CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Ponsel Balu dari Ayank


"Pesanan catering Bapak," sahut Cimoy seraya menaruh kantong makanan milik Hanum ke atas meja.


"Mana orang yang antar?" tanya Alex.


"Langsung pergi. Kata receptionist, Ini pesanan Bapak Alex jadi dia cuman naruh aja."


"Saya ga pesan catering," ujar Alex dengan wajah masam.


"Ow lalu?" Cimoy tampak ragu.


Alex membuang nafas kasar lalu melanjutkan, "Kamu habiskan aja." Wajah Alex seketika gelap.


"Punya pemuja rahasia, nih. Sampai dikiriman makanan segala, awas loh bisa diracun atau dikirim guna-guna. Iiihhh, serem." Ane bergidik centil.


"Makan dulu yuk, nanti masuk angin." Ane menaruh piring yang sudah berisi nasi dan lauknya.


Alex kehilangan naf*su makannya, ia hanya sanggup menelan dua sendok makan saja. Ingin rasanya menghubungi Hanum, tapi baru teringat jika istrinya itu sudah tidak punya ponsel.


Ia tidak tahu dimana Hanum sekarang. Baru saja ia menghubungi Mbok Jum, ternyata Hanum belum sampai rumah. Ingin rasanya ia pergi ke tempat Arthur melihat apakah istrinya berada di sana, tapi egonya mengalahkan segalanya.


...❤...


Hanum berjalan kaki sejauh lebih dari 1KM, dari depan komplek perkantoran elite hingga ke gedung kantor Caroline. Cuaca yang panas siang itu membuat tubuhnya mandi keringat dan kelelahan.


Begitu membuka pintu kaca kantor Caroline, Hanum langsung mencari sofa dan duduk di sana.


"Hanum? kamu kok kusut gini?" Caroline yang baru saja turun dari lantai atas bersama dengan Arthur, terkejut melihat model utamanya terkapar di sofa lantai satu.


"Maaf, Mba. Saya istirahat sebentar ya, capek tadi jalan kaki dari depan ga ada ojek," ujar Hanum dengan nafas masih tersengal.


"Kok jalan kaki? kenapa ga naik taxi online kan langsung diantar sampai depan kantor?"


"Tadi naik bis, mau pesan taxi online ponsel saya rusak," sahut Hanum pelan. Perlahan ia merapikan duduknya saat menyadari Arthur ada di belakang Caroline.


"Kalo kamu kelelahan seperti ini, kita ga bisa adakan sesi pemotretan outdoor." Arthur membuka suaranya.


"Maaf," cicit Hanum.


"Ga apa-apa, kita bisa jadwalkan ulang. Kami mau keluar makan siang, ayuk," ajak Caroline seraya menggamit lengan Hanum.


...❤...


Hanum menimang-nimang kotak ponsel yang belum terbuka di tangannya. Siang tadi setelah selesai makan, Caroline mengajaknya ke counter penjual ponsel dan langsung membelikannya sebuah ponsel keluaran terbaru.


Sempat ia menolak, tapi Caroline mengatakan jika ini penting untuk komunikasi mereka terkait pekerjaan. Ponsel ini juga termasuk bonus karena setelah acara soft launching dan pemunculan Hanum perdana pertama kali di Mall beberapa waktu yang lalu, penjualan brand 'Aku Cantik' melonjak tajam.


Hanum mengetuk pintu kamar Jonathan. Ia ingin meminta bantuan untuk memasang SIM card, dan mengatur aplikasi di ponsel barunya.


"Ada apa Akak Ipar?" Jonathan membuka pintu kamarnya dengan wajah mengantuk. Hanum meringis mendengar sebutan Jonathan untuk dirinya.


"Bisa minta tolong?" Hanum menyodorkan kotak ponsel yang masih tersegel dan SIM cardnya.


"Widiiihh, ponsel baru. Ciieee yang lagi disayang sama ayanknya dibelikan ponsel baluuuu." Jonathan terus menggoda sambil membawa kotak ponsel Hanum ke ruang tengah.


Hanum membiarkan mulut adik iparnya itu terus berkicau agar tidak keberatan membantunya.


"Beli ponsel baru kamu, Jo?" tanya Mamanya.


"Bukan, ini punya Akak Ipar. Dibelikan ayank dong." Jonathan melanjutkan godaannya.


"Ayang apa sih?" Mama memandangnya heran.


"Ayank itu sayang, pasangan, pacar, kekasih, suami," jelas Jonathan.


"Ihh, bu---"


"Mama seneng kalo Alex sudah berubah." Belum sempat Hanum meralat, Mama sudah menyela terlebih dahulu.


"Nah, itu ayank sudah pulang," ujar Jonathan tiba-tiba.


Alex melirik sekilas ke arah Jonathan yang sedang dikelilingi Mamanya dan Hanum. Saat matanya sampai ke arah Hanum, ia langsung melengos dan masuk ke dalam kamar.


"Ayanknya serem ya, kayak cewek kalo lagi dapet" goda Jonathan seraya menyerahkan ponsel yang sudah siap pakai pada Hanum.


"Ayank apaan sih?!"


"Maklumin ya Hanum, Alex memang gitu orangnya," ucap Mama. Jika Mama yang mengeluarkan perkataan, Hanum tidak berani membantah lagi.


Namun Ibu mertuanya melarang dengan keras, dengan alasan tak baik suami istri tidur terpisah.


Malam harinya Hanum memilih masuk dalam kamar Alex, saat menjelang tengah malam dan berharap suaminya itu sudah terlelap.


Perlahan Hanum membuka pintu kamar, dan berusaha tidak menimbulkan suara berdecit. Tubuhnya membeku saat melihat Alex duduk di kursi kerjanya dan menatap lurus ke arahnya.


"Permisi," ucapnya lirih. Tak ada reaksi, Alex masih menatap tajam tak berkedip.


Hanum berjalan ke sisi pembaringannya dan duduk di sana. Mata Alex mengikuti kemana Hanum berjalan tanpa melewati satupun pergerakannya.


Merasa tidak nyaman ditatap seperti itu, Hanum memilih menaruh ponsel barunya di atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Alex.


Suara langkah Alex terdengar mendekatinya. Tubuh Hanum menegang. Lengan Alex yang panjang terjulur melewati tubuhnya dan meraih ponselnya yang ia letakan di atas nakas.


"Jangan!" Reflek Hanum duduk dan menahan tangan Alex yang sudah memegang ponselnya. Trauma akan ponsel kesayangan yang hancur karena dilempar suaminya, membuat tubuhnya otomatis bergerak melindungi benda kesayangannya.


Wajah mereka sangat dekat sekali, hingga hembusan nafas saling menerpa pipi keduanya.


"Kenapa?" tanya Alex dingin.


"Jangan dilempar," sahut Hanum lirih.


"Apa aku terlihat ingin melempar ponselmu?" tanya Alex, namun matanya tak lepas dari bibir Hanum yang bergetar, "Saat ini aku lebih ingin melemparmu dari pada ponselmu," lanjutnya.


Hanum mengangkat wajahnya, matanya menatap Alex penuh dengan tanya. Mengapa suaminya ini ingin melemparnya, kesalahan apa lagi yang ia lakukan?


"Kamu belum tau apa kesalahanmu hah?" tanya Alex seraya memajukan wajahnya ke arah Hanum. Hanum menggeleng dan beringsut mundur.


"Kamu membuat aku kelaparan."


"Saya kan sudah kirim makan siang untuk Bapak?" Hanum membela diri.


"Aku memintamu membawakan makan siang, bukan mengirimkan makan siang," ucap Alex dengan penuh penekanan.


"Jangan salahkan saya, receptionist Bapak yang tidak mengijinkan saya masuk karena Bapak sedang berduaan dengan istri Bapak," jelas Hanum yakin karena merasa sedang berada di atas angin.


"Istri??"


"Iyaa, katanya Bapak sedang berduaan dengan istrinya dan tidak mau diganggu." Hanum menambahkan bumbu di kalimatnya karena kesal merasa ditolak tadi siang.


"Lantas kamu siapa?" sindir Alex.


"Saya juga ga tau, saya siapa di sini. Mungkin calon mantan istri yang tidak dianggap," ucap Hanum seraya tersenyum pahit.


"Mau lebih dianggap?" Alex semakin mendekat, sehingga tak ada lagi ruang untuk Hanum bergerak.


"Ma-maksudnya?" Tubuh Hanum bergetar saat wajah Alex hampir tidak berjarak di depan wajahnya.


"Berhenti memanggil suamimu Bapak," bisik Alex.


...❤❤...


Duuhh mereka mau ngapain sih


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Promosi punya teman, mampir di sana ya