CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Kamu Cantik


"Stop!" Hanum menahan kedua bahu Alex agar tidak semakin mendekat, "Bisa ga Bapak bicaranya sambil duduk secara normal?"


Alex terdiam mencerna kalimat Hanum. Ia memperhatikan posisi duduknya yang dikatakan Hanum tak normal. Ternyata ia sedang dalam posisi berlutut dan membungkuk seperti hendak menerkam Hanum.


"Eheem," Alex memundurkan tubuhnya lalu duduk di samoing Hanum, "Aku cuman minta kamu jangan panggil Bapak lagi, ga ada bedanya sama Cimoy di kantor," tambah Alex pelan.


Sebenarnya ia tadi ingin mengajak Hanum mengulangi kegiatan panas seperti semalam, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan keinginannya itu pada Hanum.


"Saya ga boleh panggil Mas sama Bapak, lalu saya harus panggil apa?" tanya Hanum bingung, "saya panggil Den Alex aja ya seperti Mbok Jum?" putusnya, membuat mata Alex membeliak.


"TERSERAH!" seru Alex geram lalu merebahkan tubuhnya membelakangi Hanum dengan gerakan kasar.


Hanum ternganga melihat tingkah Alex yang tak ubahnya seperti anak kecil merengek, jika tidak dipenuhi permintaannya.


Namun setidaknya ia aman. Alex tidak akan mengganggunya malam ini. Ia bukan tidak mengerti apa yang diinginkan suaminya tadi. Mata Alex memancarkan gairah yang siap meledak, tapi ia tidak ingin jika hanya dibutuhkan sebagai pemuas ranjangnya.


Kenyataan yang ia terima siang tadi, bahwa ada wanita selain dirinya yang lebih diakui Alex sebagai seorang istri, menyadarkan Hanum jika sewaktu-waktu ia harus siap ditendang dari ranjang ini.


Saat ini yang Hanum inginkan adalah, menjalankan hidupnya yang baru. Kesempatan emas menjadi seorang model perawatan kecantikan, mengalihkan keinginan awalnya untuk memiliki Alex.


...❤...


"Hanum, kamu makan di sini jangan di dapur lagi," ucap Mama saat Hanum membawa mangkuk berisi nasi goreng saat sarapan.


Hanum menarik kursi kosong di sebelah Mama yang berseberangan dengan kursi yang diduduki Alex.


Suasana pagi ini saat sarapan cukup hening, hanya denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Tiba-tiba kalimat Mama membuat tiga orang yang duduk di sekitar meja makan terbatuk karena tersedak, "Kamu belum hamil, Num?" Papa, Alex dan Hanum terkejut lalu berebut mengambil minum karena tersedak.


"Kalian kenapa?, pertanyaan yang wajar kan?" tanya Mama tanpa rasa bersalah.


"Maaf, Bu. Saya sekarang hanya menunggu keputusan cerai dari Den Alex," ujar Hanum santun.


"Ce-cerai?? kamu panggil apa dia tadi? Den??" Dua kata dari Hanum membuat Mama terkejut. Begitupun Alex ia tidak menyangka Hanum benar-benar memanggilnya seperti sebutan Mbok Jum kepadanya.


"Saya ga boleh panggil Mas sama Bapak. Saya bingung mau panggil apa yang pantas, jadi saya manggilnya seperti Mbok Jum biasanya."


"Kamu tuh istrinya, ya jangan panggil seperti itu!" ucap Mama kesal, "Kamu juga, Lex, kenapa istrimu kok ga boleh panggil kamu Mas. Mau dipanggil apa kamu?"


"Minta dipanggil sayang mungkin," celetuk Jonathan.


"Bagus itu, panggil sayang aja, Num," usul Mama dengan wajah berbinar. Alex pun tidak keberatan bahkan terlihat senang. Semburat merah di wajahnya tidak bisa ia sembunyikan, walau raut wajahnya terlihat datar.


Hanum menggeleng pelan, "Bukannya ga mau, tapi saya ga pantes. Den Alex sudah punya istri pilihan sendiri, kemarin juga datang ke kantor saat jam makan siang. Ya kan, Den?" Wajah Alex kembali menggelap mendengar kalimat Hanum yang terkesan menyindirnya.


"Istri datang ke kantor? siapa, Lex?" Mama terlihat tidak suka.


"Ane ya?" Tidak dengan Papa yang terlihat antusias dengan perkataan Hanum.


Alex hanya mengangguk malas menanggapi pertanyaan Papanya.


"Kamu masih berhubungan dengan Ane? kalau gitu kamu harus segera putuskan, Lex," lanjut Papa bersemangat.


"Papa nih gimana sih!" seru Mama tak suka.


"Loh, yang jalankan anakmu ya biarkan dia aja yang putuskan. Toh, Hanum sepertinya sudah ikhlas, ya kan Num?" tanya Papa beralih ke Hanum.


Alex mengangkat wajahnya menanti jawaban wanita yang masih berstatus istrinya itu. Hanum terdiam lalu menatap Alex, beberapa detik mereka saling bertatapan lalu Hanum mengangguk pelan. Ia sedikit kecewa saat suaminya tidak menyanggah perkataannya bahwa Alex mempunyai istri pilihan sendiri.


"Nah kan." Papa tersenyum puas.


"Gimana toh Num, kalian kan sudah ... aaah!" Mama tampak kecewa. Mama langsung berdiri dari duduknya dan pergi menjauh dari sana.


"Kalo ga ada yang dipanggil sayang, aku mau," celetuk Jonathan.


Klenting!


Alex melepaskan alat makannya begitu saja, lalu langsung berdiri dan menjauh dari meja makan sama seperti Mamanya.


Setelah membantu Tini mencuci piring yang digunakan saat sarapan, Hanum masuk ke dalam kamar Alex. Ia terkejut saat mendapati suaminya itu belum berangkat kerja dan masih duduk di depan meja kerjanya.


"Eh, Den Alex belum berangkat kerja?"


"Sekali lagi aku dengar kamu memanggilku dengan sebutan itu, aku ikat kamu di jendela itu," ancam Alex seraya menunjuk jendela kamar yang terbuka lebar.


"Jadi saya harus panggil apa? Sayang, seperti yang Jonathan bilang?" sindir Hanum.


"Terserah," sahut Alex seraya melemparkan pandangannya ke luar jendela. Jawaban yang sama seperti semalam, namun kali ini diucapkan dengan nada yang sangat pelan.


Hanum terkejut Alex tidak marah dengan sindirannya, bahkan terlihat senang dengan usul panggilan barunya.


"Beneran mau dipanggil sayang? calon istrinya nanti ga marah?" tanya Hanum.


"Banyak bicara! Cepat ganti pakaian, kamu ikut ke kantor hari ini," seru Alex dengan wajah memerah.


"Ngapain saya harus ikut ke kantor?"


"Ada yang harus kamu kerjakan di sana."


"Besok aja bisa ga? Nanti siang saya ada acara persiapan grand launching produk 'Aku Cantik', karena saya yang jadi model utamanya, jadi saya harus datang," papar Hanum.


"Aku ga peduli sama pekerjaanmu jadi model produk 'Kamu Cantik' mu itu, cepat ganti pakaianmu."


"Nama produknya Aku Cantik," ralat Hanum.


"Iyaa, Kamu Cantik. Cepat ganti pakaianmu!" seru Alex masih tak sadar.


"Jadi saya cantik ya?" Hanum tersenyum saat melihat wajah Alex yang memerah malu.


"Itu produknya bukan kamu!"


"Iya, nama produknya 'Aku Cantik', kalo saya 'Kamu Cantik'." Hanum semakin senang menggoda Alex yang semakin terlihat salah tingkah.


"Kamu itu cerewet sekali, aku sudah terlambat. Cepat ganti bajumu!" seru Alex menutupi rasa malunya.


"Ini saya mau ganti baju, sayang masih mau tetap duduk di sana?" tanya Hanum dengan suara yang menggoda.


Wajah Alex semakin terbakar mendengar sebutan baru yang sengaja disebut Hanum dengan nada mendayu. Tanpa berkata apapun, ia berdiri dari kursinya lalu berjalan tanpa arah. Inginnya keluar dari kamar, malah masuk kamar mandi. Hanya beberapa detik di dalam sana, Alex keluar lagi dan langsung berjalan ke arah pintu keluar.


Saat melewati Hanum yang masih mengulum senyum melihat tingkah aneh suaminya, Alex berkata sembari tertunduk, "Aku tunggu di luar."


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Promosi punya teman, mampir di sana ya