
Jamilah memutar-mutar cincin di jari manisnya. Sepulang kedua istri dari atasannya, Jamilah merasa bahagia sekaligus khawatir. Ia bahagia keluarga Jonathan tidak merendahkannya seperti yang ia lihat dalam sinetron-sinetron, tapi ia juga khawatir salah duga jika mantan bosnya itu ada rasa lebih dari sekedar bawahan.
Jamilah menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengusir segala prasangka negatif di kepalanya.
Tanpa Jonathan tahu, Jamilah pun juga merasa rindu. Diam-diam, gadis susu Jonathan itu sering memandangi satu-satunya foto yang ia ambil secara diam-diam saat mantan bosnya itu sedang bekerja di depan laptopnya.
Jamilah tidak mau takabur dengan segala perhatian yang diberikan Jonathan, karena ia tahu dia bukanlah wanita satu-satunya yang ada di sekitar Jontahan.
Selama ia bekerja bukan sekali atau dua kali wanita yang mengaku punya hubungan spesial dengan mantan bosnya itu datang ke kantor. Bukan hanya satu wanita, tapi beberapa wanita berganti-ganti.
Mereka dengan arogannya datang dan memaksa masuk ke ruangan dengan pakaian super minim. Tetap menunggu Jonathan meski bosnya itu sedang tidak ada di ruangan. Beberapa diantaranya juga memandangnya dengan rendah. Mereka juga dengan beraninya, duduk di sofa atau di kursi bos dengan mengangkat kaki serta merokok. Namun saat Jonathan masuk ke dalam ruangan, para wanita itu seketika berubah menjadi kucing imut.
Jamilah sangat tahu diri, bahwa lingkup pergaulan Jonathan, bukanlah sama seperti kehidupannya. Apa itu salah satu alasannya ia mengundurkan diri agar tidak jatuh cinta terlalu dalam pada atasannya? entalah.
Jamilah merenungi ide gila dari orang tua serta kakak ipar dari Jonathan. Jelas tidak mungkin ia seberani Hanum, memproklamirkan perasaannya di tengah-tengah pernikahan Pak Alex dan Bu Hanum.
Undangan pernikahan, gaun serta sepatu yang harus digunakan sudah ia pegang. Sudah pasti ia tidak bisa menolak permintaan Ibu Devi dan Ibu Hanum.
Suara musik berdentum saat Jamilah melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung. Kakinya gemetar, sisi hatinya berteriak ia harus segera berbalik dan pergi dari sana.
Jamilah datang tepat di tengah-tengah acara hiburan. Semua tamu undangan sedang menikmati musik dan hidangan, jadi kedatangannya tidak terlalu menjadi pusat perhatian.
"Milah!" Jamilah terkejut saat ada tangan yang menariknya menjauh ke sudut ruangan.
"Bu Devi?" Jamilah semakin terkejut saat mengetahui Ibu bos besarnya yang menarik tangannya.
"Iiih, akhirnya kamu datang." Jamilah menyengir saat Bu Devi mencubit pipinya dengan gemas.
"Maaf saya terlambat, kalau malam angkotnya susah."
"Kamu naik angkot pakai baju seperti ini??" Mata Bu Devi membesar, "Maaf ya saya lupa, harusnya saya suruh orang jemput kamu." Bu Devi menepuk dahinya saat Jamilah mengangguk.
"Ga apa-apa, Bu."
"Milaah, nanti ikuti saran saya ya." Mata Bu Devi menatapnya penuh harap.
"Maaf, Bu. Saya ga bisa, saya takut. Saya kesini cuman mau kasih selamat buat Pak Alex sama Bu Hanum, bukan untuk Pak Jonathan."
"Looh, jangan gitu Milah. Saya berharap banyak loh sama kamu. Anak-anak saya itu kalau urusan cinta memang agak bodoh. Kelihatannya aja Jonathan banyak ceweknya, tapi dia itu masih terlalu polos dan mudah dimanfaatkan sama cewek-cewek itu ... mau yaa." Lagi-lagi Bu Devi memandannya dengan tatapan memohon.
"Tapi buuu ...." Jamilah masih mencoba mengelak. Agresif dengan lawan jenis bukanlah gayanya.
"Sudaaah, percaya sama saya." Bu Devi mendorongnya ke arah kumpulan para gadis di depan panggung.
Jamilah menoleh ke sekelilingnya. Ia nampak kerdil di tengah-tengah wanita yang bertubuh tinggi dan bersepatu jinjit. Para wanita itu memandangnya dengan tatapan aneh dan seolah merasa terganggu dengan kehadirannya di tengah-tengah mereka.
"Oke, siap-siap yaaa. Pak Alex dan Nyonya balik badan dulu, biar adil yang dapat." Jamilah mengarahkan pandangannya ke atas panggung saat pembawa acara mengarahkan posisi Alex dan Hanum tepat di bibir panggung.
Jamilah sempat menangkap senyuman jahil di bibir Hanum, saat kedua mata mereka bertemu. Ia sempat bingung untuk apa Bu Devi menggiringnya di depan panggung bersama para gadis ini, tapi ia juga tidak berani banyak bergerak karena masih merasa asing dengan situasi yang ada.
"Siaaappp?? satuuu ... duaaaa ... semoga yang mendapat bunga ini disegerakan mendapat jodoh dan menikaahhh ... tigaaaa ... lempaaarrr!"
"Yaaahhh." Seruan kecewa terdengar di sekelilingnya. Jamilah tidak mengerti mengapa mereka harus menatapnya dengan pandangan sinis dan kecewa, saat Bu Hanum dengan sengaja melempar bouquet bunga itu ke arahnya.
"Selamaatttt buat mba ... siapa namanya?" Pembawa acara turun dari atas panggung ke tengah-tengah kerumunan gadis lajang dan berjalan mendekat ke arahnya.
Sekarang hanya ia seorang diri dan menjadi pusat perhatian di tengah-tengah hall yang luas itu.
"Jamilah." Ia menjawab dengan suara lirih.
"Selamat buat Mba Jamilah, pasangannya mana Mba? atau masih jomblo?" Pembawa acara itu berlagak mencari-cari di sekitar tamu undangan.
"Belum punya." Jamilah menjawab kembali dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Waahh, buat para jombloman di sini masih punya banyak kesempatan nih. Bagi yang mau daftar jadi suami, segera dekati Mba Jamilah yaaa," seloroh pembawa acara itu mulai menggodanya. Suara suitan yang menggodanya membuat kepalanya semakin tertunduk.
Saat semua perhatian para undangan kembali teralih ke pembawa acara, Jamilah merasakan ada mata yang memperhatikannya dari balik tubuhnya.
Ia membalikan badan, lalu menemukan sosok yang ia rindukan beberapa minggu terakhir. Spontan senyumnya terkembang tanpa ia sadari, namun Jamilah langsung kecewa saat Jonathan yang awalnya ikut tersenyum kembali memasang wajah datar dan berbalik pergi menjauhinya.
Jamilah hampir menangis di buatnya, ia sudah akan berjalan keluar dari tempat acara saat Bu Devi menahan langkahnya.
"Mau kemana?"
"Pulang." Jamilah menyusut air matanya.
"Kejar, dia belum tahu perasaanmu."
"Maluuu." Jamilah menggeleng.
"Milaah, Jonathan sudah menunjukan perasaanya lewat cincin itu. Sekarang waktumu untuk menjawabnya." Bu Devi kembali menggiringnya ke arah di mana putranya pergi.
Jamilah melihat pria itu berjalan dengan cepat dengan kepala tertunduk. Untuk kesekian kalinya, ia kembali melirik ke arah Bu Devi yang bersembunyi di balik pilar. Mama mantan bosnya itu menganggukkan kepala memberi semangat kepadanya.
"Pak Jo!" Jamilah berteriak, namun suaranya yang lirih tidak terdengar oleh Jonathan yang sudah menjauh.
"Pak Jo!!" Jamilah berteriak semakin kencang, Jonathan tetap terus berjalan lurus. Dengan kesal Jamilah berlari menyusul Jonathan sembari berteriak.
"PAAK!!
flash back selesai (lengkapnya di bab sebelumnya ya)
"Asal kamu tahu Milah, begitu cincin ini ada di jarimu hidupmu tidak akan bebas lagi. Kamu dilarang keras jauh dari aku." Jonathan menyematkan cincin di jari Jamilah.
"Tidak bebas bagaimana, Pak?"
'Seperti ini." Jonathan menarik pinggang Jamilah dan merapatkannya ke tubuhnya, lalu menggiringnya kembali masuk ke dalam ruang acara.
...❤🤍...
Maaf ya teman-teman dua hari tidak sempat up karena ada acara jadi agak ga konsen. Terima kasih bagi yang masih menunggu 🙏🥰