
"Hai Jo, gimana kabarnya." Papi Raymond memeluk hangat Jonathan, "Kamu juga, Lex sudah baikan?" Papi Raymond menepuk pelan pundak anak sulung Pak Beni itu. Cimoy yang hanya wanita seorang saja di sana, hanya bisa melongo dengan wajah terpukau melihat kedatangan ayah dan anak yang sama-sama gagahnya itu.
"Sudah baikan, Pi. Terima kasih," sahut Alex sembari tersenyum.
"Papi belum pernah ketemu istrimu loh, Lex. Diam-diam nikah, ga kasih kabar. Kenapa kamu ga adain resepsi undang keluarga besar?" tanya Papi Ray masih berdiri di dekat Cimoy.
"Bukan diam-diam, Pi. Cuman Papa minta secepatnya diresmikan. Rencana memang mau adakan resepsi, tunggu keadaan istri stabil dulu karena masih hamil muda." Cimoy yang ikut menguping pembicaraan para pria itu mencibirkan bibirnya iri.
"Segera ya, biar kita bisa berkenalan sama istrimu. Jadi penasaran sama wanita yang bisa cairkan es abadi ini."
"Wanitanya memang luar biasa, Pi. Tak ada duanya," sahut Jonathan. Cimoy yang mendengar celetukan Jonathan, sedikit terkikik sehingga mengundang perhatian keempat pria itu.
"Benar kata Jo, Hanum istri saya sangat istimewa. Ga ada duanya di hati saya," sahut Alex sembari melirik sekretarisnya kesal.
"Ayo masuk aja, Pi. Di luar banyak nyamuk," ujar Jonathan sambil membuka pintu ruangannya.
"Masak kantor sebagus ini banyak nyamuk?" Papi Ray mengedarkan pandangannya heran.
"Banyak, Pi nyamuknya bohay pake baju merah," sahut Jonathan sebelum menutup pintu ruangannya. Cimoy yang sempat mendengar suara Jonathan hanya merengut kesal.
"Mana?" bisik Papi Ray ke arah William. Pandangan keduanya mencari-cari sesuatu di dalam ruangan Jonathan.
"Ga ada." William balik berbisik pada Papinya dengan raut wajah kecewa.
Jonathan sempat menangkap gelagat keduanya. Ia berusaha menahan senyuman gelinya karena tahu siapa yang dicari oleh keduanya.
"Gimana Jo, kamu sudah nyaman kerja di belakang meja?" tanya Papi Ray setelah mereka berempat duduk berhadapan di sofa.
"Sudah, Pi. Memang kalau belum dijalankan itu terasa sulit," ucap Jonathan diplomatis.
"Iya."
"Jamilah di mana, Jo kok ga keliatan? biasa dia duduk di sana," tanya William.
"Dia tadi pagi jalan sama team marketing, tinjau lokasi," sahut Jonathan. Alex yang mendengar jawaban adiknya, hampir saja tertawa.
"Oww, sayang sekali ya. Kita terlambat datang nih, Wil."
"Memangnya ada apa ya, Pi?" tanya Alex. Jonathan melirik Alex gemas, mengapa harus ditanyakan segala maksud kedatangan mereka berdua yang sudah terlihat jelas.
"Papi pingin ketemu sama perempuan yang namanya selalu disebut sama William di rumah. Selama ini William tidak pernah kenalkan seorang pun wanita dan juga tidak pernah sebut nama wanita yang dekat dengannya, tapi beberapa hari terakhir nama Jamilah selalu disebut-sebut katanya itu asisten barunya Jonathan di kantor, anaknya lucu dan imut. Papi jadi penasaran dong, perempuan seperti apa yang bisa bikin William terpesona. Barangkali bisa langsung Papi jadikan mantu, iya ga?" Papi Ray terkekeh senang, Alex tertawa kecil sembari mengangguk-angguk, William tersenyum malu, hanya Jonathan yang kesulitan mengangkat sudut bibirnya.
"Sampai sekarang aku belum dapat nomer ponselnya Jamilah loh, Jo. Aku pernah minta langsung, dianya nolak. Katanya harus lewat Pak Jonathan. Apa-apaan itu?" protes William kesal.
"Menjaga privasi," sahut Jonathan singkat.
"Privasi apaan, kayak aku orang lain yang mau gangguin asistenmu aja."
Memang, kamu orang yang bakal gangguin hubungan aku sama Jamilah! Jonathan terperangah dengan suara dalam pikirannya sendiri.
"Iya, Jo. Infokan aja nomer ponsel Jamilah, biar mereka berdua bisa saling kenal," tambah Alex sengaja memanas-manasi adiknya.
"Jamilah yang ga mau nomer ponselnya diberikan siapa-siapa," ucap Jonathan. Ia memberikan lirikan maut pada kakaknya. Alex membalas tatapan adiknya seolah berkata, salahku apa?
...🤍❤...
Jamilah cocoknya untuk William atau Jonathan ya? 🤔