CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Interogasi


Hanum duduk di tepi ranjang sambil mengusap-usap bibirnya. Senyumannya tidak mau lepas dari bibirnya, begitu juga dengan Alex yang duduk di teras rumah. Pria beraut wajah datar itu terus tersenyum sembari memegang bibirnya.


"Sariawan?" Suara Jonathan kembali menghilangkan senyuman dari bibir Alex.


"Ehheem, mau apa?" tanya Alex sengit.


"Mau jalanlah, emang mau ngapain kalau keluar rumah gini? ga mungkin mau bobok siang kan?" sindir Jonathan.


"Mmm," Alex menggumam malas.


"Nikah enak ga?" tanya Jonathan.


Alex memandang adiknya curiga, karena terkadang apa yang dibicarakan selalu ada maksud tersembunyi.


"Kenapa? mau nikah juga? pilih satu dari 10 nama koleksi cewekmu. Halalkan dan jalankan dengan serius," ujar Alex sok memberikan petuah.


"Mmm, cuman nanya rasanya. Kalo enak nanti aku pilih satu dari mereka, kalo ga enak nanti-nanti dululah. Kak Alex dulu yang harus jadi role model buat aku, jangan dikit-dikit tengkar kan aku jadi trauma mau nikah," sahut Jonathan dengan wajah dibuat sedih.


"Alasan!" Alex meraih sandal paling dekat dengannya dan akan melempar ke arah Jonathan.


"Hahahahaa ... aku jalan dulu ya Kakak sayang, daaahh." Jonathan melambaikan tangannya, "Eh, betewe koleksi cewekku sekarang ada 12, nambah 2 kemarin kakak adik," ujar Jonathan sebelum menghilang masuk ke dalam mobil.


"Gila!" sergah Alex kesal.


"Siapa yang gila?" tanya Hanum yang sudah berdiri di samping kursinya.


"Ow ... ee ... itu Jo." Alex dengan sigap berdiri dari kursi dan menunjuk mobil Jonathan yang baru saja melewati pagar.


"Mmm, jadi berangkat sekarang?" tanya Hanum pelan.


"Iya, sudah pamit Mama?" tanya Alex juga dengan nada yang pelan. Hanum menjawab dengan anggukan kepala.


"Ya ayuk, Mas Alex jalan dulu," ucap Hanum memberi kode dengan tangannya.


"Oh, ya." Alex berjalan mendahului dengan gerakan kaku karena salah tingkah, "Eh, tunggu." Alex menghentikan tangan Hanum saat ingin membuka pintu mobil.


"Terima kasih," ucap Hanum tersenyum malu, saat Alex membukakan pintu mobil untuknya.


Sebelum menyalakan kendaraanya, Alex melirik ke arah Hanum. Saat kedua mata mereka bertemu, spontan senyum terbit di masing-masing bibir dan wajah keduanya langsung memerah.


Diihh, aku kenapa sih??! Perasaan dulu rasanya ga gini deh. Hanum membatin.


Ia membandingkan masa awal mengejar Alex dan setelah mendapatkannya. Pijar-pijar di hati saat itu tidak terasa seperti sekarang ini. Dulu yang ada hanyalah ambisi dan obsesi untuk memiliki, sehingga apa yang dilakukannya di luar nalar.


"Kalau capek, bilang ya," ujar Alex saat kendaraan sudah melaju di jalanan. Hanum mengangguk seraya tersenyum, tapi dalam hatinya berkata geli. 'Kan situ yang nyetir, kalo aku yang capek tinggal tidur aja.


"Kok bisa kebetulan kerja di kantorku?" tanya Alex tiba-tiba.


Air minum yang baru saja masuk ke dalam mulut Hanum, hampir saja tumpah keluar mendengar pertanyaan suaminya. Lupa atau tidak tahu kah suaminya itu, jika alasan satu-satunya ia pergi ke kota dan memaksa bekerja di sana, hanya karena ingin selalu dekat dengan pria itu.


"Iya, kok bisa ya?" Hanum memilih berbohong untuk sementara waktu guna menjaga harga dirinya.


"Waktu itu kamu mohon-mohon supaya diterima kerja juga kan?" tanya Alex lagi.


Hanum sudah merasa gerah dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Alex. Kalau bisa turun di tengah jalan, mungkin dari tadi ia sudah melompat keluar dari mobil.


...❤❤...


Lanjut lagi malam yaaa, ditunggu ya bestie 😘