CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Rapuh


Jonathan menganggukan kepala saat Jamilah menoleh untuk kesekian kalinya. Gadis itu tampak ragu untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan Jonathan yang duduk di bangku kayu miliknya.


"Tidur," ucap Jonathan dengan gerakan bibir tanpa suara. Jamilah mulai masuk ke dalam kamar dan menutup tirai kamarnya yang memang tidak mempunyai daun pintu.


Pintu depan rumah Jamilah memang sengaja di buka lebar oleh Jonathan, agar tidak mengundang fitnah sekaligus mengawasi kondisi mobilnya yang masih menancap di dalam lumpur.


Hujan lebat, petir serta guntur semalaman membuat keduanya sama-sama terjaga namun di tempat yang berbeda. Jamilah membolak-balikan badan tanpa bisa terpejam, sedangkan Jonathan sibuk menjaga pikirannya agar tetap waras saat menyadari ada gadis yang disukai tidur di kamar sebelah.


Saat menjelang subuh, di saat hujan sudah mulai mereda. Suara nafas halus orang tertidur lelap terdengar dari kamar Jamilah. Pelan-pelan Jonathan berjalan ke arah kamar dan menyibak sedikit kain yang menutupi kamar satu-satunya di rumah itu.


Dari ambang pintu kamar, Jonathan menatap lekat wajah gadis yang sudah membuat kacau hari-harinya. Jonathan semakin yakin jika ia mencintai Jamilah dan ingin memiliki gadis itu sepenuhnya. Jonathan merasa lega hadiah yang ia berikan tadi tidak salah sasaran.


Jonathan segera berlari kecil kembali ke kursinya saat tubuh Jamilah menggeliat.


"Su-sudah bangun?" tanya Jonathan tergagap, takut aksi mengintipnya tadi ketahuan.


"Mau sholat," ucap Jamilah malu sembari mengikat rambutnya yang panjang.


"Ikut boleh?" Jamilah tertawa pelan lalu mengangguk.


Tepat jam tujuh pagi, mobil derek yang dipanggil Jonathan sudah berhasil menarik mobilnya ke tanah yang lebih padat. Untunglah para penghuni di sana tidak terlalu peduli dengan keberadaan orang asing di daerah mereka.


Jonathan menawarkan mengantar Jamilah ke restoran tempatnya bekerja, sekalian ia pulang untuk mandi dan berganti pakaian.


Jonathan melirik ke arah jemari Jamilah, ia tidak menemukan hadiah pemberiannya semalam. Suasana hatinya mulai memburuk, di benaknya timbul prasangka yang bermacam-macam. Ingin ia bertanya, tapi takut akan jawaban yang mengecewakan.


Mereka berdua hanya diam di sepanjang perjalanan. Jonathan menurunkan Jamilah tepat di depan restoran tempatnya bekerja yang masih tertutup rapat.


"Terima kasih ya, Pak." Jonathan tersenyum tipis dan mengangguk, tapi tatapannya tidak diarahkan ke wajah Jamilah. Matanya terpaku di jari-jari gadis itu.


Kedatangan Jamilah di sambut oleh Pak Reno yang sudah bersiap membuka pintu restoran. Jonathan mengamati dari dalam mobil, Jamilah dan Pak Reno yang terlihat akrab dan saling melempar candaan. Rasa kecewa menggelayuti perasaan Jonathan, ia merasa ditolak tanpa kata-kata.


...❤...


"Jo! kamu ngelamun apa sih?" tegur Mamanya dengan suara lembut.


"Ga ada, Ma. Cuman capek aja." Jonathan mencoba tersenyum.


"Cepet coba jasnya, tinggal kamu yang belum." Mama menunjuk ke arah pegawai bridal yang sudah siap dengan jas warna biru gelap di tangannya.


Sudah satu minggu ini keluarga besar Prasojo sedang mempersiapkan resepsi pernikahan putra sulung mereka yang terlambat. Semua menyambut gembira, tapi tidak dengan Jonathan. Wajahnya semakin tidak bisa mengulas senyum akhir-akhir ini.


Jika dulu Alex yang kaku susah mengangkat sudut bibirnya dan ia yang selalu ceria dan usil, sekarang keadannya terbalik. Kakaknya itu terlihat bahagia mempersiapkan tiap detail pesta pernikahan sekaligus bersemangat menyambut sang calon buah hatinya, sedangkan Jonathan sekarang tampil dengan tatapan kosong dan hampa meski sekelilingnya sedang tertawa bahagia.


Separuh jiwa Jonathan sudah dibawa Jamilah, tanpa gadis itu tahu jika ada seorang pria yang sangat mengharapkannya.


"Sabtu kantor diliburkan, Jo. Jadi kamu juga bisa istirahat. Mama lihat belakangan ini kamu tambah kurus, muka juga kusut gitu. Hilang deh anak ganteng Mama." Mama mencubit pipi Jonathan yang sedang menyetir.


"Maaa." Jonathan menepis pelan tangan Mamanya yang mulai menyakiti pipinya.


"Gimana kabar asistenmu?"


"Hah?" Jonathan menoleh cepat ke arah Mamanya. Ia terkejut tiba-tiba Mamanya melontarkan pertanyaan tentang orang yang sudah membuat hatinya galau.


"Siapa namanya?" tanya Mama sekali lagi.


"Jamilah."


Jonathan terdiam, ia pun juga tidak tahu pasti kenapa Jamilah memilih keluar dari pekerjaannya. Alasannya yang disampaikan pun kurang memuaskan bagi Jonathan.


"Pingin cari yang lebih baik katanya."


"Gaji? memangnya kamu ga sanggup gaji dia besar, Jo?"


"Hhheeeh, ga tau ah, Ma!" Jonathan memukul setir mobilnya kesal. Pembicaraan tentang Jamilah ini membuat emosinya tersulut.


Jonathan melirik Mamanya yang terdiam setelah ia hardik. Timbul rasa bersalah di dalam hatinya, tak pantas ia berkata kasar pada orang tuanya yang tidak tahu apa-apa.


"Maaf," cicitnya pelan.


"Mama paham." Mama tersenyum sembari menepuk-nepuk lengannya. Hanya dua kata yang diucapkan Mamanya, tapi ibarat rangkaian kalimat motivasi yang menguatkannya.


Penderitaan Jonathan semakin lengkap saat acara kumpul keluarga besar sebelum acara resepsi kakaknya. William datang menggandeng seorang wanita yang cantik dan terlihat dewasa.


Sudah bisa ditebak apa pertanyaan yang tidak berperasaan dilontarkan anggota keluarganya.


"Jo, kapan nih giliranmu. Sendirian terus?"


"Betah jomblo, Jo?"


"Wanita nomer urut berapa yang besok kamu ajak ke pesta Alex?"


"Sudah ga laku, Jo?"


"Waah, kali ini kalah sama William kamu."


"Hai, Kak Jo. Kenalin dong ceweknya." Kali ini adik perempuannya yang beda ibu menyapanya dan ia tidak bisa menghindar.


Jonathan melirik ke arah belakang tubuh adiknya, ia menghela nafas sedih. Bahkan Maura pun sudah menggandeng seorang cowok tampan.


"Lagi ga sama siapa-siapa," sahutnya pelan.


"Kapan nyusul?" tanya Jonathan sembari memberi kode ke arah pasangan Maura dengan kepalanya.


"Nyusul kemana?"


"Nikah kayak Kak Alex."


"Aku tunggu Kak Willi sama Kak Jo, nikah dulu baru aku. Ga mau buru-buru, mahal duit pelangkahnya." Maura terkikik geli dengan ucapannya sendiri.


"Aku masuk dulu ya, agak pusing." Jonathan memilih menghindar dan menghilang pelan-pelan dari kumpulan keluarga besarnya.


Di dalam kamar, Jonathan tidur telentang. Wajah Jamilah dengan mata bulat berbinarnya, terus berganti-ganti memenuhi isi kepalanya.


"Milah ... kamu lagi ngapain? apa sih lebihnya dia dibanding aku? apa karena dia bisa membuat kamu sering tertawa? aku bisa kok buat kamu ketawa." Jonathan terus berbicara dengan bayangan Jamilah.


"Kamu tahu? kamu itu gadis yang nakal. Gara-gara kamu aku jadi ga mood deket cewek-cewek lain. Padahal mereka tiap hari telepon, kirim pesan, bahkan mau keluar uang berapapun asal aku ikut bersenang-senang dengan mereka. Kamu benar-benar sudah mengacaukan hidupku, Mil."


"Kamu jahat, Milah." Jonathan menutup matanya dengan sebelah lengannya, air matanya mulai mengalir deras. Seumur hidup baru ini ia menangis karena wanita.


...❤🤍...