
...*Baca ulang Bab sebelumnya karena sudah aku revisi, biar nyambung sama bab ini ya*...
ZAYN
Dera sudah tidak sadarkan diri saat dibawa ke ruang operasi. Keadaan bayi kami yang memburuk membuat mereka memutuskan untuk melakukan anastesi umum yang membuat kesadaran Dera menurun.
Dia didorong masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat kelahiran buah cinta kami berdua.
Dera seperti orang yang sedang tidur. Rambutnya ditutup dengan penutup rambut, menyisakan wajahnya yang cantik dan berseri.
Istriku. Maafkan aku.
Selama dokter melakukan tindakan, aku hanya berani melihat sekilas saja. Saat dokter melakukan sayatan di perut bawah Dera, itu sangat menyakitkan buatku. Dera istriku, dia sedang berjuang melahirkan keturunanku saat ini. Aku hanya memegang tangannya yang terasa dingin karena ruangan ini, berkali-kali kukecup seluruh wajahnya.
Tiba-tiba bayangannya terlintas di pikiranku.
"Kenapa Kak Zayn tunangan sama dia, dia bukan perempuan baik-baik, dia nggak pantes buat Kak Zayn."
"Kak Zayn, jangan menikah dengan Clara."
"Kak Zayn, menikahlah denganku."
Dia yang saat itu sedang mabuk, entah sadar atau tidak saat mengucapkannya.
"Aku mau menikah kalau Kak Zayn mau mencintaiku, dan memperlakukanku seperti istri. Kalau tidak, aku tidak mau menikah dengan Kak Zayn."
Aku sudah memperlakukanmu degan baik 'kan Sayang? Maafkan aku yang pernah bersikap tidak baik denganmu. Sekarang aku sangat mencintaimu, dan tidak akan pernah melepaskanmu, Dera. Istriku. My Queen, My Lovely Wife.
Setelah berhasil menguasai diri, aku kembali mengawasi apa yang dilakukan dokter pada tubuh istriku.
Saat ini, Dokter berhasil mengeluarkan seorang bayi laki-laki yang sangat kecil dari perut Dera. Anakku sudah lahir, tapi dia tidak langsung menangis, sampai mereka harus membalik tubuhnya dan menepuk pahanya beberapa kali. Ingin rasanya aku marah, tapi aku sadar, mereka jauh lebih mengerti daripada aku. Beberapa saat setelah tindakan itu, akhirnya bayi kecilku itu menangis. Ini pertama kalinya aku mendengar suara tangisan darah dagingku.
Mendengr itu, aku langsung menciumi kening Dera yang masih lelap dalam istirahatnya. Aku benar-benar ingin memeluk dan mengucapkan terima kasih padanya.
Bayi kedua juga tidak menangis, kali ini lebih lama dari bayi pertama. Bayi laki-laki itu jauh lebih kecil dari kakaknya. Sampai akhirnyaia menangis dan aku lega melihatnya. Aku sudah memiliki dua bayi laki-laki. semoga bayi berikutnya perempuan.
Setelah perawat membawa bayi kedua, dokter kembali mengeluarkan bayi ketiga. Kali ini perempuan. Lengkap sudah kebahagiaanku, apalagi saat bayi itu menangis setelah dilakukan prosedur yang menepuk pahanya dengan posisi terbalik.
Kini, bayi keempat pun dikeluarkan, perempuan lagi. Rasa lega dan bahagia membuatku kembali mencium seluruh wajah Dera. Bahkan bibirnya juga tidak luput dari kecupanku. Terima kasih Sayang.
...****************...
Saat menggendong bayi pertama, aku merasa bangga padanya. Bayi kecil itu akan menjadi kakak yang menjaga adik-adiknya. Aku melihat dia mewarisi hidungku.
Setelah itu giliran bayi kedua. Dia paling kecil di antara saudara-saudaranya yang lain. Wajahnya persis dengan bayi pertama. Saat aku menggendongnya, entah mengapa aku merasakan kesedihan yang tidak aku mengerti.
Perawat sudah menggantikannya dengan bayi ketiga, bayi perempuan cantik yang aku yakin pasti saat dewasa akan secantik mamanya.
Sampai bayi keempat juga semua berhasil kudekap satu per satu. Seharusnya Dera yang pertama kali mendekap mereka, tapi karena dia belum sadar, aku yang menggantikan tugasnya.
...****************...
Setelah aku mengadzani mereka, mereka semua dibawa ke ruangan khusus untuk bayi. Dera juga sudah dipindahkan ke ruangan VVIP yang sudah kami pesan beberapa waktu lalu.
Mama dan Papa juga mertuaku bergantian menengok cucu-cucu mereka di balik ruangan kaca. Bayi kedua kami mengalami kelainan jantung dan butuh tindakan khusus, ia ditangani oleh Dokter Gibran, laki-laki yang Dera kenal yang entah seperti apa hubungan mereka.
Sementara aku lebih memilih menemani Dera yang masih belum sadarkan diri. Menurut dokter, kemungkinan ia akan sadar beberapa jam lagi, saat ini aku membiarkannya beristirahat.
"Queen, kamu kamu sekarang udah jadi ibu, dan karenamu aku menjadi ayah saat ini. Anak kedua kita ... semoga dia bisa hidup dengan normal, aku akan melakukan apa pun untuk kesembuhannya Queen, aku janji." Tanganku menggenggam erat tangan Dera yang tidak memberi respon apa pun.
Beberapa jam setelah proses kelahiran, seorang perawat mendatangi ruangan Dera. Di sini, ada orang tua dan kedua mertuaku. Asisten Kaisar dan juga Putri.
"Permisi Pak, maaf saya harus menyampaikan kabar duka."
Tidak, jangan katakan, jangan!
"Bahwa bayi kedua Nyonya Dera meninggal dunia."
Seketika dunia terasa hancur. Putra keduaku ....
"Tidak, suster, tidak mungkin. Dera." Mamanya Dera histeris, mamaku langsung memeluk Papa. Sementara aku sendiri bingung, hatiku sangat hancur saat ini.
Tidak, ini tidak mungkin! Aku baru saja berjanji pada Dera bahwa aku akan melakukan apa pun untuk kesembuhan putra kedua kami. Ini sangat tidak mungkin. Aku hanya bisa memeluk Dera yang belum juga sadar. Bagaimana aku bisa mengatakan padanya Tuhan?
❤❤❤❤