
Ketukan di pintu itu semakin keras dan mengganggu. Jonathan tahu orang di balik pintu itu tidak akan berhenti jika pintu tidak dibukakan baginya.
Jonathan memasang wajah lelah sebelum membuka pintu kamarnya, tapi setelah itu ia bernafas lega saat melihat senyum lebar kakak iparnya di balik pintu.
"Sudah tidur ya?" tanya Hanum tanpa rasa bersalah. Jonathan hanya menyengir menanggapinya. Kalau tahu sudah tidur kenapa pintu diketuk terus?! Batinnya kesal.
"Di cari Kakak kamu," ucap Hanum masih dengan senyum terukir lebar. Jonathan tidak jadi bernafas lega, rupanya kelegaannya harus di tunda dulu.
"Sekarang?" tanya Jonathan sembari menguap besar seolah mengatakan aku capek sekali.
"Sebaiknya sih sekarang, biar sama-sama bisa tidur nyenyak." Kening Jonathan berkerut mencoba mengartikan kalimat Hanum.
Jonathan mengikuti langkah Hanum dari belakang. Kakak iparnya itu entah tidak mau memberi tahu, atau benar-benar tidak tahu untuk apa Kakaknya ingin bertemu dengannya malam-malam begini. Berbagai prediksi melintas di kepala, diantaranya tentang lecet pada mobil kesayangan kakaknya.
Kak Alex duduk setengah berbaring di atas ranjang saat Jonathan masuk ke dalam kamar. Benar kata orang perilaku seseorang bisa merubah suasana di sekitarnya. Kamar ini terasa lebih dingin menusuk saat kakaknya menatapnya tanpa datar ekspresi.
"Ada apa, Kak?" tanya Jonathan sedikit gugup. Padahal jika berkumpul di ruang makan, ia bisa santai menggoda kakaknya, tapi begitu masuk ke kamar yang merupakan daerah kekuasan Alex, Jonathan tiba-tiba kehilangan kemampuan bercandanya.
"Besok ke kantor, gantikan aku," ucap Alex singkat dan datar.
Jonathan menelan ludahnya sebelum menjawab. Kakaknya ini memang tidak bisa berbasa basi sedikit, setidaknya menanyakan apakah dia ada kegiatan lain?, keberatankah menggantikan tugasnya sebentar? atau minimal minta tolong. Semua ucapannya bagaikan perintah tak terbantahkan.
"Mulai minggu depan bisa ga? kalau ga ada persiapan kan ga enak." Jonathan mencoba menawar.
"Apa yang mau kamu siapkan? otak?"
Kalau bukan kakaknya yang mengatakan itu, mungkin tangan Jonathan sudah ada di leher Alex sekarang.
"Baju lah kak, aku kan ga pu---"
"Buka lemari, pilih yang kamu suka."
"Sepatu juga, aku ga punya sepatu kerja, punyanya ya---"
"Beda ukuranlah, kalo baju bisa pinjam. Sepatu mana bisa?" Jonathan menemukan alasan yang tepat.
"Tugasmu hanya duduk di belakang meja, sepatu ga penting."
"Mana bisa begitu, aku juga harus menghargai karyawan di sana. Mereka tampil rapi, akupun juga har---"
"Kalau masih banyak alasan, tagihan perbaikan mobil aku minta dilunasi minggu ini."
"Aa ... ee ... mm, baiklah," sahut Jonathan pasrah.
"Besok sebelum jam delapan pagi, kamu sudah harus ada di kantor. Besok ada rapat pemegang saham sekalian pengenalan kamu sebagai wakilku yang resmi."
"Mulai besok semua keputusan perusahaan ada di tanganmu, kecuali untuk hal-hal yang krusial boleh kamu diskusikan denganku."
Jonathan hanya mengangguk-anggukan kepala pasrah mendengar perintah yang di sampaikan Alex, sedangkan kakak iparnya berdiri di belakang suaminya, memberi semangat dengan gerakan dan bahasa bibir tanpa suara.
Jonathan bukannya merasa semangat, tapi merasa geli melihat tingkah laku Hanum yang karakternya sangat bertolak belakang dengan kakaknya.
"Kamu dengar apa yang aku bilang, Jo?"
"Dengar. Semua keputusan ada di tanganku," ucap Jonathan yakin.
"Bukan itu, aku bilang besok jangan terlambat." Alex menoleh ke arah Hanum yang membuat adiknya tertawa kecil lalu memasang wajah angkernya, sontak kakak iparnya itu terdiam tak berani bergerak.
...🤍❤...
Mampir sini yuk karya kedua yang udah tamat