
Alex menghampiri istrinya di dalam kamar. Hanum duduk di tepi ranjang sedang menyusui Sarayu saat ia masuk ke dalam kamar.
"Kok nangis? Malu tuh dilihatin Sarayu, masak Mamanya yang nangis." Alex menunjuk bayinya yang sedang menyusu sambil menatap lurus kearahnya.
Hanum beradu pandang dengan Sarayu, mata jernih bayinya itu seolah bertanya mengapa Mama menangis. Ia menyusut air mata yang sudah menetes sejak tadi.
"Kenapa Mama pilih kasih?" tanya Hanum dengan suara serak.
Ia sangat kecewa dengan keputusan sepihak mama mertuanya saat sarapan tadi. Mengapa dengan ringannya menyetujui Jonathan serta istrinya yang baru saja menikah untuk pindah ke kediaman mereka sendiri. Sedangkan untuknya, Mama dengan tegas melarang tanpa bertanya ataupun mendengarkan dulu keinginan mereka.
Hati Hanum semakin memanas saat adik iparnya itu dengan sengaja menyusun satu persatu barangnya di depan kamar sembari bersiul kencang.
Jamilah sempat menghampirinya untuk menghibur, tapi sebelum istri dari Jonathan itu sampai di dekatnya ia sudah berdiri dan masuk ke dalam kamar. Ia memang tidak berani menunjukkan rasa kecewa dan marahnya pada kedua mertuanya, tapi pada suami serta adik iparnya ia dengan gamblang mengakuinya.
"Kata siapa Mama pilih kasih? Apa karena Mama melarang kita pindah rumah?"
"Sudah jelas. Padahal Mama tahu Mas Alex punya rumah di jalan Ambarawa, tapi kenapa ga boleh ditempati. Kenapa juga Jonathan yang baru menikah boleh pindah ke apartement, sedangkan kita yang sudah lama ditahan di sini. Apa coba kalau bukan pilih kasih!" seru Hanum tersengal-sengal.
Alex mendengarkan dengan sabar. Ia hanya diam membiarkan istrinya mengeluarkan segala kemarahannya.
"Kamu kenapa mau pindah rumah di jalan Ambarawa?" tanya Alex seraya mengambil alih Sarayu dari gendongan Hanum.
"Memangnya Mas Alex ga mau kita bangun rumah tangga sendiri? Apa jangan-jangan Mas Alex tipe anak Mama yang ga bisa jauh dari orangtua?" sembur Hanum.
Alex menatap istrinya yang menahan emosi. Hidungnya yang kembang kempis menandakan Hanum sedang emosi berat. Ia menarik nafas panjang mencoba menahan rasa kesal karena tuduhan yang tak berasalan. Perlahan ia menaruh putrinya ke ranjang bayi dan memberikan mainan agar Sarayu tenang.
"Aku mau, sangat mau pindah ke rumah kita di jalan Ambarawa. Tuduhanmu tidak berdasar, Sayang. Dari sudut mana kamu menilai aku tak bisa jauh dari orangtuaku? Hmmm?" Alex duduk tepat di hadapan Hanum dan menggenggam tangan istrinya.
"Buktinya Mas Alex tidak bantu aku meyakinkan Mama untuk kita pindah rumah," ucap Hanum lirih.
"Kamu mau pindah ke rumah kita di jalan Ambarawa?" pancing Alex.
"Mau," sahut Hanum mantap.
"Baiklah, ayo kita pindah. Tapi sebelum kita pindah harus kamu tahu, kalau jalan Ambarawa ke rumah Mama jaraknya bisa dua jam itu juga kalau tidak macet." Alex menjeda penjelasannya, ia mengamati reaksi Hanum. Istrinya itu mengangguk perlahan dengan raut wajah sedikit berpikir.
"Lalu rumah di sana belum 100% selesai pembangunannya. Belum ada pagar, tetangga masih berjauhan. Kamu siap?" Anggukan Hanum semakin ragu.
"Beberapa bulan kedepan mungkin aku akan sering keluar kota. Ga lama, mungkin dua sampai tiga hari tiap minggunya." Kening Hanum mulai berkerut. Kali ini kepalanya tak mengangguk lagi.
"Kalau kamu siap, nanti aku bicara sama Mama. Kita bisa pindah kapan saja, kalau perlu besok pagi." Alex berkata dengan semangat berganti dengan Hanum yang semakin meragu.
"Mbok Jum atau Tini bisa temani aku di sana," usul Hanum kembali bersemangat.
"Mbok Jum mana bisa dipisah dari Mama. Tini 'kan kerjanya pulang pergi saja, rumahnya dekat di sekitar sini. Lagipula dia punya anak kecil, mana bisa ikut kita di sana, jauh untuknya."
"Dalam waktu singkat? Aku ga berani ambil resiko membiarkan kamu tinggal bersama dengan orang asing, Sayang. Jaman sekarang terlalu menakutkan kalau kita tidak kenal betul dengan orang yang bekerja di dalam rumah. Dia bisa memasukan orang jahat ke dalam rumah saat malam hari loh." Alex membesarkan matanya dan bergidik. Menunjukan kalau itu sesuatu yang mengerikan.
"Lalu bagaimana?" tanya Hanum pasrah.
"Kalau kamu sudah siap dengan situasi yang aku jelaskan tadi, aku sih ayo aja kita pindah rumah. Kamu juga pasti meminta pindah rumah karena sudah siap 'kan? Aku yakin kamu Mama yang hebat, bisa asuh Sarayu seorang diri. Benar 'kan?" Alex mengerlingkan matanya.
Tenggorokan Hanum terasa tercekat mendengar perkataan suaminya yang seperti mengejeknya. Bagaimana tidak, pujian suaminya tentang kepiawaiannya mengasuh Sarayu seorang diri jelas tidak benar.
Sejak Sarayu lahir hingga sekarang berusia tujuh bulan, Hanum sangat tergantung pada mama mertuanya. Hampir semua kebutuhan Sarayu Mama Alex yang menyiapkan. Hanum hanya menyediakan dadanya untuk menyusui bayinya. Selebihnya mama mertuanya lebih berperan penuh merawat putrinya.
"Oke, tunggu sebentar ya aku bilang ke mama sama papa dulu." Alex beranjak keluar kamar.
"Eh, Mas Alex tunggu ...." Hanum mengejar Alex sebelum suaminya itu menemui mamanya.
"Ada apa lagi, biar kita cepat pindah. Kalau bisa sebelum Jonathan kita sudah duluan." Alex melepaskan pegangan tangan istrinya dan melanjutkan langkahnya ke arah ruang keluarga.
"Mas!" Hanum terus mengejar, tapi panggilannya itu malah menarik perhatian mama yang sedang duduk menonton televisi.
"Ada apa kalian berdua?"
"Kami sepakat untuk pindah ru--"
"Ga jadi!" sela Hanum cepat.
"Loh, kenap ga jadi. Tadi kamu semangat minta kita pindah rumah biar lebih mandiri. Katanya sudah sanggup hidup sendiri, urus Sarayu sendiri," ujar Alex menggoda.
Hanum berdiri tertunduk dengan gelisah. Bibirnya mengkerucut kesal dengan sikap suaminya.
"Hanum, duduk sini mama mau bicara." Mama menepuk sofa disampingnya.
"Kami ga jadi pindah rumah kok, Ma," ucap Hanum cepat sebelum mama mertuanya bertanya.
"Kalau Hanum dan Alex memaksa pindah rumah, mama juga bisa apa. Kalian sudah dewasa dan berhak menentukan segala keputusan dalam rumah tangga kalian sendiri."
"Gaa Ma, kita ga jadi pindah. Hanum masih butuh Mama, ga berani tinggal sendiri. Kalau Sarayu rewel, siapa yang bantu tenangin. Aku juga belum bisa buat bubur tim untuk Sarayu, kami belum bisa hidup tanpa Mama." Hanum mulai menangis menyadari betapa pentingnya kehadiran mama mertuanya.
"Mama meminta kalian masih tinggal di sini itu juga karena mama butuh kalian. Coba bayangkan kalau semua anak-anak mama tinggal sendiri, mama bakal kesepian. Kamu tahu papamu seperti apa di rumah, sama seperti suamimu. Kalau laptop, kertas dan ponsel bisa bicara mereka ga butuh kita di sampingnya."
Alex menggaruk-garuk kepala mendengar ucapan mamanya yang menyamakan dirinya dengan papa.
...❤️🤍...