Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 8


KAISAR


Dara menatapku dengan mata berkaca-kaca. Sambil menghadap lurus ke depan, dia menghapus sendiri air matanya. Sejujurnya aku tidak tega melihat istriku menangis seperti itu.


"Dara." Aku memanggilnya dengan nama, bukan dengan panggilan sayang seperti biasanya. Dia menoleh sambil menggigit bibir bawahnya.


"Sekali lagi aku tanya, kalau dalam pernikahan kita, tidak ada anak. Apa kamu akan tetap bertahan? Jika selamanya kamu nggak bisa merasakan hamil dan melahirkan, apa kamu akan tetap bersamaku?"


Aku hanya ingin mendengar apa jawabannya, walau pada akhirnya kami bisa melakukan program hamil dengan bantuan medis, tapi aku juga perlu tahu, apa yang dirasakan Dara. Seperti apa arti pernikahan kami di matanya.


"Mas, kamu ngomong apa sih? Aku sayang sama kamu, Mas. Aku sayang kamu apa adanya."


"Walaupun aku mandul?"


Dara melepas sabuk pengaman yang telah dipakainya, ia langsung memelukku sambil terus menangis. "Aku nggak mau jadi janda, Mas. Walaupun aku nggak bisa ngerasain hamil, asal kamu tetep sayang sama aku, aku rela, Mas."


Tangisan Dara terdengar menyayat. Aku sudah tidak tahan lagi, aku balas memeluknya, mencium seluruh wajahnya yang basah. Riasannya telah luntur, tapi aku tidak peduli, istriku terlihat jauh lebih cantik tanpa riasan.


"Udah jangan nangis, kalau pun enam bulan nanti usaha kita gagal, kita bisa usaha bayi tabung kan?"


"Emang Mas punya duit?" tanya Dara, masih sambil menangis ia menatapku.


"Gampang, nanti kita bisa ngutang ke Bos Zayn."


"Anaknya hasil ngutang dong, Mas."


"Nggak apa-apa Sayang, daripada hasil ngerampok. Lagian kita masih ada tabungan kan."


"Tapi bayi tabung kan nggak sekali aja Mas, bisa berkali-kali malah."


"Kan udah dibilang, si Big Boss itu banyak duitnya, masa iya dia pelit, nanti kalau dia nggak kasih kita ngutang, mas nggak akan mau disuruh-suruh dia."


"Iya ya, ini juga salah si bos deh Mas, karena dia suruh kamu kerja terus, hampir dua puluh empat jam kan kamu harus stand by."


"Ya makanya itu, nanti kamu bantuin ngomong ke dia ya."


"Iya, Mas."


Akhirnya dia tersenyum, aku langsung mencium bibirnya dengan rakus. Bibirnya itu memang selalu membuatku tidak bisa menahan gai*rah. Saat tanganku mulai menyentuh benda kenyal kembar di depannya, tiba-tiba ....


"Permisi."


Aku menurunkan kaca mobil untuk berbicara dengan orang yang telah mengganggu kegiatan kami.


"Ya, Pak."


"Mas, kalau mau berbuat me*sum jangan di sini! Ini rumah sakit," kata seorang petugas keamanan yang sepertinya bekerja di rumah sakit ini.


"Maaf, Pak. Ini istri saya." Aku mengeluarkan ktp milikku, dan Dara juga melakukan hal yang sama.


Tidak hanya itu, kami juga menunjukkan cincin pernikahan yang selalu melekat di jari kami.


"Lain kali kalau mau berbuat, lihat situasi!" Laki-laki berseragam itu mengembalikan ktp kami.


"Iya, maaf ya Pak." Aku menyalaminya sambil memberikan beberapa lembar uang. Laki-laki itu menerimanya, dan membiarkan kami pergi.


Setelah meninggalkan area rumah sakit, Dara mulai mengomel.


"Kenapa kasih uang ke dia sih, mana banyak lagi," gerutunya sambil merapikan rambut dan wajahnya.


"Ya biar gampang aja urusannya, Sayang."


"Lagian Mas sih, nggak sadar tempat."


Dia mulai ngomel sekarang, padahal beberapa menit yang lalu dia nangis-nangis, kok bisa-bisanya sekarang dia mengomel.


Aku menambah kecepatan, mumpung jalanan tidak macet. Tujuanku ingin segera sampai di rumah dan membungkam mulut Dara yang semenjak menikah makin terlihat lincah saat mengomel, padahal awal kenal dulu dia cukup pendiam.


"Mas kok ngebut sih," protesnya yang masih memegang bedak di tangan.


"Biar cepet sampai, kita lanjutin yang tadi."


"Kenapa? Raja udah gerah yang pengen bebas?" Dia mengusap celanaku, membuat Raja semakin tegang dan konsentrasiku terganggu.


"Sayang, nanti aja di rumah, aku masih nyetir nih."


❤❤❤


Si Raja bikin ulah deh. Jangan lupa minum suplemennya Mas Kai. Nanti kalau ngutang ke bos Zayn, yang banyak ya.. biar aku juga kebagian 😅😅😅


Jempol sama komennya banyakin dong, nanti aku up lagi part Zayyan Putri.