
Lirikan sinis Hanum, hanya ditanggapi dengan cengiran geli oleh Jonathan. Ia menganggap pernikahan Kakaknya ini, seperti pertunjukan ludruk yang sungguh menghibur.
"Lalu malam ini dia tidur di mana, Jo? kamu ga mikir apa?" sergah Mamanya kesal.
"Ya tidur di kamar Kakak lah, kan suami istri," sahut Jonathan tak acuh seraya kembali lagi ke ruang makan.
"Yang bener aja kamu, Jo. Kakakmu bisa pingsan ada perempuan model seperti di kamarnya," ucap Mamanya sambil mengikuti langkah putranya dari belakang, meninggalkan Hanum yang masih berdiri di ruang tamu.
Lalu aku? ... hah, ngapain juga aku nurutin adek somplak itu.
"Mba, saya anter ke kamar den Alex ya." Tiba-tiba suara ramah milik Mbok Jum terdengar dari balik tubuhnya.
"Eh, Mbok. Memangnya ga apa-apa? Mamanya Alex belum bilang boleh loh."
"Kan sudah suami istri, sah-sah aja sekamar ga dosa. Taruh barang aja dulu, terus bersih-bersih badan. Nanti apa kata den Alex aja sebagai suami, atau Mba mau tunggu di sini sampe den Alex pulang yo ga po-po," tawar Mbok Jum.
"Saya ngikut aja deh, tapi bantuin bilang sama Mamanya Alex ya Mbok, aku takut." Saat ini hanya Mbok Jum yang membuatnya merasa nyaman di rumah ini, jadi lebih baik menempel pada Mbok Jum adalah keputusan yang tepat.
"Iya, nanti permisi dulu sama Bapak dan Ibu."
Hanum mengikuti langkah tua Mbok Jum ke arah kamar Alex, yang ternyata melewati ruang makan di mana kedua orang tua Alex dan Jonathan duduk makan bersama.
"Permisi, Tuan, Nyonya, istrinya den Alex saya antar ke kamar ya," pinta Mbok Jum santun.
"Kamar yang mana, Mbok?" tanya Mama Alex.
"Yo, kamarnya den Alex, Nya, kan sudah jadi suami istri." Wajah Mama Alex seperti akan memprotes tapi tertahan, karena ia sangat menghormati Mbok Jum yang sudah melayani keluarga Pak Beni, sejak suaminya itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Sedangkan Pak Beni jika Mbok Jum sudah ikut memberikan pendapat, ia akan merasa segan menolak.
"Silahkan masuk Mba. Bisa mandi, bersih-bersih dulu kayaknya capek banget. Den Alex kalo pulang malam, diatas jam sepuluh." Hanum hanya tersenyum kikuk. Ternyata Mbok Jum menyadari penampilannya yang berantakan, dan mungkin bau keringat karena tidak sempat mandi sebelum berangkat.
"Sudah makan?" tanya Mbok Jum sebelum menutup pintu.
"Sudah Mbok, terima kasih," ucap Hanum. Sebenarnya ia lapar, tapi lebih baik tetap menahan lapar dari pada harus bertemu singa, macan dan buaya di meja makan.
Hanum memandang sekeliling kamar Alex. Suasana hitam putih khas pria mendominasi. Tidak ada hiasan di dinding dan di atas nakas. Kamar ini terkesan kosong dan dingin sama seperti pemiliknya.
Puas berputar-putar dalam kamar, Hanum membuka tasnya untuk mengambil perlengkapan mandi dan baju ganti. Setelah akad tadi pagi sampe malam ini, ia sama sekali belum sempat membersihkan diri seharian karena sibuk menata koper yang akan dibawanya ke rumah Alex.
Langkah Hanum terhenti di depan kamar mandi, tiba-tiba ia menyadari sesuatu hal.
Aku sudah menikah dengan Alex tadi pagi, berarti malam ini adalah ... malam pertama. Mata Hanum terbelalak senang. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan terjadi di atas kasur.
"Aaaawwwwww, yiiihaaaa!!" Ia spontan menjerit tidak bisa menahan rasa gembiranya. Kedua tangannya mengusap-usap ranjang Alex yang besar dan empuk.
Sementara di ruang makan, kedua orang tua Alex dan Jonathan saling berpandangan mendengar sorak gembira Hanum dari dalam kamar.
"Kasihan Kak Alex," ucap Jonathan sembari menggelengkan kepalanya seakan ikut prihatin.
"Gara-gara kamu, sembrono!" seru Papanya kesal.
"Akuuu lagi, ya udahlah," sahut Jonathan kesal.
"Udah-udaah, ribut aja. Besok diselesaikan semua." Mama Alex menengahi, "Semoga ga terjadi apa-apa nanti malam," lanjutnya khawatir.
"Terjadi apa maksudnya?" tanya Papanya ikut khawatir.
"Ituu ... malam pertama," bisik Mamanya, takut jika Jonathan ikut mendengar.
"Ya bagus dong, Mama sama Papa bisa cepat gendong cucu." Jonathan yang menyahut. Ternyata ia ikut mendengarkan apa yang Mamanya bicarakan.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Hanum benar-benar mempersiapkan tubuhnya untuk menyambut malam spesialnya dengan suaminya. Ia berendam dalam bathup yang sudah ia tuang hampir setengah botol sabun.
Hampir satu jam lamanya ia berendam, menyikat tubuhnya dan mencukur habis semua bulu yang tumbuh di tubuhnya kecuali tentunya yang di ... di situlah.
Setelah mandi, ia mengoleskan seluruh tubuhnya dengan bodylotion merk sejuta umat, dan menyemprotkan parfum yang bisa tercium hingga pos satpam.
Hanum juga menyisir rambutnya yang ikal, kering serta mengembang tidak beraturan dan mengikatnya tinggi hingga terlihat tengkuknya yang berlipat.
Tak lupa ia juga memakai baju tidurnya yang paling ia anggap seksi, berupa babydoll warna cerah tanpa lengan serta celana pendek yang memperlihatkan lengan dan pahanya yang besar.
Hanum berdiri di depan kaca yang menampilkan seluruh tubuhnya. Ia berputar-putar melihat penampilannya. Merasa ada yang kurang dengan penampilannya, ia membuka tasnya lalu mengambil bedak tabur andalan dan menyapukan di wajahnya. Berulang-ulang hingga ia yakin tonjolan merah yang bertabur di wajahnya bagaikan bintang siap meledak itu, sudah tidak mengganggu pemandangan lagi.
"Aku sudah siap," ucap Hanum puas.
"Aku harus bilang apa yaa, kalo Alex datang." Hanum merasa gugup dan mulai menggigiti kukunya.
"Selamat datang Alex, eh bukan ... Selamat datang Mas, kamu capek? mau mandi dulu, ato langsung makan? aaaawwwww ...."
Hanum kembali menjerit dan berputar-putar di tengah kamar Alex, tanpa ia sadari pintu kamar sudah terbuka dan Alex sudah berdiri di sana menatapnya dengan tajam.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Alex datar.
"Aah, kam--, Al-- , eh ... Mas sudah pulang?" Hanum tergagap.
"Bau apa ini?!" Alex mengibas-ngibaskan tangannya mengusir aroma yang berasal dari parfum dan bodylotion Hanum yang bertabrakan.
Sementara tangan yang satu mengusir aroma yang menurutnya tajam, tangan yang satunya menjepit hidung dengan wajah mengernyit jijik.
"Mas ... ma-mau makan ato langsung mandi?" tanya Hanum lirih. Ia sudah merasa adanya penolakan dari Alex.
"Aku tanya kamu ngapain di sini!" ulang Alex dengan tajam.
"A-aku kan istri Mas Alex," cicit Hanum tertunduk.
"Berhenti panggil aku mas!" seru Alex lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Mbook! ... hooeekk, Mbok Jum!" Hanya beberapa saat di dalam kamar mandi, Alex berlari keluar kamar memanggil Mbok Jum.
"Ada apa toh?" tanya Mamanya panik. Tak hanya Mbok Jum yang datang karena teriakan Alex, tapi Mama dan adiknya ikut menghampiri ke kamarnya.
"Mbok ... coba lihat, rambut siapa itu di kamar mandi .. hooeekkk." Alex merasa mual dan terus memegang mulut dan perutnya menahan sesuatu yang akan keluar dari sana.
...❤❤...
Ingatkan lagi ya 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰