CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Belajar jadi CEO


"Hai Bos."


"Pagi Bos."


"Rapi sekali, Bos."


"Mau minum apa, Bos?"


"Sudah sarapan, Bos?"


Berbagai sapaan menyambut Jonathan dari lobby hingga ia sampai ruangan kakaknya, membuat hidungnya mengembang dan mengempis berulang kali.


"Jo, ke ruang rapat!" Belum satu detik pan*tatnya menikmati empuknya kursi CEO, papanya menghubungi lewat intercom.


"Aaaiish!" Jonathan mengeluh kesal, dengan langkah berat Jonathan menganyunkan langkahnya menuju ruang rapat besar di lantai yang sama.


"Permisiiii," sapa Jonathan bersamaan dengan ia membuka pintu ruang rapat.


Senyum yang ia siapkan sedari tadi, surut saat melihat raut wajah datar dan kaku dari jajaran direksi dan petinggi perusahaan Papanya. Namun setidaknya matanya sedikit cerah melihat wajah cantik dan senyum manis dari para sekretaris direksi.


Rapat langsung dimulai begitu ia duduk di samping papanya. Pagi ini yang memimpin rapat dari department marketing. Bisnis Pak Beni di bidang pembangunan perumahan, sedang berkembang pesat dan berencana akan mengembangkan sayap di bisnis perhotelan.


Jonathan berusaha keras menahan kantuk dan keinginan kuat untuk menguap, karena semua mata sedang tertuju ke arah papanya yang sedang berbicara. Otomatis ia yang duduk di sebelahnya, juga akan sangat jelas terlihat gerak geriknya.


Berulang kali Jonathan menganggukan kepala seolah mengerti apa yang disampaikan dalam rapat. Keningnya pun berkerut menandakan ia sedang berpikir keras, padahal satu topik pun tidak ada yang ia pahami.


"Kalau, menurut Bapak Jonathan bagaimana?" tanya seorang direksi berkumis tebal.


"He? apanya?" Wajahnya yang tadi tampak seolah mengerti dan berpikir keras, mendadak berubah cengo.


"Pffffttttt ...." Suara-suara menahan tawa terdengar di dalam ruang rapat.


"Saya setuju," sahut Jonathan asal.


"Jadi Pak Jonathan setuju pembangunan Hotel Mariposa ditunda hingga tahun depan?"


"Heh? bukan itu," sahut Jonathan cepat. Suara tawa di dalam ruangan terdengar semakin jelas.


"Kamu itu jangan asal bicara di depan mereka!" seru papanya saat hanya mereka berdua di dalam ruangan Alex. Jonathan hanya menunduk pasrah di depan papanya.


"Mereka itu selalu mencari celah kelemahan kita untuk menyingkirkan keluarga kita dari jajaran pemegang saham," lanjut papa.


"Maaf, tadi aku kira masih bahas tentang penambahan unit rumah di Rumput Village, ya aku setuju aja."


"Ngantuk kamu! itu topik pertama, kamu ditanya di pembahasan topik ke lima."


"Moy, bawa semua katalog, brosur, penawaran, surat kerjasama, pengajuan tender, dan company profile perusahaan mulai dari lima tahun yang lalu sampai yang paling terbaru," perintah papa pada sekretaris Alex melalui intercom.


Tak berapa lama Cimoy masuk dengan setumpuk berkas di pelukannya.


"Taruh di sana." Papa menunjuk meja oval yang biasa digunakan Alex untuk rapat kecil di ruangannya.


Ternyata Cimoy tidak hanya sekali masuk ke dalam ruangan, sekretaris bahenol itu lebih dari 10kali mundar mandir menaruh setumpuk berkas ke atas meja.


"Papa beri waktu kamu satu minggu untuk mempelajari ini semua."


"Aku? belajar??"


"Kenapa?"


"Duh, Pa please deh, papa boleh suruh aku apa aja. Pijetin Papa di kantor kalo capek bisa aku, atau gantikan papa tanda tangan kalo tangannya pegel boleh juga, tapi tolong jangan suruh belajar lagi," tawar Jonathan.


"Tambah ngawur aja! kamu kira kampus bisa titip tanda tangan?!"


"Sekarang duduk diam disini selama satu minggu, kamu harus bisa menguasai semua bidang usaha kita," perintah papa. Setelah itu beliau langsung melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Jonathan yang memandang pasrah pada setumpuk kertas di atas meja.


...❤🤍...


Karya pertamaku yang sudah tamat. Ada yang belum mampir di sini?