CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Mission complete


Alex mengusap air mata yang masih membekas di ujung mata Hanum. Ada rasa sesal di sudut hatinya melihat wanita yang di bawah kukungannya saat ini menahan rasa nyeri. Namun ia tidak bisa berhenti, tidak untuk saat ini.


Alex masih bergerak pelan seraya berusaha melakukan kontak mata dengan Hanum. Wanita itu terus saja menghindar dari tatapannya.


Alex menghentikan semuanya saat ia merasa sudah tuntas. Nafasnya masih tersengal, begitu juga Hanum.


"Sakit?" tanyanya pelan. Ia melirik Hanum yang tidur bergelung selimut membelakanginya.


Sebuah dorongan dari dalam hatinya membuatnya mengambil secangkir teh yang sudah mulai terasa dingin dari atas meja, lalu menyodorkannya pada Hanum.


"Minum dulu, kamu sudah sudah banyak nangis tadi." Alex menarik bahu Hanum agar menghadap ke arahnya.


"Itu punya Bapak," ucap Hanum dengan suara yang serak.


"Kamu aja yang minum, kayaknya kamu lebih butuh sekarang. Nanti aku ambil lagi di dapur." Alex memaksa Hanum untuk duduk dan menyodorkan secangkir teh yang dipegangnya.


Hanum meminum teh dengan satu tangan masih memegang selimut yang menutupi area dadanya. Alex tersenyum dalam hati saat melihat banyaknya bercak merah di dada dan leher Hanum. Mengapa baru sekarang ia tahu, jika berhubungan intim itu ternyata begitu menyenangkan.


"Sudah. Terima kasih," ucap Hanum seraya menyerahkan kembali cangkir teh ke tangan Alex.


"Cari apa?" tanya Alex saat melihat Hanum kebingungan.


"Bajuku."


Alex mengedarkan pandangannya, ia baru sadar jika pakaian mereka sudah tersebar searah delapan penjuru mata angin, "Jauh. Besok aja dicari," ucap Alex asal, lalu menarik tubuh Hanum agar kembali rebah.


Belum ada sepuluh menit mereka berbaring, Hanum bergerak dengan gelisah. Sesekali dari mulutnya terdengar suara era*ngan dan rintihan.


"Kamu kenapa? sakit?" tanya Alex. Walaupun bertanya dengan raut wajah yang datar, namun nada kekhawatiran tidak bisa ia sembunyikan.


"Geraah." Hanum membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Mata Alex spontan terbelalak.


Alex segera mencari remote pengatur suhu kamarnya. Baginya suhu pendingin di kamarnya ini sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Era*ngan Hanum semakin keras terdengar, kali ini mata wanita itu menatapnya sendu.


Alex menyipitkan mata melihat perubahan Hanum. Sedikit demi sedikit, wanita itu merapatkan tubuhnya ke sisi Alex. Setelah persis berada di sebelah Alex, Hanum mengendus-ngendus bahu suaminya itu.


"Kamu kenapa sih?" Alex mendorong kepala Hanum yang sekarang sudah berada di ceruk lehernya.


"Bapak mau buat yang kedua?" tanya Hanum dengan sorot mata sensual.


"A-apa??" Alex memandang Hanum ngeri.


"Yang Bapak bilang tadi, anak-anak yang aku lahirkan akan panggil Bapak ... Papa." Alex merinding saat jari Hanum berputar-putar di dadanya, "Tadi sudah buat yang pertama, sekarang buat yang kedua, yuk," lanjut Hanum seraya naik ke atas tubuh Alex.


"Apa-apaan kamu, yang pertama aja belum jadi. Sudah mau buat yang kedua," sergah Alex kesal. Namun omelannya yang panjang terhenti saat bibir Hanum menutup mulutnya.


Proses pembuatan yang kedua (kata Hanum) terjadi, kali ini dengan arahan dan komando dari sang wanita.


Selang beberapa saat Hanum terkulai dan langsung terlelap di sebelah suaminya. Alex tertegun setelah dua kejadian yang sama dengan situasi yang berbeda baru saja terjadi.


Ia memiringkan tubuhnya menghadap Hanum yang tertidur pulas tanpa rasa bersalah. Di sudut bibir wanita itu tersungging sebuah senyuman kepuasan. Alex tertawa kecil, tawa yang mungkin seumur hidupnya baru melekat di bibirnya.


Perlahan ia mengambil selimut yang sudah terlempar di lantai, lalu menutup tubuh Hanum yang polos. Dengan sedikit ragu-ragu ia mengecup pelan dahi wanita yang berstatus istrinya itu.


...❤...


Hanum meringis saat ia meregangkan tubuhnya. Terbiasa bangun di saat semua penghuni rumah masih tidur, membuat matanya langsung terbuka saat matahari belum muncul.


Hanum melirik ke arah sampingnya, ia melihat Alex tidur dengan dengkuran yang halus. Samar-samar ia melihat banyak tanda merah di dada dan leher pria itu.


Jangan bilang itu aku yang buat. Hanum bergidik ngeri.


Ia sangat ingat apa yang terjadi semalam, baik yang pertama maupun yang kedua. Hanum menutup matanya mencoba mengusir bayangan kebrutalannya semalam.


Perlahan ia turun dari ranjang Alex, memunguti semua pakaian yang tersebar dan memakainya dengan cepat. Seperti akan mencuri, Hanum mengendap-endap menuju pintu sambil menahan nyeri pada organ intinya.


Ia memutuskan tidak terlihat saat Alex terbangun nanti. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya saat bertemu nanti. Mungkin saja pria itu aja menertawakannya, atau bahkan mengejeknya. Sungguh benar-benar memalukan.


Hanum masuk ke dalam kamarnya lalu mendesah kesal. Semua terlihat kosong, barangnya sudah berpindah di kamar Alex. Tubuh yang masih terasa ngilu membuat Hanum kembali tertidur di kamarnya.


Di liriknya sisi pembaringannya, Hanum tidak ada di sana. Ia langsung mandi dan berpakaian lalu segera keluar dari kamar.


"Selamat pagi, Pa, Ma," sapa Alex pada kedua orang tuanya yang sudah duduk di meja makan.


Papanya menurunkan koran sedikit menatap putranya, sedangkan Mamanya kembali menurunkan cangkir teh yang hampir menyentuh bibirnya.


Keduanya kaget dengan perubahan Alex pagi ini. Seumur hidup putra sulung mereka, baru kali ini menyapa di pagi hari dengan raut wajah yang terlihat bahagia.


"Pa-pagi, Alex," sahut Mamanya dengan dahi berkerut. Sedetik kemudian matanya membesar saat melihat bercak merah menyembul sedikit di bawah telinga kanan putranya.


Senyum Mama Alex terkembang sempurna, sedangkan Papa Alex memandang istrinya dengan tatapan curiga.


"Tidurmu nyenyak? Hanum tidak mengganggumu bukan?"


"Eh, iya ... nyenyak." Alex menjawab dengan salah tingkah.


"Mana Hanum?" tanya Mama. Alex menatap Mamanya bingung karena ia sendiri tidak tahu di mana istrinya itu berada.


"Non Hanum sepertinya lagi tidur di kamar belakang, Nya," ujar Mbok Jum yang saat itu mengantar kopi untuk Papa.


"Masih tidur? tumben?" tanya Mama seraya memberi kode pada Mbok Jum untuk memeriksa kamar Alex.


"Mungkin ... mungkin ga bisa tidur tadi malem," sahut Alex asal.


"Iyaa, kasihan dia kurang tidur," sahut Mamanya dengan tersenyum penuh arti.


"Aku ... berangkat dulu," pamit Alex dengan wajah memerah.


Setelah mobil Alex keluar dari halaman rumah, Mama langsung berlari menuju kamar Alex.


"Gimana Mbok??" tanya Mama pada Mbok Jum yang sedang mengganti sprei ranjang Alex.


"Beneran, Nya." Mbok Jum menganggukan kepala dengan senyum terkembang. Ia menunjuk sprei kotor yang teronggok di lantai.


"Adaa??" tanya Mama antusias.


"Adaa, Nyaaa. Tuh cangkir tehnya juga sudah habis," ujar Mbok Jum dengan terkikik geli.


"Kita berhasil, Mbook," Mama bersorak riang.


"Kalian berhasil apa?" Papa Alex berdiri di ambang pintu dengan tatapan curiganya.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Promosi punya teman, mampir di sana ya