
Hujan lebat langsung turun tak berapa lama, setelah Hanum dan Arthur keluar dari komplek elit kantor milik Arthur. Banjir di berbagai ruas jalan, ditambah padatnya kendaraan orang pulang kerja menambah kemacetan di sore hari.
Waktu yang harusnya mereka tempuh dari kantor Arthur hingga rumah Alex hanya satu jam, menjadi dua jam lebih hari ini.
Hanum mendesah dalam hati saat melihat mobil Alex sudah terparkir sempurna di halaman rumah.
"Mas Arthur mau kemana?" Hanum bertanya heran saat Arthur akan ikut turun dari mobil.
"Pamit," ujar Arthur tanpa rasa bersalah.
"Ga usah." Hanum menggelengkan kepala.
"Sudah pulang?" Hanum sedikit terlonjak saat suara dingin Alex terdengar. Suaminya itu berjalan pelan ke arah mereka berdua yang masih berdiri di pinggir mobil.
"Tadi hujan keras di tengah kota, jadi banjir dan macet. Maaf kalau malam sampai rumahnya," ujar Arthur.
"Ya. Terima kasih," sahut Alex datar.
"Saya permisi dulu. Hanum, aku balik dulu ya," pamit Arthur masih dengan senyum ramahnya.
"Iya, makasih Mas, sudah diantar." Hanum sedikit membungkukan badannya.
Begitu mobil Arthur menyala dan melaju, Alex langsung berbalik dan berjalan menjauh dari Hanum tanpa berbicara sedikitpun.
Hanum mengikuti langkah Alex dari belakang. Di pandanginya tubuh suaminya, pundaknya yang lebar bagaikan dinding yang kokoh tapi menakutkan untuk disentuh.
Hanum langsung masuk ke dalam kamar dan segera mandi, sedangkan Alex, ia tidak tahu kemana suaminya itu menghilang setelah masuk ke dalam rumah.
Saat selesai mandi, Hanum mendapati Alex sedang duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan terlipat di dadanya. Tatapannya lurus ke arah pintu kamar mandi, seperti memang sengaja menunggunya selesai mandi.
"Kenapa ga minta jemput?" Alex mulai membuka pembicaraan.
"Biasanya aku kan memang naik taxi online," ujar Hanum seraya membuka lemari pakaian.
"Taxi onlinenya tadi susah dapetnya. Mas Arthur nawarin anter karena sudah mendung," jelas Hanum pelan.
"Lebih milih pulang dianter dia dari pada minta jemput?" Alex terus mengejar jawabannya.
Hanum menaruh pakaian gantinya di atas ranjang, lalu ia menatap suaminya lelah. Ia benar-benar lelah secara fisik dan mental hari ini.
"Aku ga mau repotin Mas Alex, lagi pula arah dari kantor Mas Alex ke tempat pemotretan lalu pulang ke rumah, itu jauh dan memutar."
"Lantas?"
"Ya udah seperti tadi yang aku bilang. Aku tadi kebetulan diantar karena mau hujan, dan juga ga dapet taxi online. Aku juga ga mau repotin Mas Alex, karena jaraknya kan cukup jauh. Lagi pula Mas Arthurnya juga pamit baik-baik dan sudah jelasin kenapa dia yang anter pulang," jelas Hanum dengan sedikit emosi.
"Jadi bisa aja tiap kali hujan dan susah dapet taxi online, kamu pulang sama dia?"
"Kok jadi kayak gitu mikirnya?" Hanum merasa kesal dengan tingkah Alex seperti anak kecil yang sulit diberi pengertian.
Padahal rencananya belum ia jalankan, bagaimana jika ia benar-benar mengikuti saran Ane, Hanum sama sekali tidak bisa membayangkan apa reaksi suaminya itu.
"Berhenti jadi model iklan cream itu," tandas Alex
"Aku ga mau!"
"Aku minta kamu berhenti mulai besok! biar aku yang hadapin agency mu itu, berapapun aku bayar asal kamu tetap diam di rumah." Alex berdiri menghadap Hanum.
"Aku ga mau!!" Hanum menatap suaminya dengan pandangan menantang.
Alex yang mulai emosi ingin membalas perkataan istrinya urung, karena dari ruang keluarga terdengar suara Mamanya yang berbicara dengan Papanya dengan nada yang juga tinggi.
...❤❤...
Lanjut sore lagi ya