CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Misi penyelamatan


"Bang satu porsi lagi, sambelnya banyakin ya," seru William pada abang bakso yang tampak senang, karena dua pelanggannya ini sejak tadi memesan berulang kali.


Jonathan berulang kali menguap sembari mengamati layar ponselnya.


"Sudah ada kabar?" tanya William.


"Belum," ujar Jonathan seraya tersenyum penuh arti.


"Ada apa?" tanya William curiga melihat perubahan wajah Jonathan yang tadinya suntuk berubah menjadi sumringah.


"He? ... ga ada apa-apaaa," sahut Jonathan seraya menyembunyikan layar ponselnya dari pandangan William.


"Alaaah, paling juga cewek."


"Anak ABG ... anak SMU!" Jonathan tergelak senang.


"Gitu doang bangga. Aku juga punya gebetan anak SMU," ujar William angkuh.


"Oh ya? kenal di mana?"


"Em ... dateng ke klub ku dia yang ajak kenalan," ucap William ragu, "Kalo kamu dapet dimana tuh bocah?"


"Biasalah, cowok tampan macam aku selalu jadi incaran cewek-cewek."


"Cantik?" tanya William berusaha mengintip layar ponsel Jonathan.


"Jelas itu, harus serasi denganku yang tampan." Jonathan menutup aplikasi pesan pada ponselnya.


"Sekolah di mana?" tanya William lagi.


"Mmm ... lupa aku," kelit Jonathan, padahal ia sendiri tidak tahu di mana kenalan wanitanya itu bersekolah.


Mereka hanya bertemu di sosial media, saat Jonathan menggulirkan video pendek di salah satu aplikasi. Ia menemukan video status galau wanita yang baru saja putus cinta. Melihat paras ayu gadis yang masih belia, membuat jari Jonathan gatal mengisi kolom komentar dengan rayuan manisnya lalu mereka berlanjut dengan berbalas pesan.


"Nenek-nenek gaul kali, ngaku anak SMU." William tersenyum mengejek, "Nih, gebetanku," William memperlihatkan sekilas pesan singkat di ponselnya.


"Sembarangan. Besok kita mau kencan, jangan iri." Jonathan mencebik.


"Emang cuman kamu yang mau kencan besok? aku juga lah. Makanya hari ini kita harus dapat informasi tentang anak-anak panti, kalau enggak kasihan cewekku udah kangen berat dia sama aku," ujar William sombong.


"Udah ada laporan belum?" tanya Jonathan.


"Belum," sahut William seraya menguap.


Tak lama ponsel mereka berdua berdering hampir bersamaan.


"Halo." Keduanya menjawab serempak.


"Meluncur," sahut Jonathan sigap.


"Pantau terus." William berkata dengan tegas.


William dan Jonathan segera mengarahkan kendaraan masing-masing, ke lokasi yang sudah diberikan oleh orang kepercayaan mereka.


Jonathan yang mengendarai motor sport, lebih dulu sampai di tujuan dari pada William yang menggunakan mobil.


"Disini?" tanya William setelah memarkirkan kendaraannya di tempat yang aman. Lalu ia mendekati Jonathan yang sedang bersembunyi di balik bangunan kosong.


"Sssttt." Jonathan menempelkan telunjuk ke bibirnya.


Keduanya kembali fokus memperhatikan semua pergerakan di sebuah gedung dua lantai yang kumuh dan jauh dari jalan raya.


Beberapa orang bertubuh besar dan bertato tampak keluar masuk gedung. Ada juga yang duduk di teras bawah sambil merokok dan bermain kartu.


"Di mana mereka?" tanya William tak sabar.


"Sabaar!" Jonathan melirik kesal pada William yng sedari tadi terus bergerak gelisah.


"Banyak nyamuk," desis William menahan rasa gatal di sekujur tubuhnya. Kulitnya yang putih tampak memerah dan mulai terlihat bentol yang semakin banyak.


"Itu! cepat kamu foto aku yang ambil video," seru Jonathan sedikit berbisik. Jonathan menunjuk seorang anak yang keluar dari dalam gedung membawa minuman untuk para pria berotot yang sedang berjaga di sana.


Jonathan hampir saja berlari ke arah mereka saat seorang anak dipukul hingga terjatuh. Kalau saja William tidak menahannya, mungkin mereka sudah bergulat di sana.


"Tahan emosimu! Kita masih kalah orang, yang ada malah babak belur dan anak-anak itu bisa jadi korbannya."


"Ba*jingan! itu adik-adikku, Wil!" Jonathan mengeratkan rahangnya.


"Sebaikanya kita segera pergi dari sini dan segera bawa bukti ke polisi, agar mereka segera diringkus." William menarik tangan Jonathan menjauh dari sana.


...❤...


Suasana rumah Alex sore ini sangat ramai dan tegang setelah Jonathan dan William membawa hasil laporan mereka.


"Team saya sudah siap, Pak Alex," ujar Raditya kapolres kenalan keluarga William.


"Mas aku ikut." Hanum mencekal lengan Alex yang sudah siap berangkat.


"Jangan, kamu di rumah sama Mama," ujar Alex tegas.


"Aku takuutt, aku mau ikuuutt." rengek Hanum semakin menjadi.


"Kalau kamu takut justru lebih aman di rumah."


"Aku takut ada apa-apa sama kamu." Hanum semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Alex. Matanya sudah mulai berkaca.


Setelah mendengarkan cerita Jonathan dan William, Hanum merasa khawatir terjadi sesuatu pada suaminya.


Alex tersenyum lalu memeluk istrinya, "Aku baik-baik saja, kami kesana sama polisi. Kamu jangan khawatir." Alex mengecup lembut kening Hanum dan memberikan kecupan ringan di perutnya.


"Masih lama cium-ciumnya? Perlu dibantu ga ciumnya?" Jonathan melirik dengan sinis.


"Aku pergi dulu ya," ujar Alex setelah memberikan tatapan peringatan pada adiknya.


"Mas ...." Hanum mulai menangis tak rela ditinggalkan.


"Tutup pintu, jangan buka pintu kalau mencurigakan. Semua pasti akan baik-baik saja." Saat sudah akan keluar, Alex kembali berbalik dan memagut bibir Hanum tanpa rasa malu di depan keluarganya.


"Sedot terooss," sindir Jonathan dengan wajah iri. Sementara William hanya berani memutar bola matanya dan memilih langsung keluar dari rumah yang mendadak terasa panas itu.


"Sudaaah, biar Hanum sama Mama." Mama menarik tubuh Hanum dari pelukan Alex.


"Istirahat," ujar Alex seraya mengusap kepala Hanum.


...❤...


Raditya memberi kode pada teamnya yang sudah ia bagi dalam beberapa kelompok.


"Kak, kita tunggu di sini atau langsung ikut masuk?" tanya Jonathan yang sudah ambil ancang-ancang siap menyerbu. Di belakangnya teman-teman gank motor sportnya pun sedang menunggu arahan dari Jonathan, ketua mereka.


"Kita tunggu dulu. Fokus kita menyelamatkan adik-adik dan Ibu Anita. Selain itu serahkan pada polisi," ujar Alex sembari mengamati gedung yang menjadi target utama mereka.


Semuanya terkesiap saat mendengar suara tembakan lalu diiringi jeritan anak-anak.


"Kalian tunggu di sini!" Alex berlari mendekati gedung gelap itu.


"Kak!" seru Jonathan terkejut saat kakaknya sudah melesat tanpa mengajak mereka, "Sial, maju!" Jonathan memberi kode pada William dan anak buah mereka.


Dari jauh mereka melihat beberapa anak berlari keluar sambil menjerit ketakutan. Beberapa diantaranya berhasil ditangkap sebelum menjauh dari gedung itu.


Alex yang sudah terlebih dahulu sampai di sana, berhadapan dengan seorang pria bertubuh besar.


Awalnya Alex masih bisa mengungguli perkelahian satu lawan satu itu, tapi saat seorang lagi datang membawa parang besar dan melayangkan senjata itu ke wajah Alex, dalam sekejap calon Papa muda itu tersungkur di tanah.


"KAAK!!" Mata Jonathan membola melihat kakaknya tak bergerak di tanah. Segera ia mempercepat larinya menghampiri dua pria yang sudah menunggu mereka.


...❤❤...


mampir juga ke karya temanku ya