
Jonathan, William serta pengikut setia mereka memacu langkah larinya semakin cepat. Kedua pria bertubuh besar dan bertato itu sudah menunggu mereka dengan senjata tajam di tangan mereka.
William yang mempunyai kemampuan bela diri, dengan mudah melemahkan pertahanan satu orang lawan. Sementara yang satunya lagi diserbu rame-rame oleh anak buah William dan Jonathan.
"Kak, banguuun!" Jonathan mengguncang tubuh Alex.
Saat ia membalik tubuh kakaknya dan melihat tanah yang sudah basah terkena darah yang mengalir dari tubuh kakaknya, Jonathan pun membeku.
"Wil," panggil Jonathan lirih, "WIL!" serunya saat William masih tidak mendengar karena asyik menjadikan lawannya bulan-bulanan.
"To-tolong ...." Jonathan memandang William dengan wajah pias.
"Dasar bego!, kamu ngapain bengong, angkat cepat!" William langsung mengangkat tubuh Alex bagian atas, sedangkan Jonathan mengangkat kedua kaki kakaknya.
Dengan sedikit tergesa mereka berdua membawa Alex masuk ke dalam mobil William, setelah sebelumnya William meneriakan pada salah satu anak buahnya agar melindungi anak-anak panti.
"Kaaakkk ... jangan mati duluuu. Aku ga mau nanggung biaya hidup istri dan anakmu!" Jonathan terus sesenggukan seraya menepuk-nepuk pipi Alex.
"Jangan cengeng dong, Jo!" seru William seraya melirik dari kaca spion. Jonathan meraung di kursi belakang, dengan Alex di pangkuannya. Baju dan tangannya sudah penuh dengan darah kakaknya.
"Takut aku, Wil. Kalo kakakku mati, aku bakal disuruh pegang perusahannya. Kamu 'kan tau aku ga suka kerja kayak gituan." Wajah Jonathan sudah kusut bersimbah air mata.
"Kamu sedihnya kayak ga ikhlas gitu sih?!" William melirik kesal dari kaca spion.
Sampai rumah sakit, Alex langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.
"Kamu ga hubungi keluargamu?" tanya William saat mereka sudah berdua duduk di ruang tunggu IGD.
Jonathan menimbang-nimbang siapa yang akan dikabari. Jika Mama dan Hanum jelas tidak mungkin, kedua wanita itu akan histeris dan dapat menambah situasi menjadi panik.
Jonathan memilih mengabari Papanya. Walaupun saat ini Papanya sedang membuat Pak Eko sibuk, agar tidak menyadari jika kejahatannya sudah diketahui.
Ia khawatir jika Pak Eko ada di samping Papanya saat ini, dan Papanya tahu jika putra sulungnya terluka akibat kelakuan sahabatnya itu, sudah jelas Papanya akan langsung menghajar bahkan membunuh Pak Eko saat itu juga.
"Di jalan mau pulang. Bagaimana?" tanya Papa antusias
"Alex terluka. Aku di rumah sakit," ujar Jonathan singkat berusaha meredam tangisnya.
"Kenapa?!" Papa di seberang sana sudah seperti akan meledak.
"Papa kesini aja dulu." Jonathan menyebutkan nama sebuah ruma sakit.
"Keluarga Alexander Putra?" seorang perawat keluar dari ruang IGD.
"Ya, saya sus." Jonathan dengan cepat mendekat di susul oleh William.
"Bapak Alexander sudah ditangani, lukanya ada di pergelangan tangan, dan di bagian dada. Walaupun lukanya cukup dalam, tapi beliau baik-baik saja," papar perawat seraya tersenyum.
"Hahhh, syukurlah." Jonathan duduk terkulai lemas di depan perawat cantik itu.
"Sudah bisa dijenguk sus?" tanya William.
"Belum, Pak Alex masih belum sadar. Setelah ini kami akan bawa ke ruang perawatan," ujar perawat itu seraya memandang kelakuan Jonathan dengan geli.
"JO!" Papa dari arah pintu masuk berlari mendekati mereka berdua.
"Untung Kak Alex selamat sebelum Papa dateng. Kalo sampe ga selamet, arwah Kak Alex bisa Papa perintah masuk lagi ke dalam badannya." Jonathan berbisik pada William.
...❤❤...
Lanjut agak siangan ya