CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Tips dari senior


Para tamu sudah kembali ke rumah masing-masing. Suasana rumah kembali sepi, hanya terlihat karyawan dari kantor Papi Ray yang membereskan perlengkapan dekorasi pelaminan dan beberapa hiasan yang tersebar di taman belakang rumah Pak Beni.


Alex dan Jonathan sedang duduk di ruang tamu melepas lelah bersama kedua orangtuanya. Hanya Jamilah dan Hanum yang tidak terlihat. Mereka sedang berada di kamarnya masing-masing, Hanum sedang menyusui bayinya sedangkan Jamilah membersihkan tubuhnya di dalam kamar milik suaminya.


Jamilah tersipu ketika menyadari bahwa ia sekarang sudah berstatus istri dari seorang Jonathan. Wajahnya semakin memerah saat mengingat malam ini adalah pertama kalinya mereka berada dalam satu kamar di ranjang yang sama.


Jamilah memepercepat ritual membersihkan wajahnya. Segera ia mengambil handuk yang sudah disiapkan di atas ranjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Wajahnya yang merona berubah pias saat lapisan tubuhnya yang terakhir ia lepaskan.


Sementara itu di ruang tamu, Mama dan Papa tak henti-hentinya menggoda putra bungsu mereka.


"Papa kok curiga ini bukan pengalaman pertama kamu. Pengantin baru itu biasanya gelisah di malam pertama, kamu kok santai?"


"Tega nuduh anak sendiri. Tubuh Jonathan masih suci, Pa belum pernah tersentuh oleh tangan para wanita," ujar Jonathan lantang. Alex berdecih sinis dengan mata tetap mengarah ke ponselnya, "Kok pada ga percaya sih?"


"Mama percaya, Jonathan anak yang baik."


"Meskipun teman wanita banyak, aku tidak pernah menyentuh mereka, Ma," ucap Jonathan setengah mengadu.


"Kamu memang tidak pernah menyentuh mereka, tapi mereka yang menyentuh kamu begitu maksudnya?" ledek Papa.


"Ya ga seperti itu juga, Pa. Teman-teman Jo itu semua baik-baik meski kadang dari luar kami terlihat bebas, tapi semua masih dalam batas wajar kok."


"Mama percaya, sekarang kamu sudah menikah jangan terlalu dekat sama teman wanitamu. Belajar menghargai perasaan istrimu. Ya udah, Mamaa ke kamar dulu mau istirahat."


"Papa ikut," sahut Papa cepat lalu mengekori istrinya masuk ke dalam kamar.


"Ckckckck, pengantin lawas tapi ga mau kalah." Jonathan menggelengkan kepalanya geli.


"Jadi masih belum ada pengalaman?" Alex mengangkat wajahnya dari ponsel lalu memandang adiknya dengan tatapan meremehkan.


"Apa maksudmu?"


"Perlu aku ceritakan rasanya bagaimana? Atau kamu perlu arahan dari yang sudah berpengalaman?" tanya Alex semakin menjadi-jadi. Jonathan memandang Alex seolah kakaknya itu dari dunia lain.


"Kamu bicara apa sih?" Jonathan merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan Alex.


"Hehehe, ayolah Jo kamu sudah menikah berarti sudah dewasa. Gimana kamu siap menghadapi malam pertamamu?"


"Siaplah!"


"Sudah tahu apa yang harus kamu lakukan di awal?"


"Memangnya apa?" Jonathan merubah posisi duduknya menghadap ke arah Alex. Topik semakin menarik dan menantang baginya.


"Harus kamu tahu, wanita itu suka diperlakukan dengan lembut. Begitu mereka merasa kita menjadikannya seperti ratu, apapun akan mereka serahkan," ujar Alex bak penasehat pernikahan.


Ia sudah lupa bagaimana awal pernikahannya dengan Hanum. Diwarnai oleh rasa tidak percaya dan kekerasan verbal, ditambah malam pertama mereka awalnya terjadi tidak dengan dasar keikhlasan dari pihak wanita.


"Lalu? Apa yang harus aku lakukan untuk menjadikan wanita ratu saat di dalam kamar?" kejar Jonathan. Ia sangat penasaran dan butuh petunjuk, terlebih saat berhadapan dengan Jamilah ia selalu merasa gugup. Apalagi nanti berada dalam satu ranjang.


"Mula-mula, kamu harus memuji dirinya. Katakan ia cantik, menarik, wangi dan kamu sangat beruntung dapat memilikinya."


"Lalu?"


"Untuk apa?" Dada Jonathan mulai berdebar menunggu penjelasan Alex selanjutnya.


"Kamu usap rambutnya mulai dari atas sampai ujung rambutnya. Berulangkali sampai istrimu merasa terlena," ucap Alex sembari menggerakan tangannya seperti sedang membelai rambut Hanum yang panjang.


"Oww, terus?" tanya Jonathan dengan suara lirih. Matanya menerawang menghayati gerakan tangan kakaknya.


"Setelah itu, kamu bawa dia kepelukanmu." Alex memeragakan sedang memeluk hangat seorang wanita. Matanya melirik ke arah Jonathan yang melongo. Alex tertawa dalam hati, rupanya adiknya itu sangat polos dibalik sifatnya yang seperti don juan.


"Terus?" kerjar Jonathan tak sabar.


"Kamu pegang dagunya, angkat kepalanya sampai wajah kalian berhadapan. Pandangi matanya lekat dan dalam. Biasa di tahap ini, wanita tidak akan tahan." Alex terkekeh mengingat saat ia melakukan hal itu pada Hanum. Walaupun bukan lagi pengantin baru, istrinya itu masih saja tersipu jika dipandangi secara intens.


"Saat kepala istrimu mendunduk karena malu, kamu harus cepat mengangkatnya kembali. Em, kamu sudah pernah ...." Alex mengkerucutkan jemarinya dan memeragakan orang sedang berciuman. Adiknya itu menggeleng dengan wajah antusias, "Hahahaha," Alex tak bisa menahan tawanya. Baru ini ia merasa selangkah di depan soal percintaan dari pada Jonathan.


"Sudaaah, ayo lanjutin. Ngoloknya nanti aja." Wajah Jonathan merengut kesal.


"Sebanyak itu wanita yang sering berpergian denganmu, masak tidak ada satupun yang pernah kamu cium?" Alex memasang wajah mengejeknya.


"Mereka selalu memancing, tapi aku ga mau. Rasanya gimana yaa, hiiiii ...." Jonathan bergidik membayangkan bibir penuh warna milik teman-temannya.


Namun ia sempat tergoda dengan bibir polos alami milik Jamilah. Bibir berwarna merah muda pucat itu pernah mampir di dalam mimpinya dan menghasilkan cairan seperti mengompol pada pagi harinya.


Alex dan Jonathan adalah kakak beradik yang sama tapi tak serupa. Mereka lebih senang mengejar dari pada dikejar. Wanita yang terlalu agresif tidak istimewa di mata mereka. Sebaliknya, wanita yang belagak tidak butuh akan membuat mereka penasaran.


"Kamu mau tahu rasanya?" Mata Alex menerawang ke langit-langit rumah. Jonathan semakin memajukan duduknya hingga ke ujung kursi, "Rasanya itu hangat, lembut dan juga kenyal," ucap Alex penuh dengan penghayatan. Jonathan menelan air liurnya dengan susah payah. Dalam benaknya terlihat jelas bibir Jamilah yang merekah dan basah.


"Masih mau lanjut?"


"Mau, mau, mau!"


"Setelah kalian berdua berciuman dengan mesra, jangan lupa tetap usap rambutnya lalu turun ke lehernya dan ...." Alex sengaja menggantung kalimatnya. Ia terkikik dalam hati melihat reaksi wajah adiknya yang penuh dengan hasrat.


Jantung Jonathan bergemuruh hebat di dalam dadanya. Nafasnya sudah mulai terasa berat. Imajinasinya semakin liar bermain-main di dalam kepalanya.


Tiba-tiba percakapan kakak beradik itu terhenti ketika pintu kamar Jonathan terbuka. Jamilah keluar dari dalam kamar lalu berjalan cepat menuju ke kamar Hanum. Saat melewati suami dan kakak iparnya, ia menunduk sedikit lalu melanjutkan langkahnya.


Keduanya mengamati Jamilah yang mengetuk pintu kamar Hanum. Tak berapa lama istri Alex itu membuka pintu kamarnya. Sejenak keduanya saling berbisik, Hanum terlihat membelalakan matanya lalu masuk ke dalam kamar.


Jamilah menunggu di depan kamar dengan gelisah. Sesekali ia melirik ke arah suaminya yang memandangnya penuh tanya. Tak lama, Hanum keluar dan menyerahkan sebuah benda terbungkus plastik berwarna merah muda. Dengan cepat Jamilah kembali masuk ke dalam kamar dan menutupnya rapat.


Hanum mendekati suaminya lalu membisikan sesuatu. Sedetik kemudian Alex terpingkal dan Hanum tertawa geli.


"Kalian kenapa sih?" Jonathan memandang heran pada Alex dan kakak iparnya.


"Sepertinya kamu harus bersabar sedikit dulu, tapi bolehlah kamu praktekin sedikit cara yang aku ajarkan tadi tapi hati-hati jangan sampai kebablasan."


"Apaan sih!"


"Sudah masuk kamar aja, Jamilah nungguin tuh." Hanum tersenyum simpul.


"Aku masuk dulu ya, mau coba hal baru lagi," ujar Alex sombong sembari menggamit pinggang istrinya.