
"Loh, hei Milah! ... astaga anak itu kalo jalan cepat banget sih," keluh Retno melihat motor miliknya sudah melewati pagar kosnya, "Semoga aja cincinnya ga diambil pemilik baru." Retno menggelengkan kepala lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu Jamilah yang baru sampai di apartment, segera memarkirkan motor milik Retno lalu masuk melalui lobby apartement.
"Mba ... mba Milah!"
"Ada apa, Pak Kasur?" Jamilah yang sudah akan masuk ke dalam pintu lift yang terbuka, mundur selangkah lagi saat petugas keamanan apartement memanggilnya.
"Mau kemana?"
"Ke atas." Jamilah mengacungkan jari telunjuknya.
"Apartement, Mba Milah?" tanya satpam itu lagi. Jamilah menganggukan kepala tak sabar.
"Apartement Mba Milah 'kan sudah diisi orang lain."
"Orangnya sudah masuk?"
"Sudah tadi sore, jadi Mba Jamilah ga bisa masuk karena kode pintunya pasti sudah diganti."
"Saya mau cari barang saya yang mungkin tertinggal, Pak. Gimana ya?" Jamilah memandang satpam itu dengan penuh harap.
"Ayo saya anterin biar orangnya ga salah paham." Jamilah tersenyum lega mendengar Pak Kasur dapat memahami kegundahan hatinya.
Jamilah tetap berdiri di belakang Pak Kasur, saat pria setengah baya itu mengetuk pintu bekas apartementnya. Setelah ketukan ketiga terdengar suara alas kaki menyeret dari dalam sana.
"Malam, Mas maaf mengganggu. Ini Mba Jamilah yang dulu tinggal di apartement ini, bilangnya ada barangnya yang mungkin tertinggal apa boleh masuk untuk mencari di dalam?" jelas Pak Kasur mewakili dirinya berbicara. Sedangkan pria yang membuka pintu apartment untuk mereka awalnya mengerutkan kening lantas mengulas senyum dan mengangguk.
"Silahkan." Pria itu memiringkan posisi tubuhnya memberi jalan agar Jamilah bisa masuk ke dalam.
"Permisi." Jamilah melangkah masuk dengan sedikit membungkukan badannya sopan.
"Mba, saya turun duluan ya. Di bawah ga ada yang jaga."
"Loh, Pak tungguin sebentar."
"Ga apa-apa, saya saksinya. Mas, awas loh ya kalau Mba Jamilah keluar lecet sudah pasti Masnya yang apa-apain," seloroh Pak Kasur dengan jari telunjuk mengarah ke pria yang bersandar di pintu apartment.
"Hahahaha ... aman, Pak." Pria itu mengacungkan jari jempolnya.
"Barang apa yang tertinggal?" Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Jamilah yang tertegun melihat punggung Pak Kasur yang semakin menjauh.
"Eh, cincin."
"Silahkan dicari, belum ada yang saya pindahkan karena sore tadi saya baru masuk mau bersih-bersih tapi sudah terlanjur lelah, tapi sejak masuk saya belum lihat ada cincin di apartement ini."
Mata Jamilah melihat ke arah pintu yang terutup. Seolah tahu apa yang dipandangi Jamilah, pria itu mengikuti arah pandangannya.
"Di kamar?" Jamilah menganggukan kepala ragu, "Silahkan. Saya yakin pasti cincin itu sangat berharga untukmu, entah harganya yang mahal atau kenangannya yang terlampau indah, sampai kamu malam-malam kembali ke sini dengan alas kaki yang berbeda di sisi kanan dan kirinya.
Jamilah menundukkan kepalanya lalu meringis malu, "Iya, cincin itu sangat berharga sekali."
"Silahkah, semoga apa yang kamu cari bisa ditemukan di sini." Pria itu menunjuk ke arah bekas kamar yang digunakan Jamilah.
"Aku tahu. Aku tidak akan beranjak dari posisiku 1cm pun." Pemuda itu masih dalam posisi yang sama bersandar di daun pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Perlahan Jamilah membuka pintu kamarnya dan langsung memeriksa di bawah ranjang. Matanya mencari-cari benda kecil berwarna perak dengan batu kaca mungil berwarna biru langit.
"Aahhh, adaa!" seru Jamilah senang lalu langsung berusaha menggapai benda kesayangannya yang sudah menggelinding jauh di tengah kolong ranjang,
"Syukurlah ketemu," Jamilah tersenyum lega. Ia berjalan keluar kamar sembari menundukkan kepala memasang cincin di jari manisnya.
"Aku ga nyangka." Mendengar suara yang sangat dirindukannya membuat Jamilah mengalihkan pandangannya dari mengagumi keindahan cincin di jarinya.
"Pak Jo ...." Jamilah mengurai senyumnya.
"Iya, aku. Kenapa? kamu kaget aku ada di sini?" Wajah kaku Jonathan membuat senyum Jamilah hilang dari bibirnya.
"Dia temanmu?" tanya pemuda pemilik apartement yang baru. Jamilah masih termangu di tengah ruangan. Ia masih belum sadar antara senang bertemu dengan Jonathan, dan sikap dingin yang ditampilkan kekasihnya itu.
"Dia pacarku." Jonathan yang menjawab dengan tatapan tajam masih ke arah Jamilah yang kebingungan.
"Aku kecewa saat menerima uang dan surat dalam amplop yang kamu tinggalkan di kantor. Aku langsung pergi ke tempat kerjamu untuk meminta penjelasan mengapa pikiranmu sempit seperti itu, tapi saat aku menyusulmu kesini ... aku jadi paham jalan pikiranmu, Milah," ungkap Jonathan. Pandangannya bergantian antara Jamilah dan pemuda yang tampak santai bersandar di pintu seakan sedang menonton adegan drama.
"Saya sudah bilang sama teman kamu tadi, gadis yang ia sebutkan ciri-cirinya tadi sedang ada di kamar mencari barangnya yang tertinggal." Pemuda itu mulai membuka suara. Ia berdiri tegap dan memasukan kedua tangannya di saku celana pendeknya.
"Cincin ini ketinggalan," ucap Jamilah lirih. Ia mengangkat tangannya memperlihatkan cincin yang tadi baru ia temukan.
"Cincin yang selalu melekat di jarimu bisa ketinggalan?" Jonathan mengerutkan keningnya. Ada nada tidak percaya di kalimatnya. Jamilah menelan salivanya berat, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan tentang cincin yang tertinggal di kamar apartement.
"Mmm ... bisakah kalian berdua membicarakan masalah pribadi di luar saja. Saya lelah mau istirahat." Jamilah mengangguk maklum. Ia menggumamkan kata maaf dan berjalan mendekati Jonathan.
Dering ponsel Jonathan berdering, nampaknya di seberang sana mengabarkan sesuatu yang kurang baik, sehingga wajah Jonathan tampak menegang dan khawatir.
"Tolong tenangkan dulu, saya ke rumah sakit sekarang." Mendengar kata rumah sakit, Jamilah tahu tentang siapa yang dibicarakan orang di seberang sana. Langkahnya yang hampir mendekat ke arah Jonathan sontak terhenti.
...❤️🤍...
Aku bawa cerita bagus lagi loh
Rayana Hasianna, tidak pernah menyangka rumah tangga yang sudah dibina selama 2 dua tahun, harus kandas di tangan pelakor yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Rayana tidak pernah menyangka kalau sore itu dia akan melihat ranjang yang selama ini menjadi milik pribadinya bersama suami, harus digantikan oleh, Lani, sahabatnya sendiri.
Bertekad ingin membalas dendam atau menyelamatkan rumah tangganya, Ray memilih pura-pura tidak mengetahui perbuatan mesum kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
Bagaimana kisah Ray? akankah hati yang sudah hancur berkeping-keping bisa ditata kembali?
Akankah Ray berhasil mendapatkan cinta suaminya lagi, atau memang takdir berkata lain?
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi tidak untuk melupakan, rasa sakit ini." - Rayana Hasianna.