
"Nyonya Hanum Putra Prasojo." Suara panggilan perawat membuat keduanya serempak menoleh. Hanum mengerutkan kening saat mendengar sematan nama Putra Prasojo di belakang namanya.
Alex mendorong kursi roda yang di gunakan Hanum masuk ke dalam ruang praktek.
"Selamat si ... Alex?!" Mata dokter muda itu terbelalak kaget saat melihat teman semasa SMU-nya yang terkenal minim ekspresi, masuk dengan mendorong seorang wanita di atas kursi roda.
Butuh beberapa detik baru Alex menyadari dengan siapa ia berhadapan, "Budi?" tanyanya masih belum yakin.
"Iyaaa, siapa lagi. Laki-laki tampan yang ceria," ujar dokter itu seraya berdiri dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Alex dan Hanum.
"Tapi ini benar ruang praktek dokter Angga?" tanyanya pada perawat yang berdiri di pintu masuk.
"Benar, kamu ga salah. Aku dokter Angga. Namaku kan Budi Anggara. Biar keren gitu panggilnya dokter Angga."
"Ayo, masuk. Kenapa berdiri di depan pintu. Ini istrimu, Lex?" Angga sedikit memaksa menyalami dan memeluk Alex yang masih belum percaya jika kawan SMU-nya yang dulu terkenal playboy, sekarang memakai jubah putih dengan status dokter kandungan.
"Hanum," jawab Hanum saat Angga menanyakan namanya.
"Kenapa pakai kursi roda?" tanya Angga.
"Tadi pingsan di jalan." Masih Hanum yang menjawab. Sedangkan suaminya masih memandang lurus pada Angga dengan tatapan tak percaya.
"Terakhir datang bulan kapan?" tanya Angga lagi dengan nada yang sangat lembut.
"Datang bulan? ... haid maksudnya?" Hanum sedikit agak bingung dengan pertanyaan dokter berambut ikal itu.
"Iya, haid terakhir. Kalau begitu kita periksa dulu ya." Angga memberi kode pada perawat agar membantu Hanum naik ke atas ranjang pasien.
"Hei! Kamu mau apa?!" Alex menahan tangan Angga, saat dokter itu akan menyentuh perut Hanum yang terbuka.
"Ya mau periksa istrimu lah."
"Kalau mau periksa, ya periksa aja. Ga perlu buka-buka baju seperti ini." Alex menurunkan baju Hanum yang terangkat sedikit.
"Terus aku periksanya gimana, Lex? diteropong gitu?" Angga menatap kesal pada Alex yang berdiri di antara dirinya dan Hanum.
"Kamu lihat di layar aja, jangan di sini." Alex mendorong bahu Angga saat pria itu sedikit menoleh ke arah Hanum.
"Aku kan cuman mau mastiin kamu pakainya bener," kelit Angga.
"Turun sedikit, agak ke kiri ... nah stop di situ." Angga mengamati layar yang menampilkan angka dan gambar hitam keabuan bergerak-gerak.
"Leeex, lihat itu anakmu, haiii papa." Angga menunjuk gambar bulat sebesar kacang yang ada di layar.
"Anak?" Mata Hanum membesar.
"Iyaa, itu sudah kelihatan. Umurnya sekitar empat minggu." Angga tersenyum lebar.
Hanum menatap Alex meminta jawaban yang pasti dari suaminya. Namun Alex tidak memperhatikan, ia sibuk memutar-mutar alat USG di perut Hanum dengan senyum terkembang.
"Sudah, Lex cukup. Anakmu bosen lihat kamu nanti." Angga mengambil alat USG dari tangan Alex.
Angga kembali ke kursinya dan langsung menuliskan resep vitamin untuk Hanum.
"Kamu nikah kok ga undang aku sih. MBA, ya?" Angga memainkan alisnya menggoda Alex.
"MBA apaan?"
"Married by Accident atau hamil duluan, bahasa gaul itu. Tetep aja ga berubah kamu, Lex. Datar banget hidupmu." Angga menggelengkan kepala.
"Jangan sembarangan," sergah Alex.
"Aku jadi penasaran, dulu Alex kalau pacaran yang dibicarakan apa, Mba? bukan harga saham dan proyek kan?" tanya Angga pada Hanum yang baru duduk.
Hanum hanya terdiam karena masih memikirkan ucapan dokter, yang mengatakan ada anak di dalam perutnya.
...❤❤...
Lanjut siang, ditunggu yaa