
Dua bulan berlalu, Jamilah semakin menguasai seluk beluk tentang perusahaan begitu juga Jonathan. Namun keberadaan Jamilah bagi Jonathan ibarat botol dengan tutupnya. Jika Jamilah tidak ada di sisinya, Jonathan akan kebingungan perihal segala tentang perusahaan keluarga mereka.
Jonathan sangat menguasai dalam hal praktek. Ia sangat mahir berolah kata jika berhadapan dengan para petinggi dan calon partner usaha. Di satu sisi, Jamilah sangat menguasai di bidang teori. Jamilah sangat hafal seluk beluk partner usaha, semua bidang usaha dan anak perusahaan PT Pesona Ragam Lahan, sampai ke perhitungan laba rugi perusahaan keluarga mereka.
Jika Jonathan sedang presentasi atau rapat dan lupa akan sesuatu hal, Jamilah dengan sigap mengatasi masalah atasannya itu. Hanya dengan reaksi wajah, kedipan mata atau gerakan tangan dari Jonathan, hanya Jamilah yang bisa mengerti apa yang dibutuhkan atasannya itu.
"Selama dua bulan ... perumahan Rumput Village sudah sampai tahap empat, perencanaan pembangunan Hotel Mariposa sudah siap dimulai bulan depan, dan perusahaan kita menang tender pembangunan bandara baru di kota XY ... Luar biasa Jo!" Pak Beni tersenyum puas.
Cuping hidung Jonathan mengembang dan mengempis dengan sangat cepat. Alex pun yang sudah pulih mulai kembali bekerja per hari ini, ikut tersenyum bangga atas keberhasilan adiknya.
"Papa ga nyangka kamu melebihi ekspetasi yang Papa harapkan, Jo."
"Terima kasih, Pa." Jonathan memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Semua berkat dewi fortunamu?" tanya Alex sembari memberikan lirikan menggoda.
"Siapa? Jamilah?"
"Nah itu tahu."
"Iya benar juga, dia semangat belajar dan kerjanya luar biasa. Aku jadi harus imbangin, malu juga kalo dia jauh lebih pintar."
"Untung sadar. Gimana, kamu masih mau lanjutkan pekerjaanmu ini, 'kan?" tanya Alex lagi.
"Lanjut, jadi aku bukan wakil CEO magang kan. Malu banget masak pake embel-embel magang."
"Bukan wakil CEO, tapi CEO yang membawahi Department proyek pembangunan bandara baru, dan juga bertanggung jawab untuk pengembangan usaha baru ada di tanganmu," jelas Papa.
"Aku? CEO??"
"Ga suka?"
"Suka, suka, suka." Jonathan mengangguk keras. Sedetik kemudian ia termenung seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa?"
"Aku juga mau kasih hadiah macam bonus untuk Jamilah yang sudah bantu aku selama ini. Aku mau kasih rumah di Rumput Village, tapi aku ga mau kalo dia tahu itu pemberianku."
Jonathan mengingat kembali perjalanan dua bulan ke belakang selama ia bekerja dengan Jamilah.
flash back
"Kamu tinggal di sini?" Jonathan tidak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya saat melihat keadaan rumah asistennya itu.
Malam itu hujan cukup deras, Jonathan mengantar Jamilah sampai ke depan rumahnya. Rumah Jamilah berada di pinggir kota dengan bangunan semi permanen. Dinding pembatasnya berupa papan kayu dan atap seng yang dipasang seadanya. Lantai rumah bagian depan dan kamar, hanya di semen sedangkan bagian belakang masih berupa tanah.
"Boleh mampir?" tanya Jonathan hati-hati takut menyinggung.
"Boleh, tapi ..." Jamilah melirik ke arah rumahnya yang sedikit miring.
"Kalo ga boleh dan saya mengganggu ga apa-apa."
"Boleh, tapi maaf saya ga bisa suguhin apa-apa."
"Saya ga minta apa-apa, cuman pingin mampir aja."
Suara batuk yang sangat keras terdengar dari kamar yang hanya ditutup oleh kain panjang.
"Siapa?" bisik Jonathan.
"Ibu ... kanker paru-paru," sahut Jamilah pelan.
"Sudah dibawa ke dokter?"
"Sudah ada mantri puskesmas yang rutin periksa ibu," ujar Jamilah sembari tersenyum tipis.
"Boleh ketemu?" Jamilah mengangguk walau sedikit ragu.
"Permisi." Suara Jonathan hampir tak terdengar.
"Bu, ini Pak Jonathan atasan Milah di kantor." Jamilah duduk di pinggir ranjang. Tangannya menggenggam tangan tua yang sudah keriput.
Wanita itu menarik kedua ujung bibirnya sedikit. Matanya meski cekung tapi memancarkan sinar yang sama dengan putrinya.
"Ibu sudah agak susah bicara, tapi masih bisa mendengar."
"Sehari-hari kalau kamu kerja, siapa yang merawat?"
"Ada tetangga yang mengantar makanan dan membersihkan Ibu, saya beri uang gaji saya sedikit sebagai upahnya."
Jonathan tidak sanggup lagi berlama-lama ada di sana. Air mata sudah di ujung pelupuk matanya dan siap menetes. Ia langsung pamit dengan alasan takut banjir.
Sampai di dalam mobil, Jonathan melajukan kendaraannya dengan air mata terus turun tanpa bisa ia cegah. Ia memang merasa kasihan dengan keadaan Jamilah, tapi yang membuatnya sedih dan menangis adalah ia merasa hidupnya selama 25th terasa sia-sia dan lewat begitu saja seolah tidak ada artinya.
Di satu sisi kehidupan ada seorang anak yang berjuang hanya untuk sebutir nasi dan kelangsungan hidup orangtuanya, di sisi lain ia sedang menghabiskan uang bersama dengan para wanita yang hanya memandang ketebalan dompetnya.
Tidak lama setelah pulang darj rumah Jamilah, Jonathan mempersiapkan satu unit rumah di Rumput Village untuk Jamilah. Rumah itu ia beli dengan cara pinjam dana di perusahaannya sendiri, karena jika mengandalkan gaji ia pun masih belum mampu.
Namun sayang satu minggu setelah kedatangannya ke rumah Jamilah, Ibu Jamilah pergi untuk selamanya. Jonathan tidak mampu bicara apapun terkait rumah itu.
flash back selesai
"Rumah di Rumput Village? pake dana yang kamu pinjam di perusahaan?" Pak Beni tersenyum miring.
"Hehehe," Jonathan hanya bisa tertawa canggung, ia terkejut Papanya tahu jika ia pinjam uang perusahaan.
"Setelah kamu berikan ia rumah, lalu dia tinggal sendirian?"
"Iya, Ibunya kan sudah ga ada."
"Masih muda, belum genap 20tahun tinggal di rumah yang cukup besar." Pak Beni tampak berpikir keras, "Berapa dana yang kamu pinjam untuk beli rumah itu?"
"850juta."
"Kamu sanggup berapa lama lunasin pinjaman itu?"
"Eh, ehm ... tergantung gaji baru ku sebagai CEO," cicit Jonathan.
"Papa bisa sampai punya cicit mungkin, baru kamu bisa lunasin hutangmu."
"Ya ga segitunya, Pa."
"Bisa, kalau gaya hidupmu tidak berubah," sahut Papa tegas.
"Aku pasti berubah, kan Papa bisa lihat sendiri dua bulan ini." Jonathan bersikukuh.
"Itu karena kamu ga pegang duit, Papa berani jamin kamu akan kembali ke kebiasaan jelekmu setelah kamu pegang uang banyak!"
"Terus?? aku belum bisa lunasin sekarang, Pa. Masak aku harus pinjam Bank, malu lah Pa. Dosa!"
"Papa ga suruh kamu pinjam Bank. Papa minta kamu batalin pembelian rumah itu."
"Loh?! jadi aku ga boleh kasih hadiah sama Jamilah? bisa sih hadiahnya diganti, tapi menurut aku yang dia butuhkan saat ini itu rumah, Pa. Papa kalau lihat rumahnya sekarang duuhhh, kasihan Pa." Jonathan dengan berapi-api menjabarkan keadaan Jamilah agar Papanya menaruh kasihan juga.
"Papa percaya. Papa setuju juga hadiahnya lebih baik diganti."
"Diganti apa, Pa?"
"Cincin kawin?"
...🤍❤...