
ZAYYAN
Putri masih muntah-muntah di kamar mandi. Semenjak aku mengeluarkan isi yang ada pada Jupiter ke dalam mulutnya, ia terus-terusan muntah.
"Putri, aku masuk ya," kataku. Aku sangat merasa bersalah karena sudah membuat Putri jadi begini.
"Kakak, tolong ambilin permen di tas aku ya!" titahnya yang masih belum mau membuka pintu kamar mandi.
Aku berjalan cepat melakukan apa yang Putri mau. Beberapa biji permen berhasil aku temukan di tasnya. Lalu, aku menyerahkan permen pada Putri.
Wajahnya terlihat pucat saat pintu kamar mandi terbuka.
"Kamu udah nggak apa-apa?" tanyaku.
"Iya, nggak apa-apa kok, Kak." Putri berjalan menuju ranjang dan aku mengikutinya.
"Aku udah telfon Om Al kalau kita nggak bisa ikut makan malam, aku bilang kamu sakit," kataku sambil berbaring di sampingnya, lalu menyelimuti tubuh kami dengan selimut.
"Muntah gara-gara sper*ma?" tanya Putri.
Putri menatapku, dan itu membuatku merasa sedikit aneh apalagi mendengar kalimatnya yang terlalu blak-blakan.
"Ya maaf, aku tadi nggak bisa nahannya. Aku bilang ke Om Al kalau kamu lagi dapet, dia malah ketawain aku."
"Kenapa?" Putri mengubah posisinya menjadi telentang, dan aku masih memiringkan tubuh menatapnya dengan satu tangan menopang kepala.
"Ya masa' kamu jauh-jauh ke sini ternyata nggak bisa diapa-apain."
Putri tersenyum, dan mengalihkan pandangannya. Suara gertakan gigi yang menghancurkan permen di mulutnya terdengar jelas di telinga.
"Kamu marah ya?" Aku memeluknya yang kini mengubah posisi, membelakangi tubuhku.
"Nggak kok, mendadak malu aja," jawabnya yang masih tidak mau menatapku.
"Malu kenapa?" Aku bergerak mengubah posisi, kini aku berada di atasnya yang masih memeringkan tubuh. Dengan pelan, aku membalik tubuh Putri untuk berbaring dan menatapku dari bawah.
"Malu karena kita nggak jadi begituan malah aku kedatangan bulan." Bibir tipisnya mulai maju beberapa inci.
Aku tersenyum dan sangat gemas dengan tingkah istriku yang tidak polos-polos banget.
Bibirku menyentuh bibir Putri yang manyun. Dia malah merespon dengan membuka mulutnya, membuatku bebas menikmati rongga mulutnya. Bibir bawahnya yang pertama kali kuhisap, lembut seperti jeli, kenyal dan nikmat. Lidahku mulai bergerak bebas mengajak lidah Putri untuk menari bersama.
"Kakak," ucap Putri setelah mendorong tubuhku, dan aku melepaskan ciuman kami.
"Apa di sini Kakak sering berciuman? Ya, seperti gaya orang Eropa?" tanya Putri yang membuatku terkekeh geli.
Mana mungkin aku sempat berciuman, kalau statusku sudah terikat dengannya.
"Emangnya kamu pikir aku di sini punya pacar?"
Dua kecupan mendarat di kedua pipi Putri yang kemudian berubah semu kemerahan.
"Ya bisa aja kan, Kakak aja ahli banget ciumannya."
"Ahli gimana?" tanyaku. Aku merapikan rambut Putri yang menutupi wajahnya, lalu setelah lehernya terlihat jelas, aku mulai melakukan aksiu di leher Putri.
"Tuh kayak gini, ah. Kakak geli tau." Putri meronta dan berteriak-teriak.
"Hei hei hei, pelankan suaramu honey, tetangga bisa dengar!" Aku menghentikan aksiku, meninggalkan bekas merah indah hasil karyaku di lehernya.
"Kakak sih, geli tau Kak. Kakak belajar ginian dari mana?" tanya Putri. Ia mengalungkan tangannya di leherku.
"Dari instinglah, kamu belajar dari mana, bisa seagresif tadi? Jago banget puasin Jupiter, jangan-jangan kamu udah ...."
Satu pukulan mendarat di pundakku, terasa panas dan sakit.
"Sakit tau, Put." Aku mengusap-usap pundakku bekas pukulan Putri.
"Kakak sih, nuduh nuduh."
"Nggak nuduh, cuma nebak. Coba cerita, kamu pengalaman banget dapet dari siapa?"
"Em, dari Nafa, sama video yang dikasih Nafa," jawabnya terlihat malu-malu.
"Video apa?"
Aku sedikit curiga jangan-jangan Putri sudah pernah menonton video me*sum.
"Video begituan, yang kayak tadi. Ternyata pas ngerasain sendiri bener-bener bikin mual."
❤❤❤
Jangan lupa, like, komen, hadiah dan Vote 😍😍😍