
Hanum memandang Alex dan Ane secara bergantian. Tanpa mereka berdua sadari, tubuh mereka masih saling berdekatan. Alex memegang pinggang Ane, sebaliknya tangan wanita itu merangkul leher suaminya.
Hanum berjalan mundur ke arah meja besar, lalu ia membuka kotak makan yang sudah ia siapkan sejak dari rumah tadi pagi.
"Makan dulu, Mas. Sudah siang," ucapnya datar tanpa mau melihat ke arah Alex dan Ane.
Hanum dengan tenang seperti tidak terganggu dengan kejadian sebelumnya, menyusun kotak demi kotak makanan lalu menyiapkan alat makan serta menuangkan minum untuk suaminya.
Alex bergerak ingin mendekati Hanum, tapi tertahan karena tangannya masih dicekal oleh Ane. Alex setengah memaksa melepaskan jemari Ane yang mencengkram lengannya.
"Kamu kalo mau ikut makan ga apa-apa," ucap Hanum pada Ane, namun masih tetap tidak mau melihat pada orangnya.
Ane berjalan mendekati meja besar mengikuti Alex dengan langkah yang dihentak-hentakan.
Hanum mengambil nasi beserta lauk ke dalam piring, lalu menaruhnya di hadapan Alex.
"Terima kasih," ucap Alex seraya tersenyum lebar. Ia mencoba menarik perhatian Hanum dengan senyumannya yang sempat dipuji oleh istrinya tadi pagi. Namun ia harus menelan kekecewaan, karena Hanum sama sekali tidak memandang ke arahnya.
"Sama-sama," sahut Hanum datar masih tanpa senyuman di wajahnya, dan mata hanya tertuju pada jajaran lauk di atas meja.
"Silahkan makan, Ane. Maaf kamu ambil sendiri ya, karena saya bukan pelayan di sini," ucap Hanum pada Ane yang seperti menunggu di ambilkan piring seperti Alex.
Ketiganya makan dalam suasana hening, tanpa suara dan topik yang dibicarakan.
Alex melirik wajah istrinya yang tidak berekspresi seperti biasanya "Ini enak, aku suka," puji Alex seraya menunjuk kotak makan berisi sayur tumis buncis campur udang.
"Besok aku buatkan lagi," sahut Hanum singkat.
"Aku juga bisa buat jauh lebih enak dari ini, Al," ujar Ane dengan gaya manjanya.
"Bagus. Kalau begitu, besok giliran kamu yang masak. Jangan lupa buat untuk tiga porsi," ucap Hanum. Alex mengangkat kepalanya dengan raut wajah tak setuju. Namun Hanum seolah tidak peduli.
"Baiklah, besok aku masak tapi maaf hanya untuk aku dan Alex." sahut Ane menantang.
"Aallll," rengek Ane mengadu pada Alex.
"Dia istriku, apa yang ia katakan memang benar. Kalau kamu tanya aku, jawabanku lebih baik kamu ga perlu datang lagi," sahut Alex dengan mata menatap Hanum lurus. Diam-diam ia sangat senang dengan sikap Hanum yang tegas berbicara sebagai seorang istri. Namun wanita yang sedang dipandanginya ini, enggan menatap dirinya. Hanum hanya melihat lurus ke arah Ane.
Bibir Ane mengkerucut kesal dengan sikap dan perkataan Alex, yang seolah tidak menganggap dirinya ada di ruangan itu.
"Baiklah, jika kalian sudah selesai makannya, biar saya rapikan dulu." Hanum berdiri dari duduknya, lalu menyusun kembali semua kotak makanan seperti semula.
Suara pesan masuk di ponselnya berulangkali terdengar dari dalam tas Hanum. Sejenak ia ragu meninggalkan Alex dan Ane hanya berduaan dalam ruangan, tapi pesan dari Caroline dan Arthur yang terus bertanya dimana posisinya sekarang, membuatnya harus segera mengambil keputusan.
...❤❤...
Lanjut sore nanti yaa
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰