
Ketegangan keduanya berhenti saat mendengar suara batuk yang di sengaja dekat pintu masuk.
"Maaf Mama langsung masuk, tadi ketuk-ketuk pintu ga ada yang dengar rupanya." Bu Devi, mama Jonathan sudah berdiri di depan pintu cukup lama. Ia sempat mendengar perdebatan keduanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Jonathan setelah berusaha meredakan emosinya dengan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Mau mampir aja, sudah lama Mama ga ke kantor 'kan?" Mama perlahan maju, matanya menatap Jamilah yang sudah kembali duduk dan menunduk dalam.
"Kamu ga mau kenalin asistenmu, Jo?" tanya Mama mengerling pada putra bungsunya.
"Ini namanya Jamilah." Jonathan memperkenalkan Jamilah sekenanya. Ia masih merasa kesal dan marah dengan pengunduran diri Jamilah.
"Selamat siang, Bu." Jamilah mengangguk sopan.
"Kamu masih muda sekali, umur berapa?" Mama memperhatikan Jamilah dari atas hingga bawah. Tubuh Jamilah yang mungil ditambah mata bulat dengan sorot jenaka, menambah kesan kekanakan pada Jamilah.
"Umur saya 19tahun, Bu."
"Syukurlah, saya kira Jonathan memperkerjakan anak di bawah umur, tapi kenapa kamu ga lanjut sekolah?"
"Jamilah yatim piatu. Ibunya meninggal belum lama ini." Jonathan yang menjawab.
"Ow, saya minta maaf, Jamilah."
"Tidak apa-apa, Bu."
Mama mengalihkan pandangannya ke arah Jonathan. Putra bungsunya itu tampak kusut sekali wajahnya. Sama sekali berbeda jauh dengan kesehariannya yang selalu ceria.
"Jamilah, saya mau bicara sebentar dengan anak saya. Kamu tunggu di luar sebentar ga apa-apa ya." Jamilah mengangguk lalu berjalan keluar ruangan.
"Apa lagi, Ma?" tanya Jonathan jengah setelah mamanya hanya duduk diam menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Kamu kenapa?"
"Aku kenapa? aku baik-baik aja," ujar Jonathan masih dengan nada yang tinggi. Emosi dalam hatinya masih belum mereda.
"Jelas kamu sedang tidak baik-baik aja, Jo. Mama sempat dengar tadi, asistenmu itu mau mengundurkan diri. Lalu kenapa kamu kelihatan marah sekali? apa ada kerjaan dia yang belum selesai? atau dia masih punya tanggungan yang harus di selesaikan?"
Jonathan terdiam, ia merenungi perdebatannya dengan Jamilah tadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan karyawan yang ingin mengundurkan diri, tapi benar kata mama mengapa ia sangat marah sekali?
"Jo, kamu suka sama dia?" tanya Mama lembut.
"Ga." Jonathan menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ia jatuh cinta pada gadis yang bahkan bentuk tubuhnya tidak kelihatan sama sekali.
Para wanita di sekitarnya yang selalu memuja dirinya bahkan punya penampilan yang nyaris sempurna. Jamilah? sangat jauh, tubuhnya tidak jauh berbeda dengan anak SMP.
"Ya udah, mama cuman tanya aja. Kalau kamu benar ga suka sama Jamilah, ya ikhlaskan dia mencari rejeki di tempat lain. Ga baik kamu menahan orang tanpa alasan yang tidak jelas, baik itu di pekerjaan maupun dalam hubungan pribadi."
Jonathan masih terdiam dan merenung dalam ruangannya, setelah mama pamit kembali pulang. Di pandanginya Jamilah yang sudah kembali ke tempatnya.
Suasana sangat canggung diantara mereka berdua. Jonathan yang masih kecewa, Jamilah yang juga masih merasa kesal karena di bentak tanpa tahu salahnya apa.
"Permisi, Pak boleh saya minta ponsel saya kembali?"
"Buat apa?"
"Saya mau pulang."
Jonathan melirik ke arah pergelangan tangannya, ternyata waktu pulang kantor sudah lewat satu jam yang lalu. Perlahan Jonathan menyodorkan ponsel dan selembar kertas yang sudah ia tanda tangani.
"Bapak sudah menyetujui pengunduran diri saya?" tanya Jamilah terkejut tidak menyangka. Jonathan tidak menjawab ia masih memandangi kertas yang dipegang Jamilah.
"Jadi besok saya sudah tidak perlu datang lagi 'kan Pak?" tanya Jamilah. Bola matanya membesar dan berpendar lucu.
"Kamu bahagia sudah ga kerja sama saya lagi?" tanya Jonathan sinis. Ia merasa Jamilah senang terbebas darinya.
"Bukan."
"Sudahlah, pulang sana," usir Jonathan kesal.
"Maaf, bukan maksud saya sepe---"
"Keluar!" seru Jonathan lalu membalikan kursinya membelakangi Jamilah.
"Maaf. Terima kasih, Pak Jonathan sudah baik selama saya kerja di sini ... saya pamit." Jamilah masih menunggu respon dari Jonathan, tapi atasannya itu masih diam membisu. Perlahan ia berbalik lalu pergi dari sana.