CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Kurir pengantar makan siang


"Eh, Papa, sudah selesai sarapan?" Mama mendekati Papa dan merapikan kemejanya.


"Ngapain di kamar Alex? tanya Papa masih curiga.


"Mau beli sprei baru, tetangga sebelah kasih kreditan," ucap Mama asal, seraya menggiring suaminya kembali ke ruang makan.


"Sejak kapan kamu beli sprei kredit?" Papa melirik Mama tak percaya. Istrinya itu hanya tersenyum simpul tak peduli dengan sindirannya.


Sementara Mbok Jum dengan cepat membawa sprei kotor milik Alex dan cangkir bekas teh ke arah dapur.


Hanum yang duduk di kursi dapur, mengamati Mbok Jum yang merendam sprei ranjang Alex dengan tatapan kosong. Melihat sprei itu, ingatan kegiatan semalamnya bersama Alex terlintas kembali.


"Aaaaaaa." Hanum menjerit kecil seraya mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


"Loh, Non Hanum sudah bangun. Mbok ga lihat tadi. Sudah sarapan?"


"Mbok ... mboook." Suara Hanum terdengar merengek ingin menangis.


"Kenapa?"


"Aku maluuuu," seru Hanum seraya menangkupkan wajahnya di atas meja.


"Malu opo to? ... eh, tunggu sebentar." Mbok Jum menghentikan percakapannya, karena ponselnya berbunyi.


"Pagi, Den. Ada apa?" Mbok Jum memberi kode pada Hanum dengan bibirnya, bahwa yang menghubunginya adalah Alex suaminya.


"Mmm ... tolong sampaikan ke Hanum, antar makan siang saya ke kantor," ucap Alex di seberang sana.


"Ini ada Non Hanum, mungkin Den Alex mau bicara langsung?" tanya Mbok Jum. Hanum spontan membesarkan matanya lalu mengibas-kibaskan kedua tangannya menolak ide dari Mbok Jum.


"Jangan!, eh, maksudnya ga usah. Mbok Jum aja yang sampaikan sama Hanum," ucap Alex tak kalah paniknya di seberang sana.


"Baik, Den." Mbok Jum menutup ponselnya dan berusaha menahan senyumannya.


"Kenapa, Mbok?" tanya Hanum penasaran.


"Seperti biasa, Den Alex minta Non Hanum bawakan makan siang ke kantornya."


"Aaahh, aku ada janji siang ini." Hanum mengacak-acak rambutnya.


"Anter dulu, Non. Suami diutamakan," ujar Mbok Jum masih berusaha menyimpan senyumannya.


"Suami, suami!" gerutu Hanum kesal seraya berjalan kembali ke kamarnya.


Sementara itu di kantor setelah memutus sambungan ponselnya, Alex terdiam. Bayangan kegiatan panas semalam kembali melintas di benaknya. Sisa-sisa kenikmatan di tubuhnya, masih dapat ia rasakan. Dengan mata menerawang, sudut bibirnya terangkat sedikit mengukir sebuah senyuman kecil.


Tanpa ia sadari, Cimoy berdiri di hadapannya dengan kening berkerut. Sekretarisnya itu terus memandangi kejadian yang sangat langka, selama ia bekerja di sana.


"Eh, kamu ngapain di situ?" Alex terkejut melihat Cimoy yang terngaga di hadapannya.


"Eh, itu minta tanda tangan Bapak," ucapnya seraya menunjuk berkas di atas meja Alex.


Alex berdehem sedikit mengatasi rasa malunya, lalu mengatur raut wajahnya kembali ke mode datar.


"Cimoy, kalau istri saya datang langsung suruh masuk aja," ujar Alex sebelum Cimoy menghilang dari balik pintu.


"I-istri??" Cimoy membelalak.


"Iya, istri saya antar makan siang," sahut Alex dengan kepala tertunduk berpura-pura sibuk dengan berkasnya.


...❤...


Setelah dibantu Mbok Jum dan Tini menyiapkan makan siang untuk suaminya, Hanum segera mandi dan berganti pakaian.


Ia memilih rok plisket putih panjang di bawah lutut, dipadu atasan oren dan cardigan putih. Alasan ia memakai rok panjang, karena untuk menyamarkan cara jalannya yang masih terasa mengganjal di area intinya.


Rambutnya yang panjang ikal di bagian bawah dan berwana coklat terang hasil salon, hanya ia gerai begitu saja.


"Non Hanum cantik pisan," puji Tini.


"Cantik dari mana, Tin. Lagi ga dandan saya, ga enak badan," keluh Hanum. Hari ini ia memang tidak memulas wajahnya dengan make up. Ia hanya memakai cream produk andalannya, dan lipcream berwarna nude.


"Begini aja sudah cantik, Non apalagi kalo dandan," sahut Tini.


"Kalo masih pertama, wajar kalo badannya sakit semua.ya, kan Tin?" tambah Mbok Jum.


"Iiih, Mbok Jum sama Tini nih ngomongin apa sih?" sergah Hanum dengan wajah memerah.


"Sudah cepet berangkat, Non. Suami sudah nungguin," goda Mbok Jum.


...❤...


Alex mengangkat wajahnya siap mengembangkan senyuman, saat pintu ruangannya terbuka. Sesaat sebelumnya, Cimoy mengatakan jika istrinya sudah datang membawa makan siang.


"Haai Aal, kamu udah nungguin yaaa." Suara mendayu manja mendekati meja Alex.


"Ngapain kamu datang kesini?" sergah Alex seraya melirik jam di tangannya.


"Bawain makan siang dong, Al. Kamu terlalu sibuk kerja, sampai lupa ini sudah jam makan siang. Siapa lagi yang perhatiin kamu kalo bukan aku." Ane terus berkicau seraya menyusun piring serta makanan yang ia bawa ke atas meja besar di ruangan Alex.


"Aku ga minta kamu untuk datang bawa makan siang ke sini, dan aku sudah ada yang mengurus, Ane!" ucap Alex tegas, seraya kembali melirik jarum jam di tangannya.


"Mana? mana yang kamu bilang mau mengurus kamu? Cimoy?" ejek Ane.


Dalam hati Alex mengumpati Hanum yang belum muncul, padahal waktu istirahat sudah setengah jam berlalu.


Sementara itu di lantai dasar, Hanum menarik nafas panjang. Ini kedua kalinya ia datang ke gedung ini, dengan penampilan yang jauh berbeda dari pertama ia kerja di kantor ini.


"Permisi, mau anter makan siang untuk Bapak Alex." Hanum mengembangkan senyuman ramah, pada dua receptionist yang memandangnya takjub.


"Sebentar," ucap salah satu receptionist lalu menghubungi Cimoy di lantai atas.


"Dengan siapa?" tanyanya.


Hanum menarik nafas sebelum menjawab, "Hanum," jawabnya. Ia lebih memilih menyebut namanya dari pada statusnya.


"Maaf, Mba, Bapak sedang ada istrinya di ruangan. Ini juga masih jam istirahat." Receptionist itu memandang Hanum dengan tatapan menyelidik.


Hanum terkejut dengan jawaban yang diberikan receptionist itu, jika ada istri Alex di ruangan, lantas dia siapa? Untunglah ia tadi menyebut namanya bukan status, mau taruh di mana wajah ini?


"Ow, maaf kalo gitu. Saya titip ini aja. Tadi Pak Alex yang pesan," ucap Hanum dengan suara tercekat.


"Mba Hanum ini yang dulu kerja di sini kan?" tanya salah satu receptionist. Hanum hanya mengangguk, ia sedang malas menanggapi pertanyaan seputar dirinya.


"Waah, sekarang cantik banget aku sampe pangling, pantes kayak pernah lihat. Mba Hanum sudah sukses ya? usaha catering sekarang?" Receptionist itu bertanya dengan antusias.


"Eh? iya, iyaa. Syukurlah," Hanum tertawa canggung, "Saya pamit dulu, banyak pesanan." Hanum melambaikan tangannya ramah dan langsung berlalu di sana.


Ponselnya yang rusak akhirnya ia tidak bisa memesan taxi online, membuatnya harus berdesak-desakan di dalam angkutan umum.


Saat berangkat tadi ia dibantu Tini memesan taxi online, tapi sekarang untuk menuju tempat Caroline ia harus naik angkutan umum.


Sementara itu di kantor, Alex menggeram marah saat Cimoy membawa sekantong makanan ke ruangannya.


"Dari siapa?" tanyanya, sebenarnya ia tahu dan mengenali tas yang dibawa Cimoy, tapi ia ingin memastikan kabar yang dibawa Cimoy.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Promosi punya teman, mampir di sana ya