata Nafa, aku masih bisa melayani Kakak walaupun lagi datang bulan."
Aku mengernyit, dan menatap bingung pada tingkah Putri yang aneh.
"Kamu diajarin apa saja sama Nafa?" tanyaku.
"Rahasia perempuan, yang jelas kata Nafa dia biasa lakuin ini kalau suaminya pengen tapi dia pas gak bisa," jawab Putri.
"Lakuin apa?"
Putri tersenyum, lalu ia membuka ritsleting celanaku.
"Kamu mau ngapain?" tanyaku berusaha menahan gerakannya.
"Mau kenalan sama Jupiter, pasti Kakak sakit kepala kan? Kata Nafa, kalau nggak dikeluarin Kakak bisa bad mood seharian.
"Hehe." Aku hanya bisa nyengir karena bingung harus bagaimana.
Putri menarik celana beserta boxerku, membebaskan Jupiter yang belum tegak sempurna.
"Kakak, kalau balon kan harus ditiup supaya besar, kata Nafa Jupiter harus dihisap supaya membesar. Aku coba ya," kata Putri.
Astaga, istriku ternyata tidak sepolos yang aku duga. Apa ini karena Nafa? Haruskah aku menyalahkan Nafa? Atau aku harus berterima kasih karena telah mengajari Putri menjadi istri yang bisa melayani suaminya?
"I-iya, terserah kamu," jawabku gugup. Seumur hidup baru kali ini diperlakukan sama perempuan, rasanya bingung, harus bereaksi seperti apa.
Putri menggenggam Jupiter di tangannya, lalu tangannya bergerak perlahan naik turun. Kemudian, ia memasukkan Jupiter ke dalam mulutnya. Gila, rasanya Jupiter langsung tegak sempurna di dalam mulut Putri.
Diperlakukan seperti ini, ternyata rasanya benar-benar enak, jauh lebih nikmat dibanding main solo. Ya Tuhan mimpi apa aku, bisa mendapat perlakuan istimewa dari Putri.
Semakin lama semakin cepat gerakan tangan dan mulut Putri. Sampai sampai aku merasa tidak tahan dan ingin meledak.
"Oh, honey, aku tidak tahan."
Beberapa kali gerakan membuatku semakin tersiksa, akhirnya aku menyemprotkan cairan itu di mulut Putri.
❤❤❤
Nggak perlu nggak perlu, Kak Za nggak perlu makasih. Yang penting pembaca seneng 🤣🤣🤣
Eh seneng nggak sih, aku takut kalau ditimpuk beneran. Mending balik ke bayi-bayi toge. Sama Daddy baru dan Mommy baru 😘😘😘
Walaupun nggak unboxing, tapi udah aku kenalin sama Jupiter loh. Jempolnya jangan lupa 😘😘😘