
Hanum membulatkan matanya. Ia terkejut dengan perbuatan Alex yang tergolong sangat berani dan beresiko di maki pengendara lain, tapi ia juga tidak ingin moment ini cepat berakhir.
Alex dan Hanum terpanjat saat suara klakson kendaraan lain saling bersahutan tak sabar meminta mobil mereka untuk segera melaju. Tangan Alex bergetar saat memegang kemudi, ia juga tidak menyangka bisa seberani itu.
Suasana di dalam mobil kembali hening, tak ada yang berani membuka suara. Bernafas pun mereka sangat berhati-hati sekali. Sepanjang perjalanan, Hanum membuang pandangannya ke arah luar jendela sementara Alex menatap lurus kaku ke arah depan.
"Ba-bapak ga ke kantor lagi?" tanya Hanum terbata saat Alex bersiap ikut turun di depan rumah bersamanya.
Alex menghela nafas panjang dan berkata dengan suara yang terdengar lelah, "Num, untuk kesekian kalinya, bisakah aku minta jangan panggil aku Bapak?"
"Mas?" tanya Hanum memastikan.
"Masih terdengar lebih baik," sahutnya setelah berpikir beberapa saat, "Satu lagi. Jangan terlalu formal, kita pasangan suami istri biasakan sebut aku dan kamu tidak perlu pakai kata saya. Aku sudah melakukan itu cukup lama, kenapa kamu ga sadar-sadar?" tambahnya.
Hanum terdiam cukup lama meresapi satu persatu kata yang diucapkan Alex, "Jadi saya ... eh, aku sudah diakui jadi istri?" tanyanya ragu.
"Sejak aku mengucapkan akad, kamu sudah aku akui sebagai istriku."
"Ga. Waktu itu aku dilarang panggil Mas dan diusir dari kamar," protes Hanum tak terima.
"Emm, itu bukan berarti aku ga mengakui kamu sebagai istri," papar Alex membela diri.
"Lalu apa maksudnya?"
"Sudahlah." Alex mengabaikan pertanyaan Hanum. Ia langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Iiissh, Bilang aja ga mau mengakui kesalahan." Hanum menggerutu kesal, lalu ia ikut turun dari mobil mengikuti langkah suaminya.
Alex dan Hanum berhenti di ambang pintu rumah yang terbuka lebar. Di dalamnya sudah ada Pak Eko sahabat Papa Alex dan Anethe sedang duduk di temani Papa dan Mama Alex.
"Kebetulan sekali kamu sudah pulang, Alex. Tadi kami berdua mampir ke kantor, sekretarismu bilang kamu sedang keluar bersama ...." Wajah Pak Eko berkerut kesal saat melihat Hanum muncul dari balik tubuh Alex.
"Bersama istri saya," sahut Alex melengkapi kalimat Pak Eko.
"Duduk dulu Lex, Pak Eko dan Ane datang kemari mau menemui kamu," ucap Papa Alex.
Alex memilih kursi yang berhadapan dengan Pak Eko dan Ane, saat Hanum berpamitan hendak masuk ke dalam rumah, Alex menghentikannya, "Kamu juga duduk di sini."
"Ada yang bisa saya bantu, Om?" tanya Alex pada sahabat Papanya itu.
"Saya hanya ingin memastikan, kapan keponakan saya ini kamu resmikan, Lex?" tanya Pak Eko. Sementara Ane yang duduk di samping omnya, merengutkan wajah melihat Hanum duduk sangat dekat dengan Alex.
"Meresmikan apa maksud Om Eko?" tanya Alex pura-pura tak tahu.
"Menikahi Ane, Lex.," sahut Pak Eko dengan nada sedikit kesal.
"Saya sudah menikah, Om," ucap Alex setengah tertawa geli.
"Tapi seharusnya Ane yang menjadi pasanganmu, bukan dia! Gimana ini, Pak Beni?" Pak Eko sudah semakin kesal.
"Benar Alex, awalnya Ane yang menjadi calon istrimu yang sebenarnya. Yaah, karena ada kesalahan jadinya Hanum yang sekarang jadi istrimu," ucap Papa Alex.
"Bukan kesalahan, Pak Beny, tapi ini penipuan! Bahaya loh, siapa tau dia berniat jahat sama keluarga Bapak." Pak Eko mulai memanasi Papa dan Mama Alex.
"Saya ga pernah ada niat jahat!" seru Hanum panik.
"Dengan kamu mengganti berkas keponakan saya itu sudah tindakan jahat. Kriminal!" seru Pak Eko tidak kalah kerasnya.
"Jangan teruskan Pak, tolong hargai saya sebagai suaminya di sini."
"Ga adil, Aal. Aku yang seharusnya duduk di sampingmu. Awalnya kamu juga ga ngakui dia sebagai istrimu kan?, aku diceritakan sama karyawanmu kalo kamu usir dia dari kantor," papar Ane.
Tubuh Hanum kembali mengkerut mengingat kejadian beberapa waktu lalu, saat ia mengantar makan siang untuk yang pertama kalinya.
"Lihat dia, sejak jadi istri bos pasti perawatan mahal. Kamu pasti dimanfaatkan!" seru Pak Eko mengejek.
"Saya tidak memakai uang Alex sepeserpun." Hanum membela diri.
"Omong kosong! Ayolah, Lex kamu harus memberikan kesempatan pada Ane. Ini ga adil, Lex. Ane tidak mendapatkan kesempatan membuktikan kalau dia jauh lebih baik dari perempuan itu."
"Benar itu, Om. Aku minta kesempatan sama kamu, Lex. Aku mau kok jadi yang kedua untuk sementara." Ucapan Ane membuat Papa dan Mama Alex membesarkan mata.
"Apa maksudnya?" tanya Mama Alex bingung.
"Apa-apan! tidak ada pria di keluarga saya yang mempunyai istri dua!"seru Mama Alex tajam Matanya ia arahkan pada Pak Beni yang langsung tertunduk dalam. Masa lalu suaminya seakan terulang lagi saat memaksakan sekretarisnya untuk menjadi istri kedua dengan cara memperkosanya.
Alex tertawa pelan, "Maaf, tapi saya tidak berminat punya istri dua." Hanum tersenyum mendengar penjelasan suaminya, tapi kalimat selanjutnya membuat senyuman yang bertengger di bibirnya langsung lenyap tak berbekas, "Punya istri satu aja merepotkan dan sudah membuat saya sangat pusing. Jadi terima kasih atas penawarannya."
"Gimana ini Pak Beni??"
"Putra saya sudah dewasa, saya tidak berhak mengaturnya. Benar saya yang memintanya untuk menikah, tapi jika dia sudah menentukan pilihannya. Saya bisa apa?" Pak Beni menjelaskan secara perlahan dibawah tatapan tajam sang istri.
Alex tersenyum simpul mendengar penjelasan Papanya.
"Tapi saya ga menyerah! saya tau Alex tidak mencintai perempuan itu. Saya yakin kalo saya yang jadi istri Alex, pasti hidup Alex jauh lebih bahagia," ucap Ane yakin.
"Bagaimana Alex?" tanya Papanya.
"Ngapain pakai di tanya lagi?!" bisik Mama Alex seraya mencubit pinggang suaminya.
"Terserah kamu," ucap Alex singkat lalu berdiri dari duduknya.
"Baiklah, mulai besok aku akan membuktikan kalau aku jauh kebih baik dari dia!" Ane menunjuk wajah Hanum dengan telunjuknya.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
...❤...
Promosi punya teman, mampir di sana ya
Annchi adalah seorang dokter jenius dan ahli mengunakan
senjata tajam serta menguasai ilmu bela diri. Hingga suatu ketika
keluarga pamannya ingin menguasai kekayaan Annchi.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dia baru mengetahui
kalau keluarga pamannya meracuni dirinya membuatnya bersumpah
jika kelak berinkernasi kembali akan membalas perbuatan mereka.
Annchi terbangun dan dirinya sangat terkejut tubuhnya gendut dan
jelek serta penuh dengan luka dan di dalam ingatan pemilik tubuh
kalau sering di bully dan di siksa oleh ibu tiri dan adik tirinya,
membuat. Annchi membantu membalaskan dendam dan mengubah
pemilik tubuh untuk menjadi cantik dan tidak bisa ditindas.
Akankah usaha Annchi untuk membalas dendam berhasil?
Ikuti Novelku yang ke 19