
Jamilah menyusuri apartementnya dari ruang tamu, dapur hingga masuk ke dalam kamar. Apartement mungil yang cukup untuk keluarga kecil ini, terlalu mewah untuknya yang hidup seorang diri dan hanya untuk beristirahat sepulang kerja.
Masa kontrak apartement ini masih sangat lama, belum genap satu bulan ia tinggal di sini, tapi mengapa semakin lama ia merasa tidak pantas dan layak berada di tempat yang baginya sangat mewah ini.
Jamilah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, memutar otak bagaimana caranya bisa terbebas dari perasaan bersalah yang mengganggunya.
Pikirannya menerawang jauh mengingat perjalanan awal ia bertemu dengan Jonathan, sampai resmi menjadi seorang kekasih. Rasanya terlalu sangat singkat.
...❤️...
Sementara itu hari demi hari, Jonathan menebus rasa bersalahnya dengan menghabiskan lebih dari separuh waktunya menemani Stella di rumah sakit.
Seperti siang ini, Jonathan menyempatkan di sela-sela kesibukannya datang ke rumah sakit hanya untuk menyuapi Stella makan siang.
"Mulutnya di buka lebih lebar lagi dong, La," keluh Jonathan.
"Sakit." Stella meringis. Kondisi fisiknya sudah lebih membaik. Memar di wajah dan lehernya sudah tampak memudar. Hanya terkadang nafasnya masih tersengal-sengal dan mudah lelah.
"Selamat siang." Suara berat dan berwibawa namun ramah menyapa mereka berdua dengan riang.
"Hai, Om," sapa Jonathan. Ia bangkit dari duduknya lalu memberi salam Raditya dan tiga orang yang berdiri di belakangnya.
"Semoga kami tidak mengganggu ya, Jo," ucap Raditya tersenyum sedikit kecut.
"Enggak, Om. Stella sudah selesai makan siang."
Raditya dan ketiga orang yang bersamanya berjalan mendekati Stella yang sudah dapat duduk setengah berbaring.
"Gimana keadaanmu, Stella?" tanya Raditya lembut.
"Baik," ucap Stella tanpa suara dengan bibir mengulas senyum tipis.
"Stella, kenalkan ini rekan saya namanya Ibu Wulan dan Ibu Desi mereka dari lembaga psikologi dan ini Bapak Sarwono beliau team penyidik dari kesatuan kami. Kami boleh minta waktumu sebentar, Stella?"
Wajah Stella yang semula cerah, berubah suram setelah Raditya mengenalkan ketiga orang di belakangnya. Perasaannya mengatakan, ketiga orang yang bersama Raditya ini akan mengorek sesuatu darinya.
"Selamat siang, Stella. Maaf mengganggu waktu istirahatnya ya. Stella bisa panggil saya Ibu Wulan dan ini Ibu Desi." Kedua wanita itu duduk di kursi tepi ranjang, sedangkan Raditya dan pria satunya berdiri di belakang mereka.
Stella tidak menjawab, menganggukan kepala pun ia tidak mau. Malah ia melempar pandangannya ke arah jendela kamar yang mengarah ke jalanan. Dua wanita dewasa separuh baya itu saling berpandangan dan tersenyum tipis.
"Kami hanya ingin berbincang-bincang saja denganmu. Itupun jika Stella tidak keberatan." Stella mengarahkan pandangannya ke Raditya dengan tatapan memohon sedangkan Jonathan duduk di sofa mengamati dari jauh.
"Stella, kami butuh bantuanmu untuk menangkap pelaku yang berbuat jahat sama kamu," ucap Raditya, "Bisa tolong kami?"
Stella menatap lurus ke arah langit-langit sementara ketiga orang yang datang bersama Raditya melontarkan pertanyaan bergantian. Jonathan memilih keluar dari ruangan karena tidak bisa mengendalikan perasaan bersalahnya.
"Apa orang itu menyakiti tubuhmu, Stella?" tanya Bu Desi yang paling lembut. Stella mengangguk dengan mata berlinang.
"Di mana?" Tangan Stella terangkat menunjuk pipi, leher serta wajahnya. Saat ia menyentuh bagian dadanya, tangannya bergetar.
"Stella, bersyukurlah orang jahat itu tidak menyakitimu lebih dari ini. Kamu sangat berharga, Sayang," tambah Bu Desi.
Mata Stella mencari-cari keberadaan Jonathan yang menghilang dari pandangannya. Sejak kasus nyaris diperkosa, Stella merasa semakin tidak berharga di mata pria itu. Namun sikap Jonathan yang melunak dan menyediakan waktu untuk menemaninya di rumah sakit, membuat kepercayaan dirinya mulai tumbuh, tapi sekarang saat ia menceritakan semua di depan dua wanita ini dan Jonathan menghilang ia kembali merasakan penolakan.
"Stella, bisa bantu saya untuk mengenali pelaku?" Pria bermata tajam yang berdiri di sisi Raditya mengeluarkan suara. Melihat Stella tidak menolak, pria itu mengambil beberapa lembar kertas dari dalam tas besarnya.
Pria itu menunjukkan satu persatu, lembaran-lembaran kertas bergambar sketsa wajah pria ke arah Stella.
Semakin lama pria itu membuka lembar demi lembar, nafas Stella semakin tidak beraturan. Kepalanya ingin sekali dipalingkan jauh dari sketsa wajah pada kertas itu, tapi matanya sulit sekali ia alihkan dari sana.
"Ada yang kamu kenal, Stella?" tanya pria itu. Stella menggelengkan kepalanya keras, "Coba kamu perhatikan lagi dan ingat-ingat kembali." Stella semakin keras menggelengkan kepalanya, nafasnya semakin tidak beraturan.
"Sudah, Pak Sarwono. Kita lanjutkan besok." Raditya menarik lengan rekannya.
"Tapi ini sudah terlalu lama, Pak. Kita akan kehilangan tersangka jika tidak bergerak lebih dini." Pak Sarwono terus bersikeras, "Tolong lihat sekali lagi, Stella. Pasti ada salah satu yang kamu kenali di sini. Kamu tidak mau 'kan ada korban lain setelah ini?" ucap Pak Sarwono sedikit setengah memaksa.
Sementara kedua wanita dari lembaga psikologi, mencoba menghalangi Pak Sarwono yang akan kembali membuka lembaran sketsa yang ia pegang.
"Hhhh ... pehrghii ... pherghiiii!" Stella menghempas semua kertas yang disodorkan di depan wajahnya.
"Tolong keluar dulu, Pak." Perintah Raditya.
"Ta---" Belum sempat Pak Sarwono meneruskan kalimatnya, Raditya sudah menarik lengannya keluar dari ruang perawatan Stella.
"Pak ... Pak Radit sedikit lagi." Pak Sarwono mencoba menawar lagi pada Raditya.
"Cukup! saya atasanmu. Saya perintahkan berhenti menginterogasi untuk hari ini. Seharusnya anda sebagai penyidik tahu kondisi mental korban." Raditya menatap tajam pada rekannya, lalu perlahan ketegangannya menurun. Ia memandang rekannya itu sebagai seorang kawan, "Saya kecewa sama kamu, Sar. Dia bukan korban perampokan atau penipuan, tapi korban penculikan sekaligus hampir diperkosa," ucap Raditya pelan sembari matanya mencari-cari keberadaan Jonathan di lorong rumah sakit.
"Maafkan saya, Pak. Mungkin saya terlalu bersemangat diberi kepercayaan menangani kasus ini." Sarwono menunduk dengan posisi tubuh siap di hadapan atasannya.
"Baiklah, kamu tunggu di si----"
"Aaaaaaaa ...." Belum selesai Raditya berbicara, teriakan Stella dari dalam kamar membuatnya lari menghambur ke dalam ruang perawatan lagi.
...❤️🤍...
Bawa cerita bagus lagi niih
JUDUL: KEMBALINYA SUAMIKU
NAPEN: SUSANTI 31
Salsa Natasya Anajani tidak pernah menyangka akan mendapat kejutan yang luar biasa di hari ulang tahun putra kecilnya. Suami yang telah lama tiada kini kembali lagi dengan versi yang berbeda, mungkin fisik dan ketampanan masih sama, tapi tidak dengan sikap dan cinta untuknya. Azka Afrizal Wijaya pulang dengan ingatan yang hilang sepenuhnya, bahkan dengan tega mempertanyakan status Salsa istrinya. "Apa benar dia anakku dan kau istriku? Apa kau punya bukti tentang itu?" Mampukah Salsa membuktikan statusnya pada Azka? Atau ia harus menjadi asing di mata suaminya sendiri?